Andreas Sentot Suropati
RSUD Ir. Soekarno Kab. Sukoharjo

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Laporan Kasus: Tetanus Zaid Ziyaadatulhuda Ashshiddiiq; Andreas Sentot Suropati; Rusnaindah Ifta Firdausi
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2023: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gaster
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tetanus merupakan penyakit sistem saraf yang disebabkan oleh tetanospasmin (neurotoksin yang diproduksi oleh bakteri Clostridium tetani). Tetanus umum adalah yang paling jenis umum dari tetanus (80% dari kasus yang dilaporkan), sedangkan tetanus neonatal adalah tetanus umum pada anak-anak kurang dari satu bulan. Di seluruh dunia, kematian akibat tetanus neonatal telah menurun insiden dari 490.000 pada tahun 1994 menjadi 49.000 pada tahun 2013. Pada tahun 2015, Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan total 13.532 kasus tetanus di seluruh dunia, tetapi insiden global diperkirakan setinggi satu juta kasus per tahun. Pada laporan kasus ini, kami menyajikan seorang pasien dengan tetanus yang mendapatkan pelayanan di rumah sakit kami selama 10 hari. Seorang laki laki 54 tahun datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) kami dengan keluhan kaku seluruh tubuh 2 hari sebelum masuk rumah sakit (SMRS). Keluhan tersebut dirasakan terus menerus dan menyebabkan gangguan aktivitas sehari hari.Pasien dilakukan perawatan dan pengobatan selama 10 hari di rumah sakit sebelum akhirnya diizinkan pulang. Keadaan pasien semakin membaik pada 20 hari setelah gejala pertama dirasakan. Penanganan yang tepat dan segera kunci keberhasilan tatalaksana tetanus sehingga diharapkan dapat menurunkan angka mortalitas dan morbiditas.
Hipoglikemia pada Pasien dengan Riwayat Diabetes Melitus Valda Yulia Annisa; Andreas Sentot Suropati
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2023: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gaster
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes melitus adalah penyakit gangguan metabolik yang ditandai oleh kenaikan glukosa darah akibat penurunan sekresi insulin oleh sel β pankreas dan atau resistensi insulin. Komplikasi akut diabetes melitus adalah hipoglikemia, suatu keadaan di mana konsentrasi glukosa serum <70 mg/dL. Hipoglikemia pada pasien diabetes melitus sering berkaitan dengan penggunaan obat anti diabetik sulfonilurea. Seorang wanita usia 48 tahun dilaporkan dengan badan lemas, pusing, mual, muntah, berat badan turun, memiliki riwayat diabetes melitus dengan pengobatan rutin sulfonilurea, kadar gula darah 61 mg/dL sehingga pasien didiagnosis dengan hipoglikemia dan diterapi dengan larutan dextrose. Terapi diberikan untuk mengembalikan level gula darah pasien ke rentang normal dengan cepat serta mengurangi injuri. Sulfonilurea bekerja dengan meningkatkan sekresi insulin dan tidak tergantung pada glukosa sehingga mengakibatkan kejadian hipoglikemia yang lebih tinggi. Risiko hipoglikemia akibat sulfonilurea dikaitkan dengan farmakokinetik dan waktu paruh. Hipoglikemia dapat berlangsung lama sehingga harus diawasi sampai seluruh obat dieksresi dan waktu kerja obat telah habis.
Tinjauan Aspek Klinis Leptospirosis Lupma Miftah Ul Izza Aziz1; Andreas Sentot Suropati
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2023: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gaster
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Leptospirosis adalah suatu penyakit akibat infeksi dari bakteri Leptospira. Penyakit ini dapat menyerang manusia dan hewan seperti anjing, kucing dan babi. Leptospirosis sering ditemukan pada wilayah tropis dan subtropis terutama pada musim penghujan. Dilaporkan pada tahun 2019, sebanyak 920 kasus leptospirosis terjadi di Indonesia dan terdapat 122 kasus kematian. Gejala yang ditimbulkan cukup bervariