This Author published in this journals
All Journal CENDEKIA PENDIDIKAN
Khairina Rahmasari
Universitas Lambung Mangkurat

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PERAN GURU SEBAGAI FASILITATOR DALAM UPAYA PENCEGAHAN BULLYING DI SMAN 1 MARABAHAN Khairina Rahmasari; Dian Agus Ruchliyadi
CENDEKIA PENDIDIKAN Vol 5 No 3 (2026): Edisi Agustus
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Abdurachman Saleh Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/cendekiapendidikan.v5i3.8551

Abstract

Masalah pokok dalam penelitian ini adalah masih terjadinya perilaku bullying verbal di lingkungan sekolah yang mengganggu kenyamanan dan keamanan siswa, sehingga diperlukan optimalisasi peran guru sebagai fasilitator dalam upaya pencegahan bullying di SMAN 1 Marabahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi lingkungan sekolah yang mempengaruhi munculnya perilaku bullying, peran guru sebagai fasilitator dalam upaya pencegahan bullying di SMAN 1 Marabahan melalui penyediaan sumber belajar yang relevan dan membangun komunikasi yang efektif dengan siswa, serta tantangan yang dihadapi guru dalam upaya pencegahan bullying di SMAN 1 Marabahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian yang didapat pada peran guru sebagai fasilitator dalam upaya pencegahan bullying di SMAN 1 Marabahan: (1) keadaan lingkungan sekolah secara umum cukup kondusif, namun masih terdapat dinamika sosial seperti pengelompokan siswa, candaan berlebihan, serta pengaruh media sosial yang dapat memicu munculnya perilaku bullying verbal. (2) guru telah berperan sebagai fasilitator dalam upaya pencegahan bullying melalui penyediaan berbagai sumber belajar yang relevan, seperti video edukasi, studi kasus, poster, diskusi kelompok, serta pengintegrasian nilai-nilai anti-bullying dalam pembelajaran. Selain itu, guru juga membangun komunikasi yang efektif dengan siswa melalui pendekatan dua arah, humanis, empatik, dan active listening sehingga tercipta hubungan yang lebih dekat, terbuka, dan mendukung pencegahan bullying. (3) guru menghadapi tantangan berupa keterbatasan waktu pembelajaran, pola pikir siswa yang masih menganggap bullying sebagai candaan, pengaruh media sosial, serta hambatan komunikasi seperti rasa takut siswa untuk melapor