Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses internalisasi nilai Tawassuth (moderat) dan Tasamuh (toleran) melalui integrasi Kurikulum Merdeka di SMA Al-Atiqiyah Sukabumi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus intrinsik. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif pasif, wawancara mendalam, dan dokumentasi dengan melibatkan kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, guru, serta siswa sebagai informan. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan menggunakan Teori Praktik Sosial Pierre Bourdieu sebagai landasan analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa internalisasi nilai dilaksanakan melalui strategi integrasi ganda (dual-integration strategy) yang menghubungkan pembelajaran intrakurikuler dengan kegiatan kokurikuler melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Pembiasaan budaya keagamaan yang berlangsung secara konsisten di lingkungan sekolah terbukti mampu membentuk habitus moderasi serta memperkuat ketahanan kognitif peserta didik terhadap narasi keagamaan yang ekstrem. Meskipun menghadapi tantangan berupa perbedaan kompetensi pedagogis guru dan pengaruh algoritma media sosial, sekolah mampu mengatasinya melalui strategi manajemen adaptif, antara lain penguatan dakwah kreatif berbasis digital, peningkatan kapasitas guru melalui lokakarya, serta pengembangan modul proyek berbasis nilai-nilai Aswaja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Kurikulum Merdeka memiliki potensi sebagai instrumen strategis untuk mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama secara sistematis dalam pendidikan menengah.