Penelitian ini bertujuan menganalisis cara Arcisu, produsen apparel dan tas berbasis serat alam di Indonesia, merepresentasikan nilai keberlanjutan serta kearifan lokal melalui identitas visual merek. Fokus kajian mencakup logo, palet warna, tipografi, ilustrasi dan fotografi, tekstur material, serta kemasan produk yang tampil pada kanal digital Arcisu. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan analisis semiotika Roland Barthes pada tingkat denotasi, konotasi, dan mitos. Data primer diperoleh melalui observasi visual dan dokumentasi konten pada situs web serta media sosial resmi selama Oktober 2025 sampai Januari 2026. Survei pendukung melibatkan 20 responden berusia 18 sampai 25 tahun yang dipilih secara purposif untuk menilai keterbacaan pesan keberlanjutan dan unsur budaya lokal. Hasil analisis menunjukkan bahwa material dan tekstur menjadi elemen paling dominan sebesar 35 persen, diikuti palet warna natural sebesar 30 persen dan ilustrasi atau fotografi sebesar 20 persen. Sebanyak 80 persen responden menyatakan unsur kearifan lokal terlihat jelas, 15 persen menilai cukup terlihat, dan 5 persen menilai kurang terlihat. Tekstur goni, warna bumi, pencahayaan natural, serta aksen batik dan motif Nusantara membentuk asosiasi terhadap kejujuran material, praktik kerajinan, tanggung jawab ekologis, dan identitas budaya Indonesia. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa persepsi audiens mendukung pembacaan semiotik, meskipun jumlah responden yang terbatas membuat hasil survei tidak dimaksudkan untuk generalisasi statistik. Identitas visual Arcisu berfungsi strategis sebagai penghubung antara nilai lingkungan, warisan lokal, dan diferensiasi merek. Penelitian ini merekomendasikan konsistensi penerapan logo, transparansi informasi material, dan penguatan narasi proses produksi agar komunikasi keberlanjutan tetap autentik serta tidak berhenti pada kesan visual semata.