Siti Zazak Soraya
Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, East Java, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peran Profesi Guru Dalam Mencegah Bullying Di Sekolah Indrya Shalma; Fitria Sri Mualipah; Icha Aurillia Azahra; Siti Zazak Soraya
Hayati : Jurnal Pendidikan Vol 2 No 2 (2026): Education for every people
Publisher : Yayasan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sisi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69836/hayati.v2i2.873

Abstract

Bullying in schools is a serious social issue that negatively affects students' psychological, social, and academic conditions. KPAI data (2023) shows an increase in school violence cases to 329 cases , while UNICEF notes that 41% of 15-year-old students in Indonesia have experienced bullying. The discrepancy between the ideal condition of a safe school environment and the reality of widespread physical, verbal, social bullying, and cyberbullying highlights the need for interventions that address the root causes of the problem. This study aims to identify forms of bullying in schools, their impacts on students, and evaluate the role and strategies of teachers in prevention and handling efforts. The methodology used is a literature study by collecting relevant journal articles and scientific papers, which are then analyzed descriptively. The results indicate that verbal bullying is the most frequent form and is often dismissed as a mere joke. Bullying causes significant negative impacts, including decreased self-confidence, emotional trauma, anxiety, fear, and reduced concentration and academic performance. In this context, teachers play a pivotal role through active supervision of student interactions, character building, enforcing strict rules, and providing education and outreach. In conclusion, bullying is not a simple issue but a long-term threat to student development that requires structured interventions from schools. Based on these findings, it is recommended that schools strengthen consistent anti-bullying policies, provide accessible complaint mechanisms and counseling services, and optimize synergistic collaboration among teachers, schools, and parents to create a safe and inclusive learning environment.
Karakteristik Guru Profesional Yang Tidak Tergantikan Oleh Artificial Intelligence Miftakhul Hidayah Agustina; Aprila Gita Safitri; Alfi Ma'rifah; Ahmad Roikhan Al-adha; Siti Zazak Soraya
EduGrows: Education and Learning Review Vol. 2 No. 2 (2026): Education for All People? Really?
Publisher : Yayasan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sisi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69836/edugrows.v2i2.318

Abstract

Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) memberikan dampak besar dalam dunia pendidikan melalui penyediaan materi adaptif, efisiensi informasi, dan evaluasi pembelajaran otomatis. Namun, kemajuan ini memunculkan kekhawatiran terkait potensi pengikisan peran pendidik serta batas kemampuan teknologi dalam menggantikan fungsi mendasar guru, khususnya pada aspek pembentukan karakter, moral, dan nilai kemanusiaan peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta menganalisis karakteristik utama guru profesional yang tidak dapat digantikan oleh keberadaan AI. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis studi pustaka (library research) dan teknik analisis isi (content analysis) terhadap 16 sumber literatur berupa buku dan artikel ilmiah bereputasi terbitan tahun 2016–2026 yang relevan dengan profesionalisme guru, pembentukan karakter, dan teknologi AI. Hasil sintesis menemukan enam karakteristik utama guru profesional yang tidak tergantikan oleh AI, yaitu empati dan kepedulian terhadap peserta didik, keteladanan moral dan karakter, kemampuan membangun hubungan sosial, kreativitas dan inovasi pembelajaran, kemampuan menanamkan nilai dan budaya, serta kemampuan membimbing dan memotivasi peserta didik. Keterbatasan utama AI terletak pada ketiadaan pengalaman emosional, ikatan sosial timbal balik, pemahaman konteks kebudayaan yang mendalam, dan keteladanan nyata. Penelitian ini menyimpulkan bahwa AI tidak dapat menggantikan peran sentral guru profesional karena pendidikan tidak hanya berfokus pada efisiensi pemrosesan data, melainkan melibatkan dimensi relasional, moral, sosial, dan perkembangan manusia. AI sejatinya berfungsi sebagai teknologi pendukung untuk membantu tugas teknis-informasional. Sebagai rekomendasi, guru disarankan untuk terus mengasah literasi AI secara kritis dan etis guna mempermudah administrasi pembelajaran, sembari memperkuat kompetensi pedagogik, sosial, dan kepribadian. Selain itu, lembaga pendidikan dan pembuat kebijakan perlu memfasilitasi pelatihan integrasi teknologi yang berorientasi pada etika serta penguatan karakter pendidik.