Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Strategi Komunikasi Pemasaran Humanis Brand RUCAS di tengah Fenomena Kejenuhan Iklan Digital Media Sosial Sello Satrio; Widhia Seni Handayani
CONVERSE Journal Communication Science Vol. 3 No. 1 (2026): July
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/converse.v3i1.6219

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi pemasaran berpusat pada manusia (human centric marketing) yang diterapkan oleh merek streetwear lokal, RUCAS, dalam memitigasi kejenuhan iklan digital (ad fatigue) serta membangun loyalitas konsumen yang kuat. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Netnografi, imersi mendalam dan ekstraksi data dilakukan pada ekosistem digital RUCAS di Platform media sosial TikTok. Data penelitian terdiri dari arsip interaksi tekstual, konten multimedia, dan perilaku pasar nyata yang divalidasi melalui teknik triangulasi siber, data penelitian dilakukan sejak 28 Febuari hingga 15 Juli 2026 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa RUCAS berhasil mengatasi resistensi digital dengan bertransformasi menjadi human like brand yang memenuhi dimensi fisik, intelek, sosial, emosional, dan moral. RUCAS secara konsisten memadukan strategi kelangkaan produk (scarcity marketing) dengan kehangatan komunikasi dua arah, pelibatan audiens sebagai co creator, serta transparansi radikal pemilik merek saat menghadapi kendala operasional. Dinamika ini memicu ilusi resiprositas digital dan membentuk komunitas siber eksklusif "Rucas Warriors". Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis baru dalam studi komunikasi bisnis melalui konsep Humanistic Scarcity dan Vulnerability Paradigm, yang membuktikan bahwa pengakuan atas keterbatasan organik dan praktik autentisitas di ranah digital mampu meningkatkan kepercayaan merek dan modal sosial.
Negosisasi Makna Budaya Dalam Tradisi Peh Cun: Studi Komunikasi Antar Budaya Tionghoa Benteng di Tangerang Tia Nurapriyanti; Widhia Seni Handayani; Sello Satrio
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 5 No. 2 (2026): September 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v5i2.9189

Abstract

Kajian mengenai tradisi Peh Cun pada masyarakat Tionghoa Benteng di Sungai Cisadane, Tangerang, sejauh ini masih terbatas pada aspek simbolis, historis, dan pelestarian ritual semata. Terdapat kesenjangan akademis mengenai bagaimana nilai dan simbol tradisi tersebut dikomunikasikan, ditafsirkan, serta dinegosiasikan oleh para aktor dari latar belakang etnis dan agama yang berbeda di tengah lingkungan masyarakat yang makin multicultural Keberlangsungan tradisi lokal di tengah masyarakat majemuk tidak hanya bergantung pada pewarisan internal, melainkan pada kemampuan tradisi tersebut untuk beradaptasi, berinteraksi, dan memperoleh pemaknaan bersama dalam ruang perjumpaan lintas budaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk komunikasi antarbudaya, pemaknaan simbol/praktik tradisi, serta proses negosiasi dan pemaknaan kembali tradisi Peh Cun antara masyarakat Tionghoa Benteng dan warga lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Etnografi dipilih karena mampu menguraikan secara mendalam (thick description) praktik komunikasi, sistem simbol, interaksi ritual, dan konteks alamiah kehidupan sosial masyarakat Tionghoa Benteng di lapangan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam terhadap 6 informan kunci (sesepuh adat, panitia, pendayung, generasi muda, dan warga non-Tionghoa), serta dokumentasi. Temuan menunjukkan bahwa Peh Cun berfungsi sebagai arena perjumpaan antarbudaya (cross-cultural encounter space) melalui saluran komunikasi taktis kinesik (tambur perahu naga), komunikasi organisasional, silaturahmi komunal (hantaran bacang), media digital, serta interaksi publik yang inklusif (Lomba Tangkap Bebek). Simbol-simbol tradisi memiliki makna ganda (multi-layered), yakni makna sakral transendental bagi warga Tionghoa Benteng (emic) dan makna sosial hiburan yang mempererat toleransi bagi warga non-Tionghoa (etic). Negosiasi makna berlangsung seimbang melalui strategi pemertahanan pakem sakral (retention), penyesuaian tata kelola formal (adaptation), penterjemahan budaya digital oleh generasi muda, serta penguatan inklusivitas Pelestarian tradisi Peh Cun tidak dicapai melalui pemeliharaan bentuk ritual yang kaku atau tertutup, melainkan melalui konsep “Negosiasi Makna Budaya Berbasis Perjumpaan Antarbudaya”, di mana nilai inti (core value) sakral tetap dipertahankan sementara strategi komunikasinya disesuaikan secara dinamis bersama masyarakat multikultural.