Ketut Sunaryanto
Universitas Esa Unggul, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DEVELOPING A HUMAN CAPITAL MODEL FOR DIGITAL TRANSFORMATION IN THE SMART-FSM-BASED SECURITY OUTSOURCING INDUSTRY Yakub Gunawan; Rhian Indradewa; Unggul Kustiawan; Ketut Sunaryanto
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i4.14433

Abstract

Digital transformation has significantly reshaped the security outsourcing industry, requiring organizations to develop human resources capable of operating within technology-driven environments supported by Smart Field Service Management (Smart-FSM). Despite substantial investments in digital technologies, many organizations continue to face challenges in developing a workforce that possesses both security-related competencies and digital capabilities necessary to support operational effectiveness and service quality. This study aims to develop a Human Capital model to support digital transformation in the Smart-FSM-based security outsourcing industry. The study adopts a qualitative approach using a conceptual research method based on literature analysis and the synthesis of theories related to Human Capital, Digital Transformation, Talent Management, and Knowledge Management. The research process involved identifying digital competency requirements, examining relevant Human Capital dimensions, and developing an integrated conceptual model aligned with Smart-FSM implementation. The findings resulted in the development of a Human Capital model consisting of seven key dimensions: Digital Workforce Planning, Digital Recruitment and Selection, Learning and Development, Performance Management, Talent Management, Knowledge Management, and Employee Retention. The proposed model contributes to the development of a digitally adaptive security workforce, enhances service quality, strengthens customer satisfaction, and supports long-term business sustainability. Therefore, the model may serve as a strategic reference for security outsourcing companies seeking to implement sustainable digital transformation initiatives. ABSTRAK Transformasi digital telah secara signifikan membentuk kembali industri outsourcing keamanan, yang mengharuskan organisasi untuk mengembangkan sumber daya manusia yang mampu beroperasi dalam lingkungan berbasis teknologi yang didukung oleh Smart Field Service Management (Smart-FSM). Terlepas dari investasi besar dalam teknologi digital, banyak organisasi terus menghadapi tantangan dalam mengembangkan tenaga kerja yang memiliki kompetensi terkait keamanan dan kemampuan digital yang diperlukan untuk mendukung efektivitas operasional dan kualitas layanan. Studi ini bertujuan untuk mengembangkan model Modal Manusia untuk mendukung transformasi digital dalam industri outsourcing keamanan berbasis Smart-FSM. Studi ini mengadopsi pendekatan kualitatif menggunakan metode penelitian konseptual berdasarkan analisis literatur dan sintesis teori yang berkaitan dengan Modal Manusia, Transformasi Digital, Manajemen Bakat, dan Manajemen Pengetahuan. Proses penelitian melibatkan identifikasi persyaratan kompetensi digital, pemeriksaan dimensi Modal Manusia yang relevan, dan pengembangan model konseptual terintegrasi yang selaras dengan implementasi Smart-FSM. Temuan menghasilkan pengembangan model Modal Manusia yang terdiri dari tujuh dimensi utama: Perencanaan Tenaga Kerja Digital, Rekrutmen dan Seleksi Digital, Pembelajaran dan Pengembangan, Manajemen Kinerja, Manajemen Bakat, Manajemen Pengetahuan, dan Retensi Karyawan. Model yang diusulkan berkontribusi pada pengembangan tenaga kerja keamanan yang adaptif secara digital, meningkatkan kualitas layanan, memperkuat kepuasan pelanggan, dan mendukung keberlanjutan bisnis jangka panjang. Oleh karena itu, model ini dapat berfungsi sebagai referensi strategis bagi perusahaan outsourcing keamanan yang berupaya menerapkan inisiatif transformasi digital yang berkelanjutan.  
DIGITAL TRANSFORMATION MARKETING STRATEGY FOR SECURITY SERVICES: A NICE MARKETING MIX APPROACH FOR AI AND IOT ADOPTION IN EMERGING MARKETS Heru Hariyanto; Rhian Indradewa; Unggul Kustiawan; Ketut Sunaryanto
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.15279

Abstract

Digital transformation has become a critical strategic agenda across industrial security services to resolve recurring operational inefficiencies and visibility limitations. However, technology-based security solutions face persistent customer acceptance barriers within business-to-business emerging markets. This quantitative study aims to formulate an integrated marketing strategy framework for digital security services and identify priority initiatives supporting technology adoption. Data were gathered through structured questionnaires administered to 19 enterprise security decision-makers across industrial sectors in the Greater Jakarta region. Quantitative assessments utilized multi-criteria strategic evaluation models, including internal-external factor matrices and strategic priority matrices. The empirical findings reveal that data-based performance measurement difficulties and reporting delays represent the most critical customer pain points. Furthermore, quantitative priority testing established drone patrol system development as the paramount strategic initiative. The investigation concludes that implementing the networking, interaction, common interest, and experience framework with advanced artificial intelligence and internet-of-things ecosystems optimizes market penetration, strengthens corporate partnerships, and establishes sustainable competitive advantages in emerging markets. ABSTRAK Transformasi digital telah menjadi agenda strategis yang krusial di seluruh layanan keamanan industri untuk mengatasi inefisiensi operasional dan keterbatasan visibilitas yang berulang. Namun, solusi keamanan berbasis teknologi menghadapi hambatan penerimaan pelanggan yang persisten di pasar berkembang business-to-business (B2B). Studi kuantitatif ini bertujuan merumuskan kerangka strategi pemasaran terintegrasi untuk layanan keamanan digital serta mengidentifikasi inisiatif prioritas yang mendukung adopsi teknologi. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang dibagikan kepada 19 pengambil keputusan keamanan perusahaan di berbagai sektor industri di wilayah Jabodetabek (Greater Jakarta). Penilaian kuantitatif menggunakan model evaluasi strategis multikriteria, termasuk matriks faktor internal-eksternal (internal-external factor matrices) dan matriks prioritas strategis (strategic priority matrices). Temuan empiris mengungkapkan bahwa kesulitan pengukuran kinerja berbasis data dan keterlambatan pelaporan merupakan titik masalah pelanggan (pain points) yang paling kritis. Selain itu, pengujian prioritas kuantitatif menetapkan pengembangan sistem patroli drone (drone patrol system) sebagai inisiatif strategis utama. Investigasi ini menyimpulkan bahwa penerapan kerangka kerja networking, interaction, common interest, and experience (NICE) dengan ekosistem kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan internet of things tingkat lanjut mampu mengoptimalkan penetrasi pasar, memperkuat kemitraan korporasi, serta membangun keunggulan kompetitif yang berkelanjutan di pasar berkembang (emerging markets).