Kajian mengenai tradisi Peh Cun pada masyarakat Tionghoa Benteng di Sungai Cisadane, Tangerang, sejauh ini masih terbatas pada aspek simbolis, historis, dan pelestarian ritual semata. Terdapat kesenjangan akademis mengenai bagaimana nilai dan simbol tradisi tersebut dikomunikasikan, ditafsirkan, serta dinegosiasikan oleh para aktor dari latar belakang etnis dan agama yang berbeda di tengah lingkungan masyarakat yang makin multicultural Keberlangsungan tradisi lokal di tengah masyarakat majemuk tidak hanya bergantung pada pewarisan internal, melainkan pada kemampuan tradisi tersebut untuk beradaptasi, berinteraksi, dan memperoleh pemaknaan bersama dalam ruang perjumpaan lintas budaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk komunikasi antarbudaya, pemaknaan simbol/praktik tradisi, serta proses negosiasi dan pemaknaan kembali tradisi Peh Cun antara masyarakat Tionghoa Benteng dan warga lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Etnografi dipilih karena mampu menguraikan secara mendalam (thick description) praktik komunikasi, sistem simbol, interaksi ritual, dan konteks alamiah kehidupan sosial masyarakat Tionghoa Benteng di lapangan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam terhadap 6 informan kunci (sesepuh adat, panitia, pendayung, generasi muda, dan warga non-Tionghoa), serta dokumentasi. Temuan menunjukkan bahwa Peh Cun berfungsi sebagai arena perjumpaan antarbudaya (cross-cultural encounter space) melalui saluran komunikasi taktis kinesik (tambur perahu naga), komunikasi organisasional, silaturahmi komunal (hantaran bacang), media digital, serta interaksi publik yang inklusif (Lomba Tangkap Bebek). Simbol-simbol tradisi memiliki makna ganda (multi-layered), yakni makna sakral transendental bagi warga Tionghoa Benteng (emic) dan makna sosial hiburan yang mempererat toleransi bagi warga non-Tionghoa (etic). Negosiasi makna berlangsung seimbang melalui strategi pemertahanan pakem sakral (retention), penyesuaian tata kelola formal (adaptation), penterjemahan budaya digital oleh generasi muda, serta penguatan inklusivitas Pelestarian tradisi Peh Cun tidak dicapai melalui pemeliharaan bentuk ritual yang kaku atau tertutup, melainkan melalui konsep “Negosiasi Makna Budaya Berbasis Perjumpaan Antarbudaya”, di mana nilai inti (core value) sakral tetap dipertahankan sementara strategi komunikasinya disesuaikan secara dinamis bersama masyarakat multikultural.