Arfan Ohorella
Departemen Sanitasi, Jurusan Kesehatan Lingkungan, Poltekkes Kemenkes Maluku, Ambon, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kualitas Fisik dan Angka Kuman Udara Pada Ruang Pelayanan dan Ruang Tunggu Puskesmas Nania, Kota Ambon Arfan Ohorella; Damayanti Sima Sima Sohilauw; M. Fadly Kaliky
Nursing Care and Health Technology Journal (NCHAT) Vol. 6 No. 2 (2026): Nursing and Health Care Technology-July to December Period
Publisher : Progres Ilmiah Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56742/nchat.v6i2.277

Abstract

Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) merupakan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dengan tingkat hunian dan aktivitas yang tinggi, sehingga berpotensi mengalami penurunan kualitas udara dalam ruangan dan meningkatkan risiko penularan penyakit berbasis udara. Perbedaan fungsi ruang, kepadatan penghuni, dan sistem ventilasi dapat memengaruhi kualitas fisik dan mikrobiologis udara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan kualitas fisik udara (suhu dan kelembaban) serta angka kuman udara pada ruang poliklinik umum, laboratorium, dan ruang tunggu di Puskesmas Nania, Kota Ambon. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan teknik grab sampling pada 13 titik pengukuran. Angka kuman udara diperiksa menggunakan air sampler dan dinyatakan dalam CFU/m³, sedangkan suhu dan kelembaban diukur menggunakan thermohygrometer. Hasil pengukuran dibandingkan dengan baku mutu kesehatan lingkungan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2023. Hasil penelitian dikatahui Angka kuman udara tertinggi ditemukan pada ruang tunggu, diikuti ruang laboratorium, dan terendah pada ruang poliklinik umum. Suhu udara seluruh ruangan memenuhi baku mutu, namun kelembaban udara pada seluruh ruangan melebihi standar yang ditetapkan. Kualitas udara dalam ruangan di Puskesmas Nania berbeda berdasarkan fungsi ruang, dengan ruang tunggu dan laboratorium memiliki risiko mikrobiologis lebih tinggi. Kelembaban udara yang tinggi menjadi faktor utama yang berkontribusi terhadap peningkatan angka kuman udara, sehingga diperlukan peningkatan ventilasi dan pengendalian kelembaban di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama.
Analisis Kepadatan dan Identifikasi Jentik Aedes spp. Berdasarkan House Index, Container Index, dan Breteau Index sebagai Indikator Risiko Demam Berdarah Dengue di Kota Ambon Kornelis Urbanus Rumselly; Arfan Ohorella; Anastasya Nurue
Nursing Care and Health Technology Journal (NCHAT) Vol. 6 No. 2 (2026): Nursing and Health Care Technology-July to December Period
Publisher : Progres Ilmiah Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56742/nchat.v6i2.308

Abstract

Surveilans entomologi melalui pengukuran House Index (HI), Container Index (CI), dan Breteau Index (BI) diperlukan untuk menggambarkan potensi risiko penularan dengue pada suatu wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kepadatan dan identifikasi jentik Aedes spp. serta menghitung nilai HI, CI, dan BI di RT 030 RW 006 Desa Passo Kecamatan Baguala Kota Ambon. Penelitian menggunakan desain deskriptif observasional dengan analisis bivariat. Sampel terdiri atas 20 rumah yang dipilih secara purposive dengan total 20 tempat penampungan air yang memenuhi kriteria observasi. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan langsung tempat penampungan air, pengambilan sampel larva, dan identifikasi morfologi menggunakan mikroskop. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square pada tingkat signifikansi 0.05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 10 dari 20 rumah (50.0%) positif jentik dengan total 57 larva yang teridentifikasi, terdiri atas 46 larva (80.7%) Aedes aegypti dan 11 larva (19.3%) Aedes albopictus. Nilai HI, CI, dan BI masing-masing sebesar 50%. Hasil uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jenis tempat penampungan air dan keberadaan jentik (p=0.371). Temuan ini menunjukkan bahwa wilayah penelitian memiliki kepadatan jentik yang relatif tinggi berdasarkan indikator entomologi dan didominasi oleh Aedes aegypti sebagai vektor utama dengue. Keberadaan jentik kemungkinan lebih dipengaruhi oleh pengelolaan tempat penampungan air dibandingkan jenis kontainer itu sendiri.