Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

PERBANDINGAN RISIKO SUKUK DAN OBLIGASI KONVENSIONAL PERSPEKTIF FIQIH KONTEMPORER Faridatuz Zakiyah
Dinar : Jurnal Prodi Ekonomi Syariah Vol 1 No 1 (2017): September
Publisher : el Hakim Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertumbuhan sukuk yang semakin meningkat haruslah dilihat sebagai perkembangan instrumen Ekonomi Islam bagian dari penerapan perspektif Islam dalam bidang Ekonomi. Sukuk merupakan obligasi yang berbasis Shar??ah Islam, atau obligasi Syariah, dan tentunya sangat berbeda dengan obligasi konvensional. Perbedaan itu cukup banyak, diantaranya dari segi risiko dan mashlahahnya. Sukuk dan obligasi konvensional merupakan salah satu penyertaan yang di perdagangkan di pasar sekunder (Bursa Efek Indonesia).  Namun adakalanya banyak yang masih bingung dengan perbedaan risiko antara sukuk dan obligasi konvensional. Hal tersebut dikarenakan adanya perbedaan antara teori investasi sukuk dan obligasi konvensional yang menyatakan bahwa high risk high return.eori tersebut menyatakan bahwa obligasi memiliki keuntungan yang tinggi tetapi risikonya pun juga tinggi, sedangkan sukuk merupakan instrumen investasi yang memiliki imbal hasil yang lebih tinggi dan risiko yang lebih rendah. Paper ini akan membahas bagian per bagian risiko sukuk dan obligasi konvensional.
Perbandingan kinerja keuangan Sukuk îjarâh dan obligasi konvensional yang listing di bursa efek indonesia Faridatuz Zakiyah
Dinar : Jurnal Prodi Ekonomi Syariah Vol 5 No 1 (2021): September
Publisher : el Hakim Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertumbuhan sukuk yang semakin meningkat haruslah dilihat sebagai perkembangan instrumen Ekonomi Islam bagian dari penerapan perspektif Islam dalam bidang Ekonomi. Sukuk merupakan obligasi yang berbasis Sharî‘ah Islam, atau obligasi Syariah, dan tentunya sangat berbeda dengan obligasi konvensional. Perbedaan itu cukup banyak, diantaranya dari segi kinerja keuangannya. Sukuk dan obligasi konvensional merupakan salah satu penyertaan yang di perdagangkan di pasar sekunder (Bursa Efek Indonesia). Namun adakalanya banyak yang masih bingung dengan perbedaan antara sukuk dan obligasi konvensional, umumnya menganggap bahwa keduanya sama. Hal tersebut dikarenakan adanya perbedaan antara teori investasi sukuk dan obligasi konvensional yang menyatakan bahwa high risk high return.[1] Teori tersebut menyatakan bahwa obligasi memiliki keuntungan yang tinggi tetapi risikonya pun juga tinggi, sedangkan sukuk merupakan instrumen investasi yang memiliki imbal hasil yang lebih tinggi dan risiko yang lebih rendah. Penelitian ini akan membandingkan kinerja keuangan sukuk îjarâh dan obligasi konvensional periode tahun 2009-2013. Kinerja keuangan masing-masing dilihat dari Nominal Yield, Yield to Maturity, Current Yield dan Realized Yield. Data akan dianalisis dengan analisis statistik independent sample t-test menggunakan program Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) 20.00 for windows. Hasil penelitian akhir, diharapkan dapat membandingkan lebih baik mana antara kinerja keuangan sukuk îjarâh dengan obligasi konvensional. Sehingga, hasil penelitian ini nanti dapat bermanfaat dalam memberikan warning atau referensi kepada perusahaan yang kinerjanya lebih buruk, untuk melakukan keputusan dan penanggulangan serta evaluasi yang benar. Begitu juga untuk perusahaan yang kinerjanya baik, harus tetap mempertahankan dan menaikkan rating-nya agar lebih baik lagi. [1] Affandi Wahdy, Perbandingan Resiko Dimbal Hasil Sukuk dan Obligasi Konvensional di Pasar Sekunder: Studi Kasus di Bursa Efek Surabaya 2004-2006, Tesis S2. Universitas Indonesia
Efektivitas Program Pemberdayaan Perempuan Miskin pada Koperasi Baytul Ikhtiar (BAIK) Bogor Faridatuz Zakiyah
Relevance: Journal of Management and Business Vol. 1 No. 2 (2018)
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (734.967 KB) | DOI: 10.22515/relevance.v1i2.1398

