Batu ginjal merupakan salah satu penyakit urologi dengan prevalensi yang cukup tinggi dan sering menimbulkan nyeri kolik akut yang memerlukan terapi analgesik. Nonsteroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAID) merupakan terapi lini pertama dalam penatalaksanaan nyeri pada pasien batu ginjal karena kemampuannya menghambat sintesis prostaglandin sehingga dapat menurunkan nyeri dan inflamasi. Penggunaan NSAID memiliki risiko menimbulkan efek samping, terutama pada saluran gastrointestinal, ginjal, dan hati, sehingga pemantauan keamanan penggunaannya sangat diperlukan. Data mengenai efek samping NSAID pada pasien batu ginjal di tingkat rumah sakit masih terbatas, khususnya di Rumah Sakit Islam Sunan Kudus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek samping obat NSAID pada pasien batu ginjal di Rumah Sakit Islam Sunan Kudus meliputi karakteristik pasien, pola penggunaan NSAID, jenis dan tingkat keparahan efek samping berdasarkan Common Terminology Criteria for Adverse Events (CTCAE) versi 5.0. Penelitian observasional dengan desain deskriptif retrospektif menggunakan data rekam medis pasien batu ginjal yang menerima terapi NSAID pada periode Januari 2024 hingga September 2025. Sampel sebanyak 132 pasien ditentukan dengan teknik purposive samplingsesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik demografi pasien, jenis dan durasi penggunaan NSAID, serta kejadian dan tingkat keparahan efek samping obat. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan bantuan perangkat lunak Statistical Package for the Social Sciences(SPSS) pada tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efek samping yang paling sering terjadi adalah gastrointestinal, dengan kejadian mual sebesar 25,0% dan nyeri ulu hati sebesar 18,9%, diikuti efek samping renal sebesar 15,1%, hepatik 3,8%, dan dermatologi 4,6%. Tingkat keparahan efek samping didominasi kategori moderate sebesar 87,9% dan mayor sebesar 12,1%. Analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara jenis NSAID dengan tingkat keparahan efek samping (p<0,05), sedangkan variabel usia, jenis kelamin, pekerjaan, lama diagnosis, dan durasi terapi tidak menunjukkan hubungan yang bermakna (p>0,05). Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar dalam penguatan praktik farmakovigilans serta mendukung peningkatan keamanan dan rasionalitas penggunaan NSAID pada pasien batu ginjal di rumah sakit.