This Author published in this journals
All Journal Jurnal Agrotan
Andi Haris Talanca
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EVALUASI VARIETAS/GENOTIPE JAGUNG QUALITY PROTEIN MAIZE (QPM) TERHADAP PENYAKIT BULAI: Evaluated of Genotypes of QPM (Quality Protein Maize) on Downy Mildews Jurnal Agrotan; Andi Haris Talanca
Jurnal Agrotan Vol. 1 No. 2 (2015): Jurnal Agrotan
Publisher : Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian, Peternakan, dan Kehutanan Universitas Muslim Maros

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ada beberapa jenis jagung khusus seperti jagung provit-A, Jagung pulut, dan jagung manis, serta jagung Quality Protein Maize (QPM). Jagung QPM kaya akan protein yaitu dua asam amino esensil (lisin dan triptofan) lebih tinggi dua kali lipat dari jagung biasa. Sifat khusus yang dimiliki jagung ini dikendalikan oleh gen opaque-2 (oo). Masalah utama pengembangan jagung QPM di Indonesia adalah gangguan penyakit bulai yang disebabkan oleh spesis cendawan Peronosclerospora phillipinensis. Kehilangan hasil akibat serangan penyakit bulai di berbagai Negara penghasil jagung seperti di India mencapai 50%, Phillipina 15-40%, dan Thailand 50-100%,serta Indonesia 100%, terutama pada varietas rentan bulai. Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan, Balai Penelitian Tanaman Serealia MK (April sampai Juni 2015). Sumber inokulum bulai (Anoman) di tanam dua baris di sekeliling petak percobaan dengan jarak tanam 20 x 75 cm tiga minggu sebelum tanaman uji di tanam. Pembuatan suspensi konidia dilakukan dengan mengambil daun jagung yang terinfeksi penyakit bulai dilapangan, kemudian dibersihkan dengan air mengalir, lalu dimasukkan dalam kantong plastik yang telah diisi air steril dan di remas-remas sampai konidia yang menempel pada daun jagung keluar bercampur dengan air. Suspensi inilah yang disemprotkan pada sumber inokulum (varietas Anoman) di pagi hari, kemudian diulangi esok paginya. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan sumber inokulum yang baik (persentase serangan bulai >80%). Sebanyak 11 genotipe jagung QPM dan varietas bersari bebas serta varietas cek tahan (Lagaligo) dan cek rentan (Anoman) ditanam dalam satu baris sepanjang 5 m dengan jarak tanam 20 x 75 cm, dan tiap lubang diisi satu benih jagung serta diulang dua kali. Pupuk pertama Phonska diberikan 10 HST sebanyak 300 kg/ha, dan pupuk kedua Urea 200 kg/ha (30-35 HST). Pengamatan intensitas serangan penyakit bulai dilakukan sebanyak dua kali yaitu pertama umur 30 HST dan 40 HST. dengan menghitung jumlah tanaman terinfeksi dan jumlah populasi tanaman setiap barisnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intenitas serangan penyakit bulai pada genotipe jagung QPM (MSQ (S1) C2) dan MSP (S2) C1), termasuk beberapa varietas bersari bebas seperti Srikandi kuning-2, 3, dan 4 menunjukan tingkat ketahanan yang sangat rentan (>60-100%), kecuali pada galur MSQ (S1) C0 47% (rentan), sementara varietas pembanding Anoman 86% (sangat rentan), dan Lagaligo 9% (sangat tahan). Kata kunci : Jagung QPM, Penyakit bulai, dan Ketahanan.
KETAHANAN BEBERAPA JAGUNG GALUR PERSILANGAN PLASMA NUTFAH TERHADAP PENYAKIT BERCAK DAUN: Resistancy of Several Maize Germplasm Crossed Lines to Leaf Blight Disease (Bipolaris maydis) Jurnal Agrotan; Andi Haris Talanca
Jurnal Agrotan Vol. 2 No. 1 (2016): Jurnal Agrotan
Publisher : Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian, Peternakan, dan Kehutanan Universitas Muslim Maros

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Plasma nutfah mengandung berbagai gen penting dengan karakter yang spesifik seperti tingkat ketahanan terhadap cekaman abiotis dan biotis. Karakter tersebut sangat dibutuhkan dalam pembentukan galur-galur elit sebagai materi dalam perakitan suatu varietas jagung unggul yang tahan terhadap penyakit utama jagung. Salah satu penyakit utama tanaman jagung adalah penyakit bercak daun yang disebabkan oleh cendawan dari jenis spesis Bipolaris maydis. Kehilangan hasil akibat serangan penyakit ini mencapai 50% terutama jika terinfeksi sebelum bunga betina keluar. Secara umum teknik pengendalian penyakit, termasuk bercak daun jagung yang mudah dan praktis diakukan oleh petani, serta aman terhadap lingkungan adalah penggunaan varietas tahan. Namun varietas jagung tahan terhadap penyakit bercak daun masih sangat terbatas. Oleh karena itu upaya mengevaluasi beberapa jagung galur persilangan plasma nutfah yang kemungkinan mempunyai gen dengan karakter spesifik tahan terhadap penyakit bercak daun terus dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter spesifik beberapa jagung galur persilangan plasma nutfah terutama tingkat ketahanannya terhadap penyakit bercak daun. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Bajeng, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan pada Mei hingga September 2014. Sebanyak 50 entri jagung galur persilangan plasma nutfah yang dievaluasi, dengan varietas Anoman sebagai cek rentan, dan varietas Bima-10 cek tahan. Jenis dan takaran pupuk yang digunakan adalah urea 200 kg/ha, ponskha 300 kg/ha. Parameter yang diamati adalah intensitas serangan penyakit bercak daun pada umur 40 HST dengan nilai skoring 1-5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuh entri jagung galur persilangan plasma nutfah yang toleran terhadap penyakit bercak daun yaitu CML-440/MR-4-25-11-1; CML-440/MR-4-25-36-1; CML-440/MR-4-25-49-1; CML-440/MR-4-25-78-1; CML-440/MR-4-25-81-1; CML-440/MR-4-11-16-1; dan CML-440/MR-4-9-23-1. Jagung galur persilangan plasma nutfah ini perlu ditindaklanjuti dengan pendekatan marka molekuler untuk mengetahui jarak genetiknya, sehingga dapat dijadikan sebagai materi dasar sumber gen tahan dalam perakitan jagung varietas unggul baru yang mempunyai sifat spesifik tahan terhadap penyakit bercak daun. Kata kunci: Plasma nutfah, bercak daun, ketahanan.