Balanting Paring merupakan pengetahuan dan keterampilan tradisional masyarakat Dayak Meratus di Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, yang berkembang dari pemanfaatan bambu sebagai sarana transportasi sungai. Pada masa lalu, lanting bambu digunakan untuk membawa hasil bumi, hasil perkebunan, dan bambu dari kawasan hulu Sungai Amandit menuju Kandangan sebagai pusat perdagangan. Perkembangan infrastruktur jalan kemudian mengurangi fungsi transportasi tersebut dan mendorong transformasi lanting menjadi aktivitas wisata yang dikenal sebagai balarut lanting. Artikel ini bertujuan menganalisis Balanting Paring sebagai teknologi transportasi lokal, sistem pengetahuan ekologis, serta warisan budaya yang mengalami transformasi fungsi. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan perspektif kajian budaya dan pariwisata. Data dianalisis melalui reduksi, interpretasi, dan penarikan kesimpulan berdasarkan informasi sejarah penggunaan lanting, fungsi ekonomi dan transportasi, perubahan rute, struktur lanting, istilah lokal, serta perkembangan balarut lanting. Hasil kajian menunjukkan bahwa Balanting Paring mencakup pengetahuan mengenai pemilihan Paring Basar, klasifikasi lanting, manyirat, sumawi, panggar, penggunaan undanan dan pinanjak, serta keterampilan juki dalam membaca karakter arus dan gelombang Sungai Amandit. Transformasi dari transportasi tradisional menjadi wisata menunjukkan kemampuan budaya lokal beradaptasi terhadap perubahan infrastruktur, ekonomi, dan pariwisata. Oleh karena itu, pelestarian Balanting Paring perlu diarahkan bukan hanya pada bentuk lanting sebagai objek wisata, tetapi juga pada pengetahuan, keterampilan, istilah, dan pengalaman ekologis yang melatarbelakanginya.