Abstract

Giving roles, opportunities and means for women to be empowered in all things, including in the economy is one of the efforts to alleviate poverty. The poor women's empowerment program conducted by the Koperasi Baytul Ikhtiar (BAIK) has helped many poor women in Bogor. This is in line with the Koperasi’s goal of building community and building a national economic order by empowering and prospering members of the cooperative which consists of poor women. This study aims to determine the effectiveness of poor women's empowerment programs that have been carried out by Koperasi Baytul Ikhtiar Bogor. Effectiveness is analyzed by looking at the effect of participation on effectiveness which is moderated by the performance of the facilitator. The study was conducted in Tamansari, West Bogor. This quantitative research was carried out by distributing 114 questionnaires, but only 62 were analyzed because others were missing. Data analysis using Partial Least Square with smartPLS 2.0 software. The results of the study indicate that participation which consists of the planning stage does not directly or indirectly affect effectiveness. The participation of both stages of the implementation has a direct effect and does not have an indirect effect through the performance of the facilitator on effectiveness. While the third participation, the evaluation phase does not have a direct effect but affects the effectiveness through the performance of the facilitator. For participation which consists of the planning stage, the implementation phase and evaluation phase indirectly influence the effectiveness through the performance of the facilitator with the highest score among others. This shows that the performance of Koperasi Baytul Ikhtiar Bogor employees has a strong influence on the end result or effectiveness of the empowerment program for poor women members of the Koperasi Baytul Ikhtiar (BAIK) Bogor.
PEMBERDAYAAN EKONOMI UMAT BERBASIS MASJID (Analisis Wacana Konten Instagram Masjid Nurul Ashri Yogyakarta) Faridatuz Zakiyah; Mohammad Salahuddin Al-Ayyuubi
Dinar : Jurnal Prodi Ekonomi Syariah Vol 8 No 1 (2024): September
Publisher : el Hakim Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61088/dinar.v8i1.795

Abstract

Walaupun masjid sejak dulu memiliki potensi peranan strategis sebagai tempat ibadah sekaligus pusat pemberdayaan umat, tetapi tidak semua masjid melakukannya. Sementara itu, masjid yang telah aktif melakukan program pemberdayaan pun tidak semuanya mengoptimalkan penggunaan media sosial dalam menyukseskan wacana dan tindakan pemberdayaannya. Dengan pendekatan analisis wacana, penelitian ini mengkaji konten akun Instagram @masjidnurulashri yang menampilkan wacana pemberdayaan ekonomi umat sehingga bisa diidentifikasi tema dominan, strategi komunikasi, dan implikasi wacana pemberdayaan ekonomi umat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Masjid Nurul Ashri berhasil membangun wacana pemberdayaan ekonomi melalui tema-tema seperti dukungan kepada petani dan peternak lokal, pemberdayaan UMKM, serta sedekah produktif. Strategi komunikasi yang efektif, seperti penggunaan visual menarik, bahasa persuasif, dan interaksi aktif dengan pengikut, turut meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat. Implikasinya, program yang baik ditunjang strategi yang baik membuat wacana pemberdayaan ekonomi diterima secara luas ditandai dengan kenaikan follower secara signifikan dan dominasi komentar positif dari warganet. Penelitian ini menyimpulkan bahwa media sosial, jika dikelola dengan baik, dapat menjadi katalisator pemberdayaan ekonomi berbasis masjid, meskipun terdapat tantangan dalam literasi digital dan keterbatasan algoritma platform.
The Relevance of ibn Khaldun’s Concept of Business Ethics to the SDGs Faridatuz Zakiyah; Mohammad Salahuddin Al-Ayyuubi
Istithmar Vol. 9 No. 1 (2025): Istithmar : Jurnal Studi Ekonomi Syariah
Publisher : Program Studi Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Syekh Wasil Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/istithmar.v9i1.2555

