Kautsar Prastudia Eko Binuko
RSUD Dr. Harjono S. Ponorogo

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Asma Bronkial pada Anak Laki-Laki Usia 5 Tahun dengan Eosinofilia: Laporan Kasus Ayudya Pramesti; Kautsar Prastudia Eko Binuko
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asma adalah penyakit pernapasan kronis yang paling umum di seluruh dunia. Asma mempengaruhi 8,3% anak-anak di Amerika Serikat. Asma ditandai dengan inflamasi yang menyebabkan bronkokonstriksi, edema, dan peningkatan produksi mukous di saluran pernapasan. Inflamasi pada asma berbeda dengan gangguan inflamasi jalan nafas lainnya, yaitu inflamasi disertai dengan infiltrasi eosinofil. Laporan kasus ini melaporkan pasien asma pada anak dengan eosinofilia. Pasien anak laki-laki, berusia 5 tahun datang dengan keluhan sesak sejak sehari sebelum masuk RS. Sesak disertai suara "ngik-ngik", didahului batuk berdahak berwarna putih. Batuk dan sesak memberat pada malam hari, berkurang setelah mengonsumsi obat dari dokter. Pada pemeriksaan fisik didapatkan nafas cepat, pernapasan cuping hidung, allergic shinners, nasal crease, retraksi intercostal minimal. Auskultasi terdengar suara dasar vesikuler, didapatkan suara tambahan wheezing pada kedua lapang paru. Pemeriksaan penunjang laboratorium darah didapatkan peningkatan hitung jenis eosinofil 4,6%. Setelah diberikan inhalasi bronkodilator secara rutin, keluhan membaik dan pemeriksaan fisik normal. Remisi asma paling sering terjadi antara usia 14-21 tahun. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pemeriksaan hitung jenis eosinofil untuk membedakan asma dengan gangguan inflamasi jalan nafas lainnya.
Bayi Berat Lahir Cukup dengan Asfiksia Sedang Ocktavia Shinta Puspitosari; Kautsar Prastudia Eko Binuko
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asfiksia neonatal merupakan kegagalan bernafas secara spontan dan segera pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir yang akan ditandai dengan hipoksemia, hiperkarbia serta asidosis. Asfiksia neonatus adalah salah satu penyebab dari kematian bayi baru lahir sehingga dapat menyebabkan kecacatan dan perlambatan pertumbuhan serta perkembangan pada bayi. Laporan dari World Health Organization (WHO) pada tahun 2017 kelahiran prematur, komplikasi yang berhubungan dengan intrapartum (asfiksiaL lahir), infeksi serta cacat pada waktu lahir menyebabkan sebagian besar kematian neonatus pada 24 jam pertama. Faktor risiko dari asfiksia dapat disebabkan oleh factor ibu, faktor janin dan faktor plasenta termasuk didalamnya riwayat kehamilan, proses persalinan, dan janin. Laporan kasus seorang bayi perempuan baru lahir dari ibu 32 tahun G2P1A0 dengan usia kehamilan 37 minggu lahir dengan proses spontan di klinik bersalin. Saat lahir, skor apgar pada menit ke 1 dan 5 didapatkan skor apgar 5-6. Berat bayi lahir adalah 2500 gram dengan panjang 49 cm. Bayi di diagnosis dengan neonatus asfiksia sedang, neonatus aterm, neonates berat lahir cukup. Pada pasien ini di rujuk ke rumah sakit dan ditatalaksana dengan infus dextrose, injeksi antibiotic, injeksi Neo-K, injeksi dexametahasone, dan dipasang oksigen dengan CPAP. Bayi asfiksia neonatorum mempunyai masalah-masalah setelah lahir. Penanganan yang adekuat dapat mencegah kematian pada bayi asfiksia sedang.
Seorang Anak Laki-Laki 13 Tahun dengan Gagal Ginjal Akut Et Causa Glomerulonefritis Akut Paska Streptokokus Septiana Maulidya Fajrin; Kautsar Prastudia Eko Binuko
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gagal ginjal akut didefinisikan sebagai penurunan fungsi ginjal dalam waktu singkat. Gagal ginjal akut pada anak-anak mempunyai manifestasi klinis yang beragam mulai peningkatan serum kreatinin, penurunan urine output, hingga gagal ginjal anuria. Penyebab tersering gagal ginjal akut pada anak-anak adalah glomerulonefritis akut paska streptokokus (GNAPS), suatu penyakit peradangan non-supuratif pada glomerulus yang didahului oleh infeksi bakteri streptokokus beta hemolitikus grup A strain nefrogenik. Pada kasus ini dilaporkan seorang anak laki-laki berusia 13 tahun datang dengan keluhan sesak nafas dan bengkak pada kedua kaki selama 3 hari. Pasien mengalami demam naik turun sejak 2 hari sebelumnya, mual disertai muntah, batuk berdahak, dan nyeri ulu hati. Pasien merupakan santri pondok pesantren dan memiliki riwayat scabies yang dinyatakan sembuh 6 minggu sebelum keluhan sesak muncul. Pasien mengalami oliguria dan pemeriksaan penunjang menunjukkan efusi pleura kanan, proteinuria, hematuria, dan peningkatan kadar serum kreatinin. Diagnosis gagal ginjal akut et causa GNAPS ditegakkan. Terapi diberikan baik medikamentosa dan suportif. Respon pasien membaik seiring berjalannya waktu. Pada hari rawat ketujuh, pasien mengalami kejang dan perubahan status mental. Terapi tambahan untuk kejang diberikan dan monitoring dilakukan secara ketat. Pada hari ke-14 pasien menunjukkan perbaikan klinis. Diagnosis dan tatalaksana GNAPS secara dini dapat membantu mencegah terjadinya gagal ginjal akut.
