Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PERBANDINGAN DIATOME ANTARA PARU-PARU TIKUS PUTIH GALUR WISTAR (Rattus norvegicus) YANG MENDAPAT PERLAKUAN SEBELUM TENGGELAM DAN TIDAK MENDAPAT PERLAKUAN SEBELUM TENGGELAM Aulia Rahmi; Angeline Novia Toemon; Ricka Brillianty Zaluchu
Jurnal Kedokteran Universitas Palangka Raya Vol 7 No 1 (2019): Jurnal Kedokteran Universitas Palangka Raya
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37304/jkupr.v7i1.597

Abstract

Tenggelam pada tindak kriminalitas memerlukan tindakan khusus pada saat pemeriksaan autopsi. Kasus tenggelam di Indonesia masih sering terjadi seperti terakhir kasus tenggelamnya kapal Sinar Bangun di danau Toba, Sumatera Utara. Di Kalimantan Tengah sendiri berdasarkan data RS Doris Sylvanus sepanjang tahun 2015 sampai 2018 sebanyak 19 kasus. Pemeriksaan tes diatome pada korban tenggelam menggunakan asam ini sebagai gold standar pada kasus ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan adakah kandungan diatome pada tikus putih galur wistar (Rattus novergicus) yang mati tenggelam dan mati sebelum tenggelam di sungai Kapuas Kalimantan Tengah. Quasi eksperimental dengan posttest only group design. Data yang diukur adalah kandungan diatome dalam paru-paru tikus kelompok mati tenggelam dengan kelompok yang mati sebelum ditenggelamkan. Terdapat diatome pada setiap paru-paru tikus kelompok pertama yang ditenggelamkan, sedangkan diatome pada paru-paru tikus kelompok kedua yang mati sebelum ditenggelamkan tidak terdapat diatome. Uji statistik Mann Whitney menunjukkan perbedaan sangat bermakna dengan p= 0,000. Terbukti bahwa pada penelitian ini terdapat perbedaan yang bermakna kandungan diatome antara kematian tikus yang tenggelam dengan tikus yang mati kemudian ditenggelamkan di Sungai Kapuas.
Perbedaan Laju Pembusukan Mencit (Mus musculus) di Air Tawar, Air Laut, dan Udara Terbuka Sitohang, Zebby; Zaluchu, Ricka Brilianty; Nawan
Barigas: Jurnal Riset Mahasiswa Vol. 1 No. 1 (2023): Barigas: Jurnal Riset Mahasiswa
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37304/barigas.v1i1.8112

Abstract

Decomposition is affected by many factors that can slow down or speed up the rate of decomposition of a corpse, and medium is one of the factors. The mediums that were used for this experiment were freshwater, saltwater, and outdoor surface. These mediums have distinct qualities and quantities of decomposers. House mice (Mus musculus), as the object of this experiment, have a few certain characteristics that are relatively similar to humans. The objective is to prove whether there was a difference in the rate of decomposition between freshwater, saltwater, and outdoor surface using mice that had been euthanized beforehand. The mice for the outdoor medium were euthanized by cervical dislocation, meanwhile the mice for both aquatic mediums were euthanized by getting drowned. The average rates of decomposition of the three mediums would then be obtained and analyzed. The fastest average decomposition rate happened on the outdoor surface (±48 hours), followed by the freshwater (±60 hours) and then in the saltwater (±72 hours). The statistical test showed that there is a significant difference in the average rates of decomposition between freshwater, saltwater, and outdoor surface.
KARAKTERISTIK KASUS KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP PEREMPUAN DI WILAYAH KALIMANTAN TENGAH TAHUN 2015-2020 Sandra, Aprilia Dwi; Nugrahini, Sintha; Zaluchu, Ricka Brillianty
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6 No 4 (2023): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kekerasan seksual adalah tindak kejahatan yang cenderung meningkat setiap tahun dan menjadi masalah global. Kejahatan ini memiliki prevalensi yang tinggi terhadap perempuan serta memberikan dampak buruk bagi mental dan fisik korban. Oleh karena itu, perlu diteliti mengenai kejadian kekerasan seksual di wilayah Kalimantan Tengah menggunakan data Visum et Repertum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran temuan forensik pada kasus kekerasan seksual yang dialami korban. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan retrospektif berdasarkan hasil Visum et Repertum sebanyak 134 data sesuai dengan kriteria inklusi pada total populasi yang diambil dari Rumah Sakit Umum Daerah dr. Doris Sylvanus dan Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat III Palangka Raya Data dianalisis menggunakan Microsoft Excel 2021 untuk mendapatkan usia korban kekerasan seksual, lokasi robekan hymen, jenis luka, lokasi luka anogenital, dan penyebab luka. Hasil penelitian menunjukkan selama tahun 2015-2020 kasus kekerasan seksual di wilayah Kalimantan Tengah didominasi oleh remaja awal sebanyak 46,7%, robekan hymen terbanyak pada arah jarum jam tiga 15,8%, temuan luka terbanyak luka lecet baru (luka yang ditemukan beberapa jam sampai beberapa hari pasca kejadian) 46%, lokasi luka terbanyak terdapat pada genitalia eksterna 76%, dan penyebab luka terbanyak oleh benda tumpul 87%. Kata kunci: forensik, kekerasan seksual, visum et repertum DOI : 10.35990/mk.v6n4.p340-351
Profil Kasus Kekerasan Seksual pada Korban Perempuan dan Anak di Instalansi Forensik dan Medikolegal RS Bhayangkara Tk. III Palangka Raya Tahun 2020–2024 Aprilina Karyn Maharani; Austin Bertilova Carmelita; Ricka Brillianty Zaluchu; Angeline Novia Toemon; Jan Yanto Lydwines Purba
Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences Vol. 15 No. 2 (2025): Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/IJLFS.2025.v15.i02.p04

