Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PEMBERDAYAAN EKONOMI UMAT BERBASIS MASJID (Analisis Wacana Konten Instagram Masjid Nurul Ashri Yogyakarta) Faridatuz Zakiyah; Mohammad Salahuddin Al-Ayyuubi
Dinar : Jurnal Prodi Ekonomi Syariah Vol 8 No 1 (2024): September
Publisher : el Hakim Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61088/dinar.v8i1.795

Abstract

Walaupun masjid sejak dulu memiliki potensi peranan strategis sebagai tempat ibadah sekaligus pusat pemberdayaan umat, tetapi tidak semua masjid melakukannya. Sementara itu, masjid yang telah aktif melakukan program pemberdayaan pun tidak semuanya mengoptimalkan penggunaan media sosial dalam menyukseskan wacana dan tindakan pemberdayaannya. Dengan pendekatan analisis wacana, penelitian ini mengkaji konten akun Instagram @masjidnurulashri yang menampilkan wacana pemberdayaan ekonomi umat sehingga bisa diidentifikasi tema dominan, strategi komunikasi, dan implikasi wacana pemberdayaan ekonomi umat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Masjid Nurul Ashri berhasil membangun wacana pemberdayaan ekonomi melalui tema-tema seperti dukungan kepada petani dan peternak lokal, pemberdayaan UMKM, serta sedekah produktif. Strategi komunikasi yang efektif, seperti penggunaan visual menarik, bahasa persuasif, dan interaksi aktif dengan pengikut, turut meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat. Implikasinya, program yang baik ditunjang strategi yang baik membuat wacana pemberdayaan ekonomi diterima secara luas ditandai dengan kenaikan follower secara signifikan dan dominasi komentar positif dari warganet. Penelitian ini menyimpulkan bahwa media sosial, jika dikelola dengan baik, dapat menjadi katalisator pemberdayaan ekonomi berbasis masjid, meskipun terdapat tantangan dalam literasi digital dan keterbatasan algoritma platform.
Implementasi Hermeneutika Gracia dalam Studi Al-Qur’an dari PerspektifSarjana Indonesia Mohammad Salahuddin Al-Ayyuubi
Al-Dhikra Vol. 5 No. 1 (2023): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persoalan jarak ruang dan waktu antara pengarang dan pembaca yang menjadi kunci filsafat hermeneutika seringkali tidak dibaca dengan baik oleh pemerhatinya. Dari situlah pemikiran Gracia lahir. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan detail hermeneutika Gracia serta upaya para sarjana muslim Indonesia untuk menerapkan teori interpretasi Gracia dalam mengkaji Al-Qur’an. Berangkat dengan pendekatan kualitatif, dari penelitian pustaka ini dipahami bahwa hermeneutika moderat Gracia yang menekankan pada keseimbangan antara pencarian makna asal teks dan peran pembaca dalam penafsiran bisa diaplikasikan pada kedua kajian al-Qur’an dan hadis. Penggunaan teori fungsi interpretasi Gracia secara tepat dapat membantu memahami Al-Qur’an secara inklusif dan dapat berjalan harmonis dengan kaidah-kaidah penafsiran yang telah mapan dalam kajian tafsir Al-Qur’an.
The Relevance of ibn Khaldun’s Concept of Business Ethics to the SDGs Faridatuz Zakiyah; Mohammad Salahuddin Al-Ayyuubi
Istithmar Vol. 9 No. 1 (2025): Istithmar : Jurnal Studi Ekonomi Syariah
Publisher : Program Studi Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Syekh Wasil Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/istithmar.v9i1.2555

Abstract

Menghadapi krisis etika sistemik dan ketimpangan yang menjadi ciri ekonomi global kontemporer, pemikiran klasik menawarkan kebijaksanaan alternatif untuk mewujudkan tatanan yang lebih adil dan berkelanjutan. Oleh karena itu, penelitian ini menyelidiki etika bisnis yang dipikirkan Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya sebagai respon terhadap krisis etika dalam ekonomi global dan relevansinya dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Dengan menggunakan metode studi literatur kualitatif melalui analisis konten, penelitian ini menemukan bahwa prinsip-prinsip etika Khaldunian—seperti keadilan (al-’adl), kepercayaan (amanah), transparansi, dan anti-eksploitasi—tidak hanya normatif tetapi merupakan variabel fungsional yang secara kausal menentukan keberlanjutan suatu peradaban (‘umran). Analisis ini mengungkapkan keselarasan mendasar antara kerangka kerja Khaldun dan target spesifik SDG 8 (Pekerjaan yang Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 10 (Pengurangan Ketidaksetaraan), dan SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Institusi yang Kuat). Penelitian ini menyimpulkan bahwa paradigma holistik Ibnu Khaldun, yang mengintegrasikan ekonomi dengan etika dan tata kelola, menawarkan landasan filosofis yang kuat dan relevan untuk merancang kebijakan pembangunan berkelanjutan di era kontemporer.
DARI TEKS HADIS KE KONTEKS BISNIS: HERMENEUTIKA TRANSPARANSI EKONOMI Mohammad Salahuddin Al-Ayyuubi; Faridatuz Zakiyah
Al-Bayan: Journal of Hadith Studies Vol 2 No 2 (2023): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Khozinatul Ulum Blora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The rapid expansion of e-commerce in Indonesia has created a significant paradox, offering unprecedented convenience while simultaneously causing a surge in consumer disputes due to information asymmetry. This situation highlights a systemic crisis of trust, demanding a robust ethical framework. This article aims to address this ethical gap by reinterpreting the classical hadith of Hakim bin Hizam on trade transparency for the modern digital business context, demonstrating the enduring relevance of Islamic economic ethics. This library research employs an integrated hermeneutical framework, combining the classical hadith sciences of takhrij and ma’anil hadis with Fazlur Rahman’s Double Movement theory and Paul Ricoeur’s Three Worlds model. This approach facilitates a dynamic interpretation that bridges the 7th-century text with 21st-century e-commerce realities. The analysis recontextualizes key hadith concepts: physical separation (tafarruq) is interpreted as the temporal window of a return policy; lying and concealing (katamā wa kadhabā) correspond to modern information asymmetry, tadlis, and manipulative dark patterns; and the right of choice (khiyār) is actualized in marketplace features like cancellation and dispute resolution. The concept of “blessing” (barakah) is correlated with market efficiency and consumer trust. The hadith of Hakim bin Hizam is not an obsolete text but a dynamic ethical charter for the digital economy. It provides a sophisticated framework for building a more transparent, just, and sustainable e-commerce ecosystem, reframing consumer protection as a moral pursuit of barakah.