Rusnawati Rusnawati
UIN Ar-Raniry

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

DINAMIKA STRUKTURAL FUNGSIONAL IDENTITAS MUSLIM-MELAYU PADA MASYARAKAT PATTANI DI THAILAND SELATAN Marini Kristina Situmeang; Rusnawati Rusnawati
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 13, No 8 (2026): NUSANTARA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v13i8.2026.2363-2377

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dinamika struktural-fungsional pada masyarakat Pattani, Thailand Selatan, dalam upayanya mempertahankan identitas Muslim-Melayu di tengah agresi dan kebijakan asimilasi budaya (siamisasi) yang dilakukan secara berkepanjangan oleh pemerintah Thailand. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif-eksploratif. Data primer dikumpulkan melalui observasi dan wawancara mendalam bersama informan kunci, informan utama, dan informan pendukung, sementara data sekunder diperoleh dari studi pustaka. Analisis data dilakukan dengan mengacu pada kerangka AGIL (Adaptation, Goal Attainment, Integration, Latency) yang dikembangkan Talcott Parsons. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas Muslim-Melayu Pattani ditopang oleh struktur sosial-budaya yang kuat, meliputi bahasa Melayu (kecek nayu), tulisan Jawi, hukum yang bersumber pada kitab fikih, sistem pendidikan pondok, serta peran ulama (Tok Guru). Kebijakan integrasi Thailand melalui jalur pendidikan, politik, budaya, dan hukum telah menimbulkan tekanan struktural yang memicu disfungsi sosial berupa marginalisasi, diskriminasi, dan konflik berkepanjangan. Meskipun demikian, masyarakat Pattani menunjukkan kapasitas adaptif melalui reproduksi nilai lintas generasi, penguatan jaringan solidaritas komunitas, serta partisipasi generasi muda dalam ruang-ruang baru pendidikan, ekonomi, dan advokasi damai, sehingga struktur identitas Muslim-Melayu tetap bertahan sebagai mekanisme resistensi kultural terhadap tekanan homogenisasi negara