Abstract

Kekerasan seksual merupakan kejahatan serius yang mengancam kesehatan dan hak asasi perempuan serta anak. Perlindungan terhadap korban diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) dan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Secara global, lebih dari 650 juta perempuan dan 410-530 juta laki-laki mengalami kekerasan seksual pada masa anak-anak. Data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) menunjukkan peningkatan kasus kekerasan seksual pada kelompok usia anak. Kalimantan Tengah termasuk wilayah dengan angka kekerasan seksual yang masih tinggi, termasuk pada anak laki-laki yang kerap terabaikan akibat stigma sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memetakan profil kasus kekerasan seksual pada perempuan dan anak yang diperiksa di instalansi forensik dan medikolegal RS Bhayangkara Tk. III Palangka Raya tahun 2020-2024. Penelitian ini merupakan studi deskriptif kuantitatif dengan pendekatan retrospektif menggunakan data sekunder dari Visum et Repertum korban kekerasan seksual tahun 2020–2024 dengan teknik total sampling. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 125 kasus kekerasan seksual yang memenuhi kriteria penelitian selama periode penelitian, didominasi oleh kelompok usia anak (89,6%), jenis kelamin perempuan (98,4%), dan status pelajar (70,4%). Jenis luka terbanyak berupa laserasi (63,7%) dan lokasi luka terbanyak pada hymen (52,3%). Kesimpulan penelitian ini menggambarkan sebagian besar kasus kekerasan seksual di RS Bhayangkara Tk. III Palangka Raya tahun 2020–2024 terjadi pada anak perempuan berstatus pelajar dengan luka laserasi hymen. Hal ini menunjukkan kerentanan biologis dan sosial yang masih tinggi pada perempuan dan anak terhadap kekerasan seksual, sehingga diperlukan peran strategis semua pihak pemilik kepentingan dalam meningkatkan upaya penanganan dan perlindungan korban kekerasan seksual dari berbagai aspek. Kata kunci: Kekerasan Seksual; Traumatologi; Visum et Repertum; Forensik; RS Bhayangkara
Herbal Medicines In Forensic Toxicology: Current Evidence, Analytical Challenges, And Future Perspectives: Herbal Medicines In Forensic Toxicology: Current Evidence, Analytical Challenges, And Future Perspectives Ricka Brillianty Zaluchu; Nurul Qamariah
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v12i1.13915

Abstract

The increasing global use of herbal medicines has expanded their relevance in forensic toxicology, particularly in cases involving accidental poisoning, intentional intoxication, herb–drug interactions, organ toxicity, product adulteration, and unexplained death. Although botanical products are commonly perceived as safe, many contain potent bioactive compounds capable of producing severe neurological, hepatic, cardiovascular, and renal toxicity. Their forensic investigation is complicated by complex phytochemical compositions, variable product quality, limited toxicological reference data, and the frequent presence of undeclared pharmaceuticals or contaminants. This narrative review summarizes the forensic significance of herbal medicines, major toxicological mechanisms, relevant biological specimens, current analytical techniques, interpretative challenges, and medico-legal implications. Particular attention is given to toxicologically important plants such as Mitragyna speciosa, Aconitum spp., Datura stramonium, Nerium oleander, Cerbera odollam, and Aristolochia spp. The review also examines the application of liquid chromatography–tandem mass spectrometry, gas chromatography–mass spectrometry, high-resolution mass spectrometry, spectroscopic methods, DNA-based identification, metabolomics, chemical fingerprinting, and artificial intelligence in the detection and authentication of herbal constituents. Current evidence indicates that the detection of a phytochemical confirms exposure but does not independently establish causation. Reliable forensic interpretation requires integration of toxicological findings with product analysis, botanical authentication, autopsy and histopathological observations, exposure history, and scene evidence. Major limitations include incomplete toxicological databases, scarce certified reference standards, postmortem redistribution, and the absence of validated toxic and lethal concentration ranges for most herbal compounds. Future progress will depend on standardized analytical protocols, expanded international databases, and stronger interdisciplinary collaboration to improve medico-legal decision-making and public health protection