Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Description of Sugar Intake and Academic Performance Among Adolescents at SMPN 28 Bandung Ema Arum Rukmasari; Kharissa Permata Junita; Dyah Setiorini
International Journal of Science and Society Vol 7 No 4 (2025): International Journal of Science and Society (IJSOC)
Publisher : GoAcademica Research & Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/ijsoc.v7i4.1623

Abstract

Academic achievement is influenced by multiple factors, including daily nutritional intake. Sugar consumption is often associated with cognitive function and concentration; however, empirical findings remain inconsistent. This study aimed to analyze the relationship between sugar intake and academic achievement among adolescents. A quantitative study with a correlational design was conducted at SMPN 28 Bandung involving 164 students selected through simple random sampling. Sugar intake data were collected using a Semi-quantitative Food Frequency Questionnaire (SFFQ) and analyzed using the NutriSurvey program, while academic achievement was obtained from students’ report card scores across five semesters. The collected data were analyzed using Pearson’s correlation test because both variables were measured on a ratio scale and met the normality assumption. The results showed that the mean academic achievement score was 90.92 ± 2.34 and the mean sugar intake was 103.01 ± 58.32. Pearson correlation analysis indicated no significant relationship between sugar intake and academic achievement (r = -0.026; p = 0.737). The correlation strength was very weak and negative in direction. It can be concluded that sugar intake was not significantly associated with academic achievement among the study respondents. Other factors beyond sugar intake are likely to play a greater role in determining academic performance.
Penerapan Discharge Planning pada Anak dengan Luka Bakar Derajat II: Studi Kasus Kharissa Permata Junita; Windy Rakhmawati; Sri Hendrawati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1391

Abstract

Luka bakar pada anak berisiko menimbulkan komplikasi seperti infeksi, gangguan keseimbangan cairan, serta keterlambatan proses penyembuhan luka. Anak dengan luka bakar memerlukan perawatan berkelanjutan setelah pulang dari rumah sakit sehingga discharge planning menjadi bagian penting dalam menjaga kontinuitas perawatan dan mencegah komplikasi pasca perawatan di rumah. Namun, kesiapan keluarga sebagai caregiver dalam melakukan perawatan luka, memenuhi kebutuhan nutrisi, dan mencegah infeksi di rumah masih sering menjadi kendala. Karya ilmiah ini bertujuan mengetahui penerapan discharge planning pada anak dengan luka bakar derajat II. Studi kasus dilakukan pada An. H usia 1 tahun 4 bulan dengan diagnosis luka bakar derajat II seluas ±30% Total Body Surface Area (TBSA) di RS Sumedang pada tanggal 09–12 September 2025. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan studi dokumentasi. Intervensi discharge planning difokuskan pada edukasi keluarga terkait perawatan luka, pemenuhan nutrisi, serta pencegahan infeksi dengan menggunakan media leaflet serta demonstrasi perawatan luka dan penggantian balutan sebagai pendukung edukasi. Hasil yang dievaluasi meliputi pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam melakukan perawatan anak di rumah. Evaluasi dilakukan berdasarkan kemampuan keluarga untuk menjelaskan kembali materi yang telah diberikan serta mempraktikkan secara langsung penggantian balutan. Hasil penerapan discharge planning menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam melakukan perawatan luka bakar di rumah. Keluarga mampu menjelaskan kembali cara penggantian balutan, penggunaan salep antibiotik, kebutuhan nutrisi tinggi protein, serta tanda dan pencegahan infeksi pada luka bakar. Selain itu, keluarga mampu mempraktikkan penggantian balutan dengan benar dan memahami tindakan yang harus dilakukan apabila muncul tanda infeksi pada anak. Discharge planning yang dilakukan secara terstruktur dan bertahap serta melibatkan keluarga secara aktif dapat meningkatkan kesiapan keluarga sebagai caregiver dalam melanjutkan perawatan anak di rumah. Temuan ini menunjukkan pentingnya peran perawat dalam melaksanakan discharge planning sejak awal masa perawatan untuk mendukung kontinuitas perawatan dan mencegah komplikasi.