Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kecanduan Game Online Berhubungan dengan Perilaku Agresif pada Remaja di SMP X Shely Amelia Putri; Prastiwi Puji Rahayu; Deasti Nurmaguphita
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.7136

Abstract

Masa remaja merupakan fase transisi yang ditandai oleh perubahan biologis, psikologis, dan sosial, sehingga individu pada tahap ini rentan mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosi dan menunjukkan perilaku agresif. Perkembangan teknologi digital turut meningkatkan penggunaan game online di kalangan remaja. Penggunaan yang berlebihan dapat berkembang menjadi kecanduan dan berpotensi memengaruhi perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecanduan game online dan perilaku agresif pada remaja di SMP X. Penelitian menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian berjumlah 58 siswa yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner Internet Addiction Test untuk mengukur kecanduan game online dan Buss-Perry Aggression Questionnaire untuk mengukur perilaku agresif. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kecanduan game online responden sebagian besar berada pada kategori rendah sebesar 48,3% dan sedang sebesar 46,6%, sedangkan kategori tinggi sebesar 5,2%. Perilaku agresif responden tersebar pada kategori rendah, sedang, dan tinggi. Hasil uji Spearman menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara kecanduan game online dan perilaku agresif dengan nilai p=0,003 dan koefisien korelasi r=0,386. Dengan demikian, semakin tinggi kecanduan game online, semakin meningkat pula kecenderungan perilaku agresif pada remaja. Temuan ini menegaskan pentingnya pengawasan keluarga dan sekolah, pembatasan waktu bermain, serta penguatan kemampuan regulasi emosi pada remaja.
Penerapan Menghardik untuk Mengurangi Intensitas Halusinasi Pendengaran Vanes Oktadela Kurniasih; Deasti Nurmaguphita
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 8 No. 4 (2026): Agustus 2026, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v8i4.2330

Abstract

Halusinasi pendengaran merupakan salah satu gejala positif yang paling sering dialami pasien skizofrenia dan dapat mengganggu interaksi sosial, konsentrasi, serta aktivitas sehari-hari. Halusinasi yang tidak terkontrol juga berisiko menimbulkan perilaku membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penerapan intervensi menghadrik dalam upaya mengurangi halusinasi pendengaran secara efektif. Penelitian ini menggunakan metode deskriptis dengan pendekatan desain studi kasus asuhan keperawatan pada satu pasien di RSJ Grhasia Yogyakarta. Pemilihan subjek menggunakan teknik purposive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan. Asuhan keperawatan dilakukan selama lima hari meliputi pengkajian, penegakan diagnosis, intervensi, implementasi, dan evaluasi. Intervensi diberikan berupa strategi pelaksanaan (SP) 1 dengan teknik menghardik halusinasi sebanyak lima kali pertemuan, satu kali sehari dilakukan selama ±15 menit setiap sesi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien awalnya sering mendengar suara-suara sehingga menimbulkan rasa takut, cemas, dan menarik diri dari lingkungan. Setelah diberikan terapi menghardik selama lima hari, pasien mulai mampu mengikuti instruksi perawat, mempraktikkan teknik menghardik secara mandiri, serta mengalami penurunan frekuensi dan intensitas halusinasi. Selain itu, pasien tampak lebih tenang dan kualitas tidur mulai membaik. Penerapan teknik menghardik terbukti membantu pasien mengenali dan mengontrol halusinasi pendengaran sehingga dapat menjadi intervensi keperawatan nonfarmakologis yang efektif.