Catur Hery Wibawa
Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Komunikasi Asertif Penyandang Disabilitas Fisik di Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat Pribowo; Naila Fadilah; Catur Hery Wibawa
Jurnal Ilmiah Rehabilitasi Sosial (Rehsos) Vol 7 No 2 (2025): REHSOS (In Press)
Publisher : Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31595/rehsos.v7i2.1610

Abstract

Persons with disabilities represent a significant minority group that often faces barriers in interaction and full participation in society. This study aims to describe assertive communication among persons with physical disabilities at the Griya Harapan Difabel Social Service Center. The focus includes seven aspects: expressing opinions, giving and receiving positive and negative feedback, assertively refusing requests, making non-controlling requests, managing confrontation constructively, and nonverbal behavior. A qualitative descriptive approach was used, involving five informants: three service users, one social worker, and one dormitory supervisor. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation. The results show that persons with physical disabilities tend to express opinions only in safe and familiar situations, openly receive praise through positive expressions, and accept criticism well when delivered politely. Refusals are conveyed directly and briefly, usually when strong reasons exist. Requests for assistance are commonly related to physical limitations. In conflict situations, they tend to avoid confrontation and suppress emotions. Nonverbal behavior reflects a closed communication style, particularly in formal settings or with unfamiliar individuals. Overall, assertive communication skills among persons with physical disabilities have not yet developed optimally and consistently. Factors such as low self-confidence, social atmosphere, and the closeness of relationships influence their communication patterns. Therefore, ongoing support and training are necessary to foster courage, assertiveness, and stability in both verbal and nonverbal communication.
The Quality Of Children'S Attachment To Caregivers At The Mandhanisiwi Orphanage, Muhammadiyah Community Health Center, Purbalingga, Central Java Nur Rakhmatika; Pribowo; Catur Hery Wibawa
Indonesian Journal of Social Work Vol 10 No 1 (2026): Indonesia Journal of Social Work (In Press)
Publisher : Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31595/ijsw.v10i1.1646

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran empiris tentang kualitas kelekatan antara anak dan pengasuh di Panti Asuhan Mandhanisiwi di bawah Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Muhammadiyah di Purbalingga, Jawa Tengah. Kelekatan dipahami sebagai ikatan emosional yang terbentuk melalui interaksi berkelanjutan antara seorang anak dan figur kelekatannya, dalam hal ini, pengasuh panti asuhan. Hubungan emosional ini memainkan peran penting dalam mendukung perkembangan psikososial anak. Penelitian ini berfokus pada tiga aspek utama kelekatan: kepercayaan, komunikasi, dan keterasingan. Pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode survei digunakan. Sampel terdiri dari 39 anak yang dipilih melalui teknik total sampling (sensus). Data dikumpulkan menggunakan kuesioner, observasi, dan studi dokumentasi, dengan instrumen yang diadaptasi dari Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA). Uji reliabilitas menggunakan Cronbach's Alpha menghasilkan skor 0,667, yang menunjukkan konsistensi internal yang dapat diterima untuk tujuan penelitian. Temuan penelitian menunjukkan bahwa aspek kepercayaan dan keterasingan termasuk dalam kategori sedang, sedangkan aspek komunikasi dikategorikan rendah. Anak-anak cenderung enggan mengungkapkan perasaan mereka kepada pengasuh dan merasakan terbatasnya keterlibatan emosional dari pengasuh dalam kehidupan sehari-hari. Rendahnya intensitas interaksi memengaruhi kedekatan emosional dan rasa aman yang idealnya terbangun antara anak-anak dan pengasuh. Berdasarkan temuan ini, peneliti mengusulkan program intervensi yang disebut "Layanan Dukungan Anak dan Pengasuh (SAPA ASUH)" sebagai strategi untuk meningkatkan hubungan emosional dan komunikasi dua arah antara anak-anak dan pengasuh di panti asuhan. Program ini mencakup sesi pendampingan, pelatihan komunikasi empati, dan refleksi peran pengasuh untuk meningkatkan kualitas ikatan emosional.