Ratih Pramuningtyas
RS PKU Muhammadiyah Surakarta

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Dermatitis Seboroik dengan Leukemia Myeloidkronik: Laporan Kasus Geofany Hargi Findawan; Flora Ramona Sigit Prakoeswa; Ratih Pramuningtyas
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dermatitis seboroik merupakan penyakit kulit yang penyebabnya diduga oleh Malassezia spp. Keluhan yag muncul pada penderita dermatitis seboroik adalah rasa gatal disertai munculnya skuama berminyak yang dapat ditemukan kulit kepala, lipatan nasolabial, leher, dada, axila, dan pungung. Dermatitis seboroik dapat diperparah dengan adanya kondisi yang menurunkan imunitas tubuh seperti penyakit leukimia myeloid kronik. Dermatitis seborik bersifat kronik residif, sehingga menyebabkan penderita merasa putus asa dalam berobat. Tujuan penelitian adalah mendeskripsiskan penyakit,perjalanan klinis, dan prognosis. Penelitian ini berbentuk laporan kasus atau case report dari penderita dermatitis seborik dengan riwayat penyakit leukemia myeloid kronik dari Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta. Hasil penelitian ini menyarakan penggunaan ketoconazole 1-2%, desonide cream 0,05%, pimecrolimus cream 1%, dan sertaconazole cream 2%, karena pada terapi sebelumnya dengan menggunakan ketoconazole dan inerson ointment tidak menunjukkan perbaikan gejala pada pasien. Dermatitis seboroik merupakan kelainan kulit yang menyerang bagian kulit yang mengandung banyak kelenjar sebasea. Terapi yang dibutuhkan untuk mengatasi dermatitis seboroik adalah antifungal dan antiinflamasi.
Dampak Personal Hygiene dan Kebersihan Lingkungan terhadap Pasien Scabies dengan Latar Belakang Pedesaan: Laporan Kasus Shintia Suci Pratama Dewi; Flora Ramona Sigit Prakoeswa; Ratih Pramuningtyas
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Scabies merupakan investasi ektoparasit pada kulit oleh tungau Sarcoptes scabiei yang ditandai dengan rasa gatal di malam hari dan terdapat adanya papul dengan dasar eritema dan nampak adanya eksoriasi. Prevalensi scabies di dunia masih cukup tinggi. Scabies merupakan penyakit endemis di negara dengan iklim tropis dan subtropis seperti Asia, Afrika, Karibia, Australia Tengah, Australia Selatan dan Amerika Selatan. Scabies berada pada posisi ketiga dari 12 kasus penyakit kulit yang sering terjadi di indonesia. Scabies terjadi karena faktor risiko seperti sanitasi lingkungan tempat tinggal dan personal hygiene. Scabies ditularkan melalui kontak langsung dengan penderita atau lingkungan penderita. Laporan Kasus ini memaparkan dampak personal gygiene dan kebersihan lingkungan terhadap kejadian scabies dengan latar belakang pedesaan yang dialami oleh Ny.S, usia 50 tahun. Personal hygiene yang buruk dan kebersihan lingkungan yang kurang menjadi penyebab terjadinya scabies. Insidensi scabies banyak terjadi di pedesaan dikarenakan faktor pengetahuan dan kesadaran masyarakat yang kurang.
