Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta berada pada zona transisi antara endapan vulkanik Gunung Merapi di bagian utara dan zona aktif Sesar Opak di bagian selatan, sehingga tergolong wilayah rawan guncangan gempa bumi. Kondisi geologi yang bervariasi antarwilayah menyebabkan respons tanah terhadap gelombang seismik juga bervariasi, sehingga diperlukan kajian mengenai potensi deformasi tanah melalui parameter Ground Shear Strain (GSS). Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi nilai GSS di empat desa, yaitu Jogotirto, Kalitirto, Sendangtirto, dan Tegaltirto, sebagai indikator potensi deformasi tanah akibat aktivitas seismik. Nilai GSS dihitung dengan memanfaatkan data sekunder hasil akuisisi mikroseismik yang telah diolah menggunakan metode HVSR dari penelitian sebelumnya, meliputi nilai indeks kerentanan seismik (Kg) dan percepatan tanah maksimum (PGA), mengacu pada persamaan Nakamura (γ = Kg × 10⁻⁶ × αmax). Hasil penelitian menunjukkan nilai GSS di Kecamatan Berbah berkisar antara 8,063 × 10⁻³ hingga 1,460 × 10⁻². Nilai tertinggi terkonsentrasi di bagian tengah hingga selatan Desa Tegaltirto, serta sebagian selatan Kalitirto dan tenggara Jogotirto, sedangkan nilai terendah tersebar di sebagian besar Sendangtirto, barat laut Kalitirto, dan bagian tengah Jogotirto. Berdasarkan klasifikasi Ishihara (1982), nilai GSS di wilayah penelitian tergolong dalam kategori elastoplastis hingga mendekati kategori keruntuhan, dengan Tegaltirto sebagai wilayah yang paling berpotensi mengalami penurunan tanah, pemadatan, dan likuefaksi akibat kedekatannya dengan Sesar Opak dan sedimen permukaan yang relatif longgar. Hasil ini menegaskan bahwa Tegaltirto perlu menjadi prioritas utama dalam upaya mitigasi bencana dan perencanaan pembangunan infrastruktur tahan gempa di Kecamatan Berbah.