Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

ANALISIS KEAKURATAN KODE DIAGNOSIS UTAMA PADA KASUS CEDERA BERDASARKAN ICD-10 DI RS X KOTA PADANG TAHUN 2025 Jihan Desvira; Nurul Fitri Khumaira; Sayati Mandia; Yastori Yastori; Shaola Syafrullah Kader; Radias Zasra
Iris Journal of Health Information Management Vol 6 No 1 (2026): Iris Journal of Health Information Management (IJHIMa)
Publisher : AKADEMI PEREKAM DAN INFORMASI KESEHATAN (APIKES) IRIS PADANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61723/ijhima.v6i1.149

Abstract

Keakuratan kode diagnosis merupakan indikator mutu rekam medis yang penting dalam penyediaan data morbiditas dan pelaporan rumah sakit. Penelitian ini bertujuan menganalisis keakuratan kode diagnosis utama kasus cedera berdasarkan ICD-10 di Unit Rawat Inap Padang Hospital Tahun 2025 menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan observasional terhadap 83 rekam medis yang dipilih secara simple random sampling dari 506 populasi. Analisis dilakukan dengan membandingkan kode diagnosis yang digunakan dengan pedoman ICD-10. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok kasus cedera terbanyak berada pada blok S60-S69 (Cedera pergelangan tangan dan tangan) sebanyak 23 kasus (27,71%), sedangkan yang paling sedikit berada pada blok S30-S39 (Cedera perut, punggung bawah, dan panggul) sebanyak 2 kasus (2,41%). Tingkat keakuratan kode diagnosis utama kasus cedera sebesar 24% (20 dokumen), sedangkan ketidakakuratan mencapai 76% (63 dokumen). Ketidakakuratan paling banyak disebabkan oleh kesalahan penggunaan karakter ke-5 pada kasus fraktur, yang dipengaruhi oleh penyesuaian pengodean terhadap regulasi klaim INA-CBGs yang tidak selalu mensyaratkan karakter ke-5 di RS Padang, pemilihan kode berdasarkan lokasi dan jenis cedera, serta penggunaan kode cedera pada kasus perawatan lanjutan pasca operasi. Dapat disimpulkan bahwa keakuratan kode diagnosis utama kasus cedera berdasarkan ICD-10 di Padang Hospital Tahun 2025 masih rendah jika dikaji menggunakan pedoman ICD-10, sehingga diperlukan peningkatan kompetensi koder, perbaikan dokumentasi klinis, dan optimalisasi koordinasi antara dokter dan petugas rekam medis untuk meningkatkan kualitas data morbiditas rumah sakit.