Dewi Rukmini Sulistiawati
SMPN 2 Sungai Raya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

BALANTING PARING SUKU DAYAK MERATUS LOKSADO SEBAGAI WARISAN BUDAYA TRANSPORTASI TRADISIONAL SUNGAI BERBASIS KEARIFAN LOKAL KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN Muhammad Ferry Fauzan; Dewi Rukmini Sulistiawati; Rahmani
Cangkal : Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora Vol. 2 No. 1 (2026): Mei - Oktober 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Literasi Borneo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Balanting Paring merupakan pengetahuan dan keterampilan tradisional masyarakat Dayak Meratus di Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, yang berkembang dari pemanfaatan bambu sebagai sarana transportasi sungai. Pada masa lalu, lanting bambu digunakan untuk membawa hasil bumi, hasil perkebunan, dan bambu dari kawasan hulu Sungai Amandit menuju Kandangan sebagai pusat perdagangan. Perkembangan infrastruktur jalan kemudian mengurangi fungsi transportasi tersebut dan mendorong transformasi lanting menjadi aktivitas wisata yang dikenal sebagai balarut lanting. Artikel ini bertujuan menganalisis Balanting Paring sebagai teknologi transportasi lokal, sistem pengetahuan ekologis, serta warisan budaya yang mengalami transformasi fungsi. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan perspektif kajian budaya dan pariwisata. Data dianalisis melalui reduksi, interpretasi, dan penarikan kesimpulan berdasarkan informasi sejarah penggunaan lanting, fungsi ekonomi dan transportasi, perubahan rute, struktur lanting, istilah lokal, serta perkembangan balarut lanting. Hasil kajian menunjukkan bahwa Balanting Paring mencakup pengetahuan mengenai pemilihan Paring Basar, klasifikasi lanting, manyirat, sumawi, panggar, penggunaan undanan dan pinanjak, serta keterampilan juki dalam membaca karakter arus dan gelombang Sungai Amandit. Transformasi dari transportasi tradisional menjadi wisata menunjukkan kemampuan budaya lokal beradaptasi terhadap perubahan infrastruktur, ekonomi, dan pariwisata. Oleh karena itu, pelestarian Balanting Paring perlu diarahkan bukan hanya pada bentuk lanting sebagai objek wisata, tetapi juga pada pengetahuan, keterampilan, istilah, dan pengalaman ekologis yang melatarbelakanginya.
MAHUMBAL WARISAN KULINER TRADISIONAL SUKU DAYAK MERATUS LOKSADO BERBASIS KEAFIFAN LOKAL DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN Muhammad Ferry Fauzan; Dewi Rukmini Sulistiawati; Rahmani
Cangkal : Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora Vol. 2 No. 1 (2026): Mei - Oktober 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Literasi Borneo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mahumbal merupakan salah satu kuliner tradisional masyarakat Dayak Meratus di Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Keunikan Mahumbal terletak pada penggunaan ruas bambu sebagai media memasak yang dipadukan dengan bahan pangan, daun, dan rempah yang tersedia di lingkungan sekitar. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan Mahumbal sebagai kuliner tradisional sekaligus mengkaji nilai budaya, sosial, ekologis, dan potensinya sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan perspektif antropologi budaya dan etnografi melalui studi pustaka terhadap buku, jurnal ilmiah, dokumen pemerintah, serta artikel yang berkaitan dengan Dayak Meratus dan kuliner tradisional. Hasil kajian menunjukkan bahwa Mahumbal tidak hanya berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga merepresentasikan pengetahuan lokal mengenai pemilihan bahan, pemanfaatan bambu, penggunaan daun dan rempah, serta teknik pengolahan dengan panas api. Praktik tersebut memperlihatkan hubungan erat antara manusia, pangan, dan lingkungan Pegunungan Meratus. Mahumbal juga memiliki nilai kebersamaan, gotong royong, penghormatan terhadap alam, serta pewarisan pengetahuan antargenerasi. Dalam perkembangannya, Mahumbal mengalami adaptasi dan mulai diperkenalkan melalui kegiatan festival budaya. Oleh karena itu, pelestarian Mahumbal perlu dilakukan melalui dokumentasi, pendidikan budaya, penguatan peran masyarakat, dan pengembangan wisata gastronomi yang tetap menghargai pengetahuan lokal.