Abstract

Menghadapi krisis etika sistemik dan ketimpangan yang menjadi ciri ekonomi global kontemporer, pemikiran klasik menawarkan kebijaksanaan alternatif untuk mewujudkan tatanan yang lebih adil dan berkelanjutan. Oleh karena itu, penelitian ini menyelidiki etika bisnis yang dipikirkan Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya sebagai respon terhadap krisis etika dalam ekonomi global dan relevansinya dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Dengan menggunakan metode studi literatur kualitatif melalui analisis konten, penelitian ini menemukan bahwa prinsip-prinsip etika Khaldunian—seperti keadilan (al-’adl), kepercayaan (amanah), transparansi, dan anti-eksploitasi—tidak hanya normatif tetapi merupakan variabel fungsional yang secara kausal menentukan keberlanjutan suatu peradaban (‘umran). Analisis ini mengungkapkan keselarasan mendasar antara kerangka kerja Khaldun dan target spesifik SDG 8 (Pekerjaan yang Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 10 (Pengurangan Ketidaksetaraan), dan SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Institusi yang Kuat). Penelitian ini menyimpulkan bahwa paradigma holistik Ibnu Khaldun, yang mengintegrasikan ekonomi dengan etika dan tata kelola, menawarkan landasan filosofis yang kuat dan relevan untuk merancang kebijakan pembangunan berkelanjutan di era kontemporer.
DARI TEKS HADIS KE KONTEKS BISNIS: HERMENEUTIKA TRANSPARANSI EKONOMI Mohammad Salahuddin Al-Ayyuubi; Faridatuz Zakiyah
Al-Bayan: Journal of Hadith Studies Vol 2 No 2 (2023): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Khozinatul Ulum Blora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The rapid expansion of e-commerce in Indonesia has created a significant paradox, offering unprecedented convenience while simultaneously causing a surge in consumer disputes due to information asymmetry. This situation highlights a systemic crisis of trust, demanding a robust ethical framework. This article aims to address this ethical gap by reinterpreting the classical hadith of Hakim bin Hizam on trade transparency for the modern digital business context, demonstrating the enduring relevance of Islamic economic ethics. This library research employs an integrated hermeneutical framework, combining the classical hadith sciences of takhrij and ma’anil hadis with Fazlur Rahman’s Double Movement theory and Paul Ricoeur’s Three Worlds model. This approach facilitates a dynamic interpretation that bridges the 7th-century text with 21st-century e-commerce realities. The analysis recontextualizes key hadith concepts: physical separation (tafarruq) is interpreted as the temporal window of a return policy; lying and concealing (katamā wa kadhabā) correspond to modern information asymmetry, tadlis, and manipulative dark patterns; and the right of choice (khiyār) is actualized in marketplace features like cancellation and dispute resolution. The concept of “blessing” (barakah) is correlated with market efficiency and consumer trust. The hadith of Hakim bin Hizam is not an obsolete text but a dynamic ethical charter for the digital economy. It provides a sophisticated framework for building a more transparent, just, and sustainable e-commerce ecosystem, reframing consumer protection as a moral pursuit of barakah.
Islamic Consumption Ethics: An Analysis of the Mukbang Phenomenon on Social Media Faridatuz Zakiyah; Al-Ayyuubi, Mohammad Salahuddin
Asian Journal of Law and Islamic Finance Vol. 1 No. 2 (2025): September
Publisher : Faculty of Sharia and Islamic Economic, Universtas Annuqayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59005/alif.v1i2.1030

