Ketidakmerataan kualitas pendidikan di daerah terpencil tidak hanya berkaitan dengan keterbatasan sarana dan prasarana, tetapi juga dengan kemampuan guru mempertahankan profesionalisme dalam kondisi geografis, sosial, dan teknologi yang terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis tantangan profesionalisme guru, strategi yang digunakan untuk menghadapinya, serta dampaknya terhadap kualitas pembelajaran di SD Negeri 3 Terusan Baguntan Raya, Kabupaten Kapuas. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur terhadap satu kepala sekolah, tiga guru, dan tiga siswa, observasi partisipatif pasif, serta dokumentasi. Keabsahan data diperiksa melalui triangulasi sumber dan teknik, sedangkan analisis dilakukan melalui pengumpulan data, reduksi, penyajian, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tantangan utama meliputi keterbatasan sarana-prasarana, akses geografis yang sulit, serta keterbatasan media dan teknologi pembelajaran. Guru merespons melalui pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar, penyesuaian metode dengan karakteristik siswa, kolaborasi antarguru, serta pengembangan kompetensi melalui pelatihan, webinar, buku, modul, dan internet ketika tersedia. Strategi tersebut menjaga keberlangsungan pembelajaran, meningkatkan keterlibatan dan motivasi siswa, serta menciptakan suasana belajar yang lebih aktif dan menyenangkan. Namun, keterbatasan fasilitas masih menyebabkan pemahaman siswa belum merata pada materi yang membutuhkan media visual. Temuan ini menegaskan bahwa profesionalisme guru berperan sebagai faktor adaptif dalam menjaga mutu pembelajaran, tetapi perlu diperkuat dengan dukungan infrastruktur dan pengembangan profesional yang berkelanjutan.