Diana Nabilah
Sebelas Maret University

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Konflik Sosial dalam Film-Film Pendek Bertema Kehidupan Usia Sekolah Karya Paniradya Kaistimewan   Diana Nabilah; Rahmat Rahmat; Dewi Pangestu Said
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Dua (2) Negara: Indonesia dan Turki
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/8ndxzv87

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dinamika konflik sosial dalam tiga film pendek karya Paniradya Kaistimewan, yaitu Brambang Apus, Memedi Manuk, dan Satrio, dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi dokumentasi melalui pengamatan dialog dan adegan film. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles et al. yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh konflik sosial yang ditemukan termasuk dalam kategori konflik pribadi menurut Soerjono Soekanto. Konflik tersebut termanifestasi dalam bentuk pertentangan verbal, perundungan, tindakan manipulatif, hingga kekerasan fisik. Konflik juga berkembang secara bertahap dari intensitas rendah hingga tinggi yang dipengaruhi oleh komunikasi yang tidak efektif, sikap defensif, rendahnya empati, serta tekanan kelompok. Dari 15 data yang teridentifikasi, film Brambang Apus menampilkan 6 data konflik, Memedi Manuk 5 data, dan Satrio 4 data, dengan intensitas yang meningkat sejalan dengan jenjang pendidikan tokoh, mulai dari pertengkaran verbal antarsiswa sekolah dasar, perundungan tersembunyi pada siswa sekolah menengah pertama, hingga perencanaan kekerasan kolektif pada siswa sekolah menengah atas. Ketiga film merepresentasikan dinamika konflik sosial pada usia sekolah yang tidak hanya berkaitan dengan aspek sosial dan emosional, tetapi juga memperlihatkan kecenderungan melemahnya nilai kerukunan, empati, dan unggah-ungguh dalam relasi sosial. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan keterampilan komunikasi, pengendalian emosi, serta internalisasi nilai empati dan tata krama sebagai upaya preventif dalam menciptakan interaksi sosial yang lebih kondusif di lingkungan pendidikan.