Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Analisis Spasial Tingkat Ancaman Banjir di Kecamatan Baturaja Timur, Kabupaten Ogan Komering Ulu Menggunakan Metode Overlay Berbasis Sistem Informasi Geografis Luliana
Jurnal Ilmiah Teknik dan Sains Vol. 3 No. 2 (2025): Desember: Jurnal Ilmiah Teknik dan Sains (JITS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat AKIPBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62278/jits.v3i2.79

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat ancaman banjir di Kecamatan Baturaja Timur, Kabupaten Ogan Komering Ulu, dengan memanfaatkan pendekatan spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) melalui metode overlay. Analisis dilakukan dengan mengintegrasikan enam parameter fisik utama, yaitu curah hujan, penggunaan lahan, elevasi, kemiringan lereng, kerapatan sungai, dan jenis tanah. Setiap parameter diberi skor dan bobot sesuai tingkat pengaruhnya terhadap potensi banjir, kemudian diproses secara spasial untuk menghasilkan peta tingkat ancaman banjir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah Kecamatan Baturaja Timur terbagi dalam tiga kategori tingkat ancaman, yaitu rendah (5,23%), sedang (70,10%), dan tinggi (24,67%). Area dengan ancaman tinggi didominasi oleh kawasan permukiman padat ber-elevasi rendah dan berada dekat jaringan sungai, khususnya di Desa Sukaraya, Baturaja Lama, Kemelak Bindung Langit, dan sekitarnya. Temuan ini menegaskan bahwa perubahan penggunaan lahan, kondisi topografi, dan distribusi jaringan sungai sangat berperan dalam meningkatkan risiko banjir. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar dalam perencanaan tata ruang, penguatan kebijakan mitigasi bencana, serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman banjir di wilayah tersebut.
Kajian Tingkat Kerentanan Bencana Banjir di Kecamatan Baturaja Barat Kabupaten Ogan Komering Ulu Menggunakan Data Spasial dan Metode Overlay Berbasis Sistem Informasi Geografis Luliana Luliana
Venus: Jurnal Publikasi Rumpun Ilmu Teknik  Vol. 3 No. 5 (2025): Venus: Jurnal Publikasi Rumpun Ilmu Teknik
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Teknik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/venus.v3i5.1200

Abstract

This study aims to analyze the level of flood hazard in Baturaja Barat District, Ogan Komering Ulu Regency, by applying a spatial approach using Geographic Information Systems (GIS) through the overlay method. The analysis was carried out by integrating six main physical parameters, namely rainfall, land use, elevation, slope, river density, and soil type. Each parameter was assigned a score and weight according to its influence on flood potential and subsequently processed spatially to produce a flood hazard map. The results indicate that the Baturaja Barat District area is classified into three hazard levels: low (3.25%), moderate (70.64%), and high (25.84%). Areas with high hazard levels are predominantly characterized by densely populated settlements situated at low elevations and in close proximity to river networks, particularly in Tanjung Karang, Air Gading, Talang Jawa, Karang Agung, and surrounding villages. These findings highlight that land-use changes, topographic conditions, and the distribution of river networks play significant roles in increasing flood risk. The results of this study are expected to serve as a foundation for spatial planning, the strengthening of disaster mitigation policies, and the enhancement of community preparedness against flood hazards in the region.
BRANDING EKOWISATA BERBASIS DIGITAL: PETA MONTASE DAN VISUALISASI DRONE SEBAGAI MEDIA PROMOSI Idarwati Idarwati; Harnani Harnani; Ugi Kurnia Gusti; Dwi Vina Febrim; Rosidawani Rosidawani; Sundus Ghaida Noor Azizah; Astrid Fadhilah; Luliana Luliana; Muhammad Addiansyah
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 3 (2026): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i3.38504

