Pemberdayaan masyarakat merupakan strategi penting untuk meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal. BUMDes Bintang Mekar Desa Medan Krio menyelenggarakan program pelatihan membatik sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat. Namun, pelaksanaan program masih menghadapi berbagai kendala, seperti belum dilakukannya pemetaan potensi dan kebutuhan masyarakat, pelaksanaan program yang belum konsisten, keterampilan peserta yang belum merata, serta belum optimalnya dukungan terhadap keberlanjutan hasil pelatihan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi program pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan membatik menggunakan model ADKAR (Awareness, Desire, Knowledge, Ability, Reinforcement). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap pengelola BUMDes, pemerintah desa, instruktur, dan peserta pelatihan. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan uji keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter awareness belum optimal karena BUMDes belum melakukan pemetaan potensi dan kebutuhan masyarakat sebagai dasar penyusunan program. Parameter desire juga belum optimal karena pelaksanaan program belum konsisten dan belum sepenuhnya sesuai dengan standar operasional yang ditetapkan. Sementara itu, parameter knowledge telah diterapkan dengan baik, ditunjukkan melalui perencanaan program yang sistematis, penyediaan tenaga pelatih yang kompeten, serta koordinasi dengan berbagai pihak sebelum pelaksanaan program. Adapun parameter ability belum optimal karena belum terdapat mekanisme untuk memastikan peserta benar-benar menguasai keterampilan membatik. Selain itu, parameter reinforcement juga belum optimal karena BUMDes belum mampu menyediakan dukungan yang memungkinkan keterampilan peserta diterapkan secara berkelanjutan dalam kegiatan ekonomi.