Neonatus Berusia 7 Hari dengan Hiperbilirubinemia Dwi Hanif Mustofa; Kautsar Prastudia Eko Binuko
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hiperbilirubinemia adalah peningkatan kadar bilirubin >5mg/dL yang ditandai oleh munculnya ikterus pada kulit, sklera, dan mukosa akibat akumulasi bilirubin tak terkonjugasi yang berlebihan. Kebanyakan bayi baru lahir ini merupakan fenomena transisional yang normal, tetapi pada beberapa bayi, terjadi peningkatan bilirubin secara berlebihan sehingga berpotensi menjadi toksik dan dapat bermanifestasi klinis ke sekuele neurologis hingga kematian. Dengan demikian setiap bayi yang mengalami kuning perlu dibedakan apakah ikterus yang terjadi merupakan keadaan fisiologis atau patologis. Laporan kasus ini melaporkan sebuah kasus bayi berusia 7 hari yang dibawa ke RSUD dr. Harjono Ponorogo dengan keluhan tampak kuning. Bayi lahir pada usia kehamilan 37 minggu dan berat badan lahir 2700 gram. Bayi tampak kuning secara mendadak 6 jam sebelum masuk rumah sakit disertai keluhan demam dan malas minum. Ikterus pada bayi mencapai derajat Kramer 4 dengan kadar bilirubin indirect 20,3 mg/dl dan direct 0,7 mg/dl, tatalaksana utama pada pasien ini dengan fototerapi. Intervensi fototerapi dilakukan selama 1×24 jam sambil monitor respon pasien terhadap fototerapi, Setelah selesai fototerapi bayi dilihat secara klinis.
Berat Lahir Bayi Lahir Sangat Rendah dengan Asfiksia Sedang Kautsar Prastudia Eko Binuko; Tio Ugantoro
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang usia gestasi. Masalah yang sering timbul pada BBLR adalah Asfiksia masalah pernapasan kanera paru-paru yang belum matur, masalah pada jantung, perdarahan otak, fungsi hati yang belum sempurna, anemia atau polisitemia, lemak yang sedikit sehingga kesulitan mempertahankan suhu tubuh normal, masalah peneernaan/toleransi minum serta risiko infeksi. Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur. Faktor ibu adalah umur (<20 tahun atau >40 tahun), paritas, dan lain-lain. Faktor plasenta seperti penyakit vaskular, kehamilan ganda, dan lain-lain, serta faktor janin juga merupakan penyebab terjadinya BBLR. Pasien terdiagnosis BBLSR KB SMK dengan permasalahan di sistem pernapasannya oleh kanera infeksi seperti Hyaline Memrane Disease, Bronkhopneumonia danSepsis neonatorum. Continuos Positive Airway Pressure (CPAP) adalah merupakan suatu alat untuk mempertahankan tekanan positif pada saluran napas neonatus selama pernafasan spontan. CPAP merupakan suatu alat yang sederhana dan efektif untuk tatalaksana respiratory distress pada neonatus.
Asfiksia Neonatorum pada Bayi Aterm dengan Intrauterine Growth Restriction yang Lahir dari Ibu dengan Preeklampsia Berat: Laporan Kasus Faril Arwan Tri Rahma; Kautsar Prastudia Eko Binuko
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asfiksia neonatorum merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas neonatal, terutama pada bayi dengan faktor risiko seperti preeklampsia dan intrauterine growth restriction (IUGR). Asfiksia terjadi akibat kegagalan bayi baru lahir untuk memulai dan mempertahankan pernapasan spontan yang adekuat, sehingga menimbulkan hipoksemia dan asidosis. Laporan kasus ini membahas seorang bayi perempuan aterm dengan IUGR yang lahir melalui seksio sesarea atas indikasi preeklampsia berat. Bayi lahir dengan skor Apgar 4-6, berat badan lahir 2200 gram, dan menunjukkan tanda klinis asfiksia sedang. Diagnosis ditegakkan berdasarkan skor Apgar, kondisi klinis neonatus, serta adanya faktor risiko maternal dan perinatal. Tatalaksana awal dilakukan sesuai pedoman resusitasi neonatus terkini dengan fokus pada ventilasi efektif dan perawatan suportif. Setelah dilakukan penanganan segera, kondisi klinis bayi menunjukkan perbaikan dan stabil. Berdasarkan literatur, preeklampsia dan IUGR berperan dalam menurunkan cadangan oksigen janin dan mengganggu adaptasi ekstrauterin. Kasus ini menegaskan pentingnya deteksi dini faktor risiko dan resusitasi neonatus yang tepat untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.