Abstract

Abstrak: Desa Tanjung Atap, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, memiliki potensi ekowisata berbasis alam dan budaya yang kaya, seperti kerajinan anyaman purun, kerajinan aluminium, kerupuk kemplang, dan wisata rawa. Namun, pemanfaatan potensi tersebut belum optimal akibat keterbatasan pemetaan spasial dan media promosi digital. Program pengabdian ini bertujuan mendukung branding desa melalui digitalisasi potensi ekowisata, dengan metode survei lapangan, wawancara masyarakat, pemotretan udara menggunakan drone, penyusunan video dan peta montase ekowisata, serta sosialisasi dan edukasi. Mitra utama adalah Pemerintah Desa Tanjung Atap dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), dengan keterlibatan aktif masyarakat dan mahasiswa Universitas Sriwijaya. Target luaran berupa video promosi dan peta montase ekowisata. Evaluasi kegiatan dilakukan melalui kuesioner pra dan pasca kegiatan terhadap 27 peserta. Hasil analisis menunjukkan peningkatan signifikan pada pemahaman empat aspek pengembangan ekowisata. Luaran program ini diharapkan memperkuat promosi dan branding desa, meningkatkan partisipasi masyarakat, serta mendorong pengembangan ekowisata berkelanjutan di Desa Tanjung Atap.Abstract: Tanjung Atap Village, Ogan Ilir Regency, South Sumatra, possesses rich natural and cultural ecotourism potential, including purun weaving, aluminum handicrafts, kemplang crackers, and swamp tourism. However, the utilization of these potentials has not been optimal due to limited spatial mapping and digital promotional media. This community service program aims to support village branding by digitalizing the village's ecotourism potential through field surveys, community interviews, drone-based aerial photography, the preparation of ecotourism montage videos and maps, and socialization and education activities. The main partners are the Tanjung Atap Village Government and the Tourism Awareness Group (Pokdarwis), with active involvement from the community and students of Sriwijaya University. The targeted outputs are a promotional video and an ecotourism montage map. The program evaluation was conducted using pre- and post-activity questionnaires involving 27 participants. The analysis results showed a significant increase in understanding of the four aspects of ecotourism development. The program outputs are expected to strengthen village promotion and branding, enhance community participation, and encourage sustainable ecotourism development in Tanjung Atap Village. 
MODFLOW-Based Evaluation of Mine Drainage and Environmental Risks in the Kulon Progo Iron Sand Mining Area Andrawina; Luliana; Venty Lestari
Indonesian Journal of Environmental Management and Sustainability Vol. 10 No. 3 (2026): September
Publisher : Magister Program of Material Science, Graduate School of Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26554/ijems.2026.10.3.189-203

Abstract

This study investigates the hydrogeological characteristics and mine drainage challenges of the iron sand mining area along the southern coast of Kulon Progo, Special Region of Yogyakarta, Indonesia. The region is characterized by a shallow unconfined aquifer with high hydraulic conductivity (10?²–10?³ m/s), a groundwater table depth of only 0.5–3.0 m below ground surface, and close proximity to the Indian Ocean, all of which strongly influence mine drainage design and dewatering requirements. Hydrological analysis using the Gumbel Type I distribution estimated a 3-year return period rainfall of 153.30 mm/day with a rainfall intensity of 53.71 mm/h based on 10 years of rainfall data, although the relatively short dataset remains a limitation for extreme-value prediction accuracy. The required mine dewatering capacity was calculated at 55 m³/s with a 95% confidence interval of ±5.8 m³/s, including approximately 10 m³/s contributed by groundwater seepage. Dewatering operations pose several environmental risks, including groundwater table drawdown of 1.5–3.0 m, potential seawater intrusion, elevated total suspended solids (TSS) in runoff reaching 2.0 mg/L, and disruption of surrounding mangrove ecosystems. To support sustainable mining operations, this study recommends implementing targeted dewatering strategies supported by MODFLOW hydrogeological modeling, establishing real-time groundwater monitoring systems, conducting progressive reclamation, and ensuring compliance with Government Regulation No. 22/2021 concerning environmental quality standards.
Karakterisasi Plastisitas Batulempung dan Batupasir Berdasarkan Batas Atterberg pada Titik Bor AKB-52A Astrid Fadhilah; Putra Putra; Luliana Luliana; Tria Rahmawati
Jurnal Ilmiah Teknik dan Sains (JITS) Vol. 3 No. 3 (2026): April : Jurnal Ilmiah Teknik dan Sains (JITS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat AKIPBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62278/jits.v3i3.119

Abstract

Karakterisasi batas Atterberg diperlukan untuk mengidentifikasi perubahan konsistensi material berbutir halus dan mendukung interpretasi awal sifat geoteknik. Penelitian ini bertujuan menganalisis nilai batas cair (LL), batas plastis (PL), dan indeks plastisitas (PI) pada sampel batulempung dan batupasir dari titik bor AKB 52A, serta membandingkan kecenderungan nilai antarsampel. Data diperoleh dari pengujian laboratorium mekanika tanah, kemudian dihitung PI sebagai selisih LL dan PL serta ditafsirkan secara deskriptif dengan bantuan diagram plastisitas dan kriteria AASHTO. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sampel batulempung memiliki LL 51,07-67,20%, PL 29,06-40,67%, dan PI 13,77-30,58%. Sampel batupasir memiliki LL 41,92-48,51%, PL 25,02-29,38%, dan PI 16,38-22,14%. Secara umum, batulempung menunjukkan batas cair dan indeks plastisitas yang lebih tinggi dibandingkan batupasir, terutama pada sampel 11 AKB 52A, sehingga mengindikasikan pengaruh fraksi halus atau mineral lempung yang lebih dominan. Batupasir tetap memperlihatkan plastisitas sedang, yang menunjukkan adanya komponen halus berplastisitas pada matriks batuan. Hasil ini dapat menjadi data awal untuk evaluasi kestabilan subgrade, jalan tambang, dan pengelolaan material di area penelitian. Klasifikasi final perlu dilengkapi data gradasi, kadar organik, dan mineralogi.
Pengaruh Bedding shear terhadap Kestabilan Lereng Tunggal Menggunakan Analisis Keseimbangan Batas dan Probabilistik: Studi Kasus pada Area Highwall Tambang Batubara Terbuka PT. “X”di Kalimantan Selatan, Indonesia Luliana Luliana; Astrid Fadhilah; Roy Reeverdy; Muhammad Annis Wichi Luthfina; Febiyora Chandra Kirana
Jurnal Ilmiah Teknik dan Sains (JITS) Vol. 4 No. 1 (2026): Agustus: Jurnal Ilmiah Teknik dan Sains (JITS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat AKIPBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62278/jits.v4i1.142

