Abstract: Educational supervision is a key pillar of school management, yet its effectiveness at the elementary school level, particularly in urban rural transition areas, remains low. This study aims to identify key supervision issues, analyze their impact on learning quality, and formulate improvement strategies at Kaligandu Elementary School, Serang City. This descriptive-analytical qualitative study used data triangulation (interviews, observations, and document studies) from eight participants. Thematic data analysis was assisted by NVivo 12 software. The results of the NVivo analysis (N=1,087 codes) revealed four dominant problem themes: Inadequate Infrastructure and Technology (27.4%), Principal Administrative Burden (24.6%), Teacher Resistance to Supervision (22.2%), and Hampered Adaptation of the Independent and Hybrid Curriculum (25.8%). The impacts include teachers returning to conventional methods, low implementation of formative assessment, and declining teacher/student motivation. Recommended improvement strategies include implementing low-cost Blended Supervision, utilizing BOS funds for basic internet, internal peer coaching, delegation of administrative tasks, and partnerships with local universities. Analisis permasalahan dan strategi transformasi supervisi pendidikan di Sekolah Dasar Kaligandu Kota SerangSupervisi pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam manajemen sekolah, namun efektivitasnya pada jenjang sekolah dasar, khususnya di wilayah transisi perkotaan-pedesaan, masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan utama dalam supervisi pendidikan, menganalisis dampaknya terhadap kualitas pembelajaran, serta merumuskan strategi perbaikan di Sekolah Dasar Kaligandu, Kota Serang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis dengan teknik triangulasi data (wawancara, observasi, dan studi dokumen) yang melibatkan delapan partisipan. Analisis data tematik dilakukan dengan bantuan perangkat lunak NVivo 12. Hasil analisis NVivo (N = 1.087 kode) mengungkapkan empat tema permasalahan yang dominan, yaitu: Keterbatasan Sarana, Prasarana, dan Teknologi (27,4%), Beban Administratif Kepala Sekolah (24,6%), Resistensi Guru terhadap Supervisi (22,2%), serta Terhambatnya Adaptasi terhadap Kurikulum Merdeka dan Pembelajaran Hibrida (25,8%). Dampak dari permasalahan tersebut meliputi kecenderungan guru kembali menggunakan metode pembelajaran konvensional, rendahnya penerapan asesmen formatif, serta menurunnya motivasi guru dan peserta didik. Strategi perbaikan yang direkomendasikan meliputi penerapan Blended Supervision berbiaya rendah, pemanfaatan dana BOS untuk penyediaan akses internet dasar, penguatan peer coaching internal, pendelegasian tugas administratif, serta menjalin kemitraan dengan perguruan tinggi setempat.