Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Teater kekejaman kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG) pada pemberitaan penangkapan kepala BGN Dadan Hindayana di media Kompas.com pada bulan Juni 2026 terkait korupsi BGN: Perspektif Jacques Derrida Farhan Ramadhan Maulana; Fathan Hazami; Nabil Athaillah Saifani; Rifma Ghulam Dzaljad
AL-MUNAWWIR: Jurnal Komunikasi, Pendidikan, & Syari'ah Vol. 2 No. 2 (2026): Al-Munawwir: Jurnal Komunikasi, Pendidikan, & Syari'ah
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jkps.v2i2.2302

Abstract

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu kebijakan strategis pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi masyarakat melalui Badan Gizi Nasional (BGN). Namun, munculnya kasus dugaan korupsi yang melibatkan Kepala BGN pada Juni 2026 memunculkan berbagai interpretasi kritis terhadap implementasi kebijakan tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi makna dalam pemberitaan Kompas.com mengenai penangkapan Kepala BGN terkait dugaan korupsi MBG melalui perspektif dekonstruksi Jacques Derrida. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis teks dekonstruksi. Data penelitian berupa berita-berita Kompas.com yang membahas kasus dugaan korupsi BGN selama Juni 2026. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi oposisi biner, kontradiksi makna, jejak (trace), différance, dan logosentrisme yang muncul dalam teks pemberitaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberitaan Kompas.com tidak hanya merepresentasikan kasus korupsi sebagai peristiwa hukum, tetapi juga membuka ruang pembacaan kritis terhadap narasi resmi negara mengenai kesejahteraan dan kepedulian sosial. Melalui proses dekonstruksi ditemukan adanya ketegangan makna antara idealitas program MBG sebagai instrumen pemenuhan gizi masyarakat dengan realitas praktik birokrasi yang diwarnai dugaan penyimpangan. Penelitian ini menunjukkan bahwa makna kebijakan publik tidak pernah bersifat tunggal dan final, melainkan selalu terbuka terhadap berbagai kemungkinan interpretasi yang diproduksi melalui praktik media.