Abstract

Beberapa kejadian longsoran telah dilaporkan akibat keberadaan bedding shear, yaitu lapisan yang tersusun atas laminasi yang mengalami pergeseran (sheared lamination) dan batulempung karbonan (carbonaceous mudstone) yang berasosiasi dengan rembesan air ke dalam lapisan tersebut. Bidang diskontinuitas yang terbentuk menciptakan bidang lemah yang berpotensi menjadi bidang gelincir sehingga memicu terjadinya longsoran. Material penyusun lereng pada lokasi penelitian terdiri atas batupasir, batulempung, serpih berlaminasi, batulanau, dan batubara. Lereng memiliki bidang diskontinuitas berupa bidang perlapisan dan kekar. Geometri lereng tunggal pada lokasi penelitian memiliki tinggi sekitar ±17 m dengan sudut kemiringan 29°. Salah satu kejadian pergerakan massa batuan terjadi di PIT “X”, tepatnya dengan elevasi RL -160 hingga -174, yang disebabkan oleh keberadaan bedding shear pada lantai lapisan batubara (floor seam) T110. Analisis dilakukan menggunakan metode Direct Shear Strength Test (DST), Rock Mass Rating (RMR), serta metode Keseimban’gan Batas (Limit Equilibrium Method). Analisis Probability of Failure (PoF)  dilakukan menggunakan perangkat lunak Slide 6.0 dengan menerapkan kriteria keruntuhan Mohr–Coulomb dan Generalized Hoek–Brown. Berdasarkan hasil analisis, pada lereng dengan sudut kemiringan 34° diperoleh Probability of Failure (PoF)  sebesar 23%, sedangkan pada lereng dengan sudut kemiringan 64° diperoleh Probability of Failure (PoF)  sebesar 17,5%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa keberadaan bedding shear memberikan pengaruh terhadap stabilitas lereng dan berpotensi menjadi bidang gelincir yang memicu terjadinya longsoran.
Nilai Ground Shear Strain Pada Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman Adelia Saras Nugraheni; Dwi Wahyu Hardiyanto; Luliana Luliana; Idarwati Idarwati
Jurnal Ilmiah Teknik dan Sains (JITS) Vol. 4 No. 1 (2026): Agustus: Jurnal Ilmiah Teknik dan Sains (JITS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat AKIPBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62278/jits.v4i1.145

Abstract

Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta berada pada zona transisi antara endapan vulkanik Gunung Merapi di bagian utara dan zona aktif Sesar Opak di bagian selatan, sehingga tergolong wilayah rawan guncangan gempa bumi. Kondisi geologi yang bervariasi antarwilayah menyebabkan respons tanah terhadap gelombang seismik juga bervariasi, sehingga diperlukan kajian mengenai potensi deformasi tanah melalui parameter Ground Shear Strain (GSS). Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi nilai GSS di empat desa, yaitu Jogotirto, Kalitirto, Sendangtirto, dan Tegaltirto, sebagai indikator potensi deformasi tanah akibat aktivitas seismik. Nilai GSS dihitung dengan memanfaatkan data sekunder hasil akuisisi mikroseismik yang telah diolah menggunakan metode HVSR dari penelitian sebelumnya, meliputi nilai indeks kerentanan seismik (Kg) dan percepatan tanah maksimum (PGA), mengacu pada persamaan Nakamura (γ = Kg × 10⁻⁶ × αmax). Hasil penelitian menunjukkan nilai GSS di Kecamatan Berbah berkisar antara 8,063 × 10⁻³ hingga 1,460 × 10⁻². Nilai tertinggi terkonsentrasi di bagian tengah hingga selatan Desa Tegaltirto, serta sebagian selatan Kalitirto dan tenggara Jogotirto, sedangkan nilai terendah tersebar di sebagian besar Sendangtirto, barat laut Kalitirto, dan bagian tengah Jogotirto. Berdasarkan klasifikasi Ishihara (1982), nilai GSS di wilayah penelitian tergolong dalam kategori elastoplastis hingga mendekati kategori keruntuhan, dengan Tegaltirto sebagai wilayah yang paling berpotensi mengalami penurunan tanah, pemadatan, dan likuefaksi akibat kedekatannya dengan Sesar Opak dan sedimen permukaan yang relatif longgar. Hasil ini menegaskan bahwa Tegaltirto perlu menjadi prioritas utama dalam upaya mitigasi bencana dan perencanaan pembangunan infrastruktur tahan gempa di Kecamatan Berbah.