Abstract

The global phenomenon of mukbang (eating broadcasts), characterized by the demonstrative consumption of excessive food portions, has become a profitable digital entertainment industry. However, this practice presents a deep ethical dilemma when viewed through the lens of Islamic consumption ethics, which strongly prohibit excessive behavior (israf) and waste (tabdzir). This study aims to analyze the fundamental principles of consumption ethics in Islam (halal, thayyib, and moderation) and to critically evaluate the practice of mukbang content within this ethical framework. Furthermore, it seeks to understand the impact of the mukbang phenomenon on the consumption behavior of its audience. This research employs a qualitative descriptive method using content analysis and library research. Data was collected from existing literature, scholarly articles on Islamic ethics, and case studies of popular mukbang content on social media platforms like YouTube. The analysis reveals a fundamental conflict between mukbang practices and Islamic principles. Mukbang inherently constitutes an act of israf’(excessiveness), directly contradicting Q.S. Al-A’raf: 31. It also raises concerns regarding the thayyib (goodness) principle, as it promotes consumption patterns detrimental to health, thus conflicting with the objective of hifdz al-nafs (preservation of life). Mukbang, while profitable as entertainment, normalizes gluttony and consumerism, potentially leading to negative societal and health impacts. This study concludes that the potential harm (mafsadah) of this phenomenon outweighs its claimed benefits (maslahah). It suggests a need for ethical guidelines for content creators and consumers in the digital age.
Analisis Maqashid atas Arah Kebijakan Ekonomi Syariah Era Reformasi Indonesia Faridatuz Zakiyah; Mohammad Salahuddin Al-Ayyuubi
Jihbiz : Jurnal Ekonomi, Keuangan dan Perbankan Syariah Vol 9 No 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Raden Rahmat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33379/jihbiz.v9i2.7623

Abstract

This study comparatively analyses the direction of Islamic economic policy in Indonesia during the Reform era (1998-2024) through the framework of Maqashid al-Shari’ah. Using a qualitative literature study method with a deductive content analysis approach, this research maps the policy evolution across five presidential administrations: B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, and Joko Widodo. The findings reveal a progressive policy trajectory, shifting from a focus on fulfilling essential needs (dharuriyyat) in the early Reform era, such as establishing the legal framework for Islamic banking, to fulfilling secondary needs (hajiyyat) through institutional strengthening and comprehensive legislation, and ultimately reaching the complementary level (tahsiniyyat) with a focus on ecosystem integration, industry consolidation, and global innovations like Green Sukuk. The analysis indicates the dominance of the pillars of preserving wealth (hifz al-mal) and religion (hifz al-din), while also highlighting challenges in translating the substance of Maqashid to the operational level. The contribution of this research is to provide a Maqashid-based policy analysis model and recommendations for aligning future policies to be more holistic.
IMPLEMENTASI TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN LINGKUNGAN BERBASIS TRIPLE BOTTOM LINE DAN ETIKA BISNIS ISLAM (Studi Kasus Akuntabilitas CSR PT Lintech Duta Pratama) Faridatuz Zakiyah
Dinar : Jurnal Prodi Ekonomi Syariah Vol. 9 No. 2 (2026): Maret
Publisher : el Hakim Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61088/dinar.v9i2.904

Abstract

Fenomena pertumbuhan industri harus diseimbangkan dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Corporate Social Responsibility (CSR) pada PT Lintech Duta Pratama melalui perspektif Triple Bottom Line (TBL) dan Etika Bisnis Islam, serta mengevaluasi mekanisme akuntabilitas manajerial di balik publikasi digital perusahaan. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana perusahaan menyelaraskan tujuan profitabilitas dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Temuan menunjukkan bahwa PT Lintech telah mengintegrasikan pilar TBL (People, Planet, Profit) secara konsisten selama 18 tahun, yang dimanifestasikan sebagai bentuk sedekah perusahaan untuk mencapai kemaslahatan (falah). Namun, ditemukan tantangan pada aspek akuntabilitas administratif di tingkat penerima manfaat (RT) berupa keterlambatan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ). Studi ini mengungkapkan bahwa sinkronisasi antara nilai-nilai etika Islam (Siddiq, Amanah, Tabligh, Fathanah) dan standar keberlanjutan global menciptakan hubungan harmonis yang mendukung stabilitas operasional perusahaan. Perusahaan menjaga integritas manajerial dengan bersikap tegas-termasuk penghentian bantuan sementara bagi pihak yang tidak menyerahkan laporan-guna memastikan setiap dana tersalurkan dengan tepat.