Pitiriasis Versikolor pada Pasien yang Menggunakan Imunosupresan yang Sering Terabaikan: Case Report Luky Muktasim; Ratih Pramuningtyas; Flora Ramona Sigit Prakoeswa
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pityriasis versicolor, infeksi jamur superfisial kronis yang disebabkan oleh jamur lipofilik dari genus,malassezia merupakan infeksi yang umum terjadi di daerah tropis, epidemiologi dari 100 pasien dengan pitiriasis versikolor, 70% adalah laki-laki dan 30% adalah perempuan. Pengaruh kortikosteroid atau riwayat konsumsi imunosupresan dosis tinggi mengakibatkan meningkatkan pertumbuhan jamur yang mengakibatkan lesi pada kulit. Pemeriksaan fisik menunjukkan papula hipopigmentasi multipel. Sebagian besar lesi bersifat folikulosentris ditemukan bahwa 3 dari pasien menderita infeksi pityriasis versikolor, dibuktikan dengan sediaan KOH yang positif. Tampaknya bermanfaat untuk mempelajari kejadian pityriasis versikolor pada sejumlah besar pasien yang diobati dengan steroid. Seorang laki-laki tuan R usia 64 tahun datang ke poliklinik RS dengan keluhan terdapat perubahan warna kulit di sekitar paha kanan dan paha kiri, keluhan sudah berlangsung sekitar 1 bulan yang lalu setelah konsumsi obat kortikosteroid diakui pasien. Pada pemeriksaan fisik, compos mentis, suhu 36,5°C, tekanan darah 120/80 mmHg, HR 70x/menit, saturasi oksigen 99%, dan RR 22x/menit. Pada status ujud kelainan kulit terdapat maculopapular hipopigmentasi.
Dermatitis Stasis dan Ulkus Stasis pada Wanita Dewasa dengan Chronic Venous Insufficiency: Laporan Kasus Kharisma Zahrotus Saida; Ratih Pramuningtyas
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit Vena Kronis (CVD) adalah kelainan umum yang berhubungan dengan gejala stadium lanjut suatu penyakit. Meskipun awalnya tidak menunjukkan gejala, CVD merupakan kelainan umum yang dapat dikaitkan dengan berbagai gejala. Kelas C4 (menurut klasifikasi CEAP) ditetapkan sebagai Chronic Venous Insufficiency (CVI). Dermatitis stasis sebagai manifestasi kulit dari CVI yang disebabkan oleh aliran darah vena retrograde. Ny. D berusia 46 tahun datang ke Poli Klinik Kulit dan Kelamin RS PKU Muhammadiyah Surakarta dengan keluhan terdapat perubahan warna kulit merah kehitaman sebagian pada kedua kaki, tampak luka pada kaki kanan yang sudah mengering, dan pembuluh darah yang melebar di kedua kaki. Pasien merupakan pasien kontrol rutin dengan diagnosis Chronic Venous Insufficiency. Pasien pertama kali periksa di Poli Klinik Bedah Thoraks dan Cardiovaskuler pada 2 tahun yang lalu dengan keluhan bengkak dan nyeri pada kedua kaki.
Tinea Pedis et Corporis pada Pekerja dengan Mobilitas Tinggi Bilqis Herdian Alfiya Hasna; Flora Ramona Sigit Prakoeswa; Ratih Pramuningtyas
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tinea pedis et corporis merupakan infeksi jamur superfisial akibat dermatofita yang sering ditemukan pada individu dengan paparan lingkungan lembap, hiperhidrosis, serta gangguan fungsi sawar kulit, dan berisiko menimbulkan kekambuhan bila tidak ditangani secara adekuat. Laporan kasus ini bertujuan mendeskripsikan gambaran klinis, faktor predisposisi, metode diagnostik, serta respons terapi pada pasien dengan tinea pedis et corporis. Metode yang digunakan berupa laporan kasus deskriptif pada seorang laki-laki usia 52 tahun dengan keluhan gatal kronik, kulit kaki pecah-pecah, berskuama, dan lesi papular anular pada punggung. Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dermatologis, serta pemeriksaan mikroskopis sediaan kalium hidroksida (KOH) 10% dari kerokan lesi yang menunjukkan hifa positif. Pasien mendapat terapi fluconazole oral, kombinasi antijamur-kortikosteroid topikal, antibiotik topikal, terapi simptomatik, dan edukasi perawatan kulit. Setelah dua minggu pengobatan, keluhan gatal berkurang, skuama dan fisura membaik, serta lesi kulit mengalami resolusi bertahap tanpa infeksi sekunder. Pendekatan terapi komprehensif disertai edukasi higiene terbukti memberikan perbaikan klinis yang baik dan membantu mencegah kekambuhan.