Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

DINAMIKA TRADISI BERGURU MENGAJI DI TENGAH FENOMENA PUTUS MENGAJI PADA REMAJA MASYARAKAT LEMBAK BENGKULU Nelly Marhayati; Lailatul Badriyah; Novia Ayu Lestari; Sinta Safitri; Mhd Akhyar Harahap; Nadia Asmanti Putri; Aisyah Primadanti; Frizcha; Muhammad Abdul Yunus; Muhammad Andra Utama; Annida Nadia Alfauziah; Widia Bella Pisra
VARIABLE RESEARCH JOURNAL Vol. 3 No. 03 (2026): JULI 2026
Publisher : Media Inovasi Pendidikan dan Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menganalisis dinamika tradisi berguru ngaji pada masyarakat Lembak di Kota Bengkulu, dengan fokus pada keberlanjutan pendidikan keagamaan berbasis komunitas dan fenomena putus mengaji pada remaja. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam terhadap remaja aktif, remaja yang telah berhenti, serta guru mengaji. Data dianalisis secara tematik melalui reduksi, pengkodean, dan penentuan tema. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi berguru ngaji masih bertahan sebagai sistem pendidikan keagamaan berbasis relasi personal guru–murid yang dibangun atas dasar keikhlasan, penghormatan, dan kedekatan emosional. Aktivitas mengaji juga berfungsi sebagai ruang sosial yang memperkuat interaksi dan solidaritas teman sebaya. Namun, ditemukan fenomena putus mengaji yang dipengaruhi oleh melemahnya ikatan kelompok sebaya serta meningkatnya kompetisi aktivitas remaja, terutama tuntutan pendidikan formal dan kegiatan lain. Secara teoretis, analisis menggunakan perspektif Pierre Bourdieu melalui konsep field, habitus, serta modal sosial dan budaya. Temuan menunjukkan bahwa keberlanjutan tradisi sangat ditentukan oleh kekuatan modal sosial, khususnya jaringan teman sebaya. Pelemahan modal sosial berdampak pada menurunnya habitus keagamaan dan partisipasi remaja dalam tradisi berguru. Penelitian ini menyimpulkan bahwa putus mengaji bukan disebabkan oleh penolakan nilai agama, melainkan oleh perubahan struktur sosial dan dinamika aktivitas remaja. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan jejaring sosial dalam pendidikan keagamaan berbasis komunitas untuk menjaga keberlanjutan tradisi dan reproduksi nilai budaya lokal.