Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Daerah Istimewa Yogyakarta yang mengalami peningkatan kasus dialami oleh Kabupaten Sleman, sehingga masuk dalam KLB. Dalam 15 tahun kasus DBD memiliki sifat yang cenderung fluktuatif atau naik turun. Sifat yang seperti ini dapat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang dimiliki, yakni perubahan iklim. Perubahan iklim dapat mempengaruhi kejadian penyebaran distribusi keberadaan vektor, salah satunya DBD. Dampak dari perubahan iklim terhadap kejadian DBD di Kabupaten Sleman perlu untuk diteliti sebagai dasar untuk melihat pola terjadinya kasus DBD yang berhubungan dengan suhu permukaan bumi, kelembaban spesifik, kelembaban relatif, kecepatan angin 10 meter, kecepatan angin 50 meter, dan penyinaran matahari langsung. Penelitian ini menggunakan desain cohort retrospektif berdasarkan data sekunder kasus DBD dari Dinas Kesehatan DIY dan data iklim dari National Aeronautics and Space Administration (NASA) dalam waktu 15 tahun (2008-2022). Data dianalisis dengan pola bulanan berdistribusi tidak normal serta melakukan uji korelasi dan regresi dengan α=0,05. Hasil analisis menunjukkan bahwa variasi data iklim berkorelasi terhadap kejadian DBD di Kabupaten Sleman. Model persamaan regresi linier yang ditemukan yakni Kasus DBD = -129.031 + 10.171*Kelembaban Spesifik (R2 = 21,0%) dengan asumsi semua regresi linier terpenuhi. Model dalam penelitian ini dapat digunakan dalam pencegahan penularan DBD berdasarkan waktu melalui upaya mitigasi dan ditingkatkannya sistem Early Warning System untuk KLB DBD yang dapat mengancam. Abstract: Sleman Regency in the Special Region of Yogyakarta has experienced a rise in cases of Dengue Haemorrhagic Fever (DHF), leading to its classification as an outbreak. Over the past 15 years, DHF cases have tended to fluctuate. This pattern may be influenced by environmental conditions, namely climate change. Climate change can affect the distribution and prevalence of disease vectors, one of which is the dengue fever vector. The impact of climate change on dengue fever incidence in Sleman Regency needs to be investigated to establish patterns in dengue fever cases in relation to surface temperature, specific humidity, relative humidity, wind speed at 10 metres, wind speed at 50 metres, and direct solar radiation. This study employed a retrospective cohort design based on secondary data on dengue fever cases from the Yogyakarta Special Region Health Office and climate data from the National Aeronautics and Space Administration (NASA) covering a 15-year period (2008–2022). The data were analysed using monthly patterns with a non-normal distribution, and correlation and regression tests were conducted with α = 0.05. The results of the analysis indicate that variations in climate data are correlated with the incidence of dengue fever in Sleman Regency. The linear regression equation model identified was: Dengue Fever Cases = -129.031 + 10.171 × Specific Humidity (R² = 21.0%), assuming all linear regression assumptions were met. The model developed in this study can be used to prevent the transmission of dengue fever over time through mitigation measures and by improving the Early Warning System for potential dengue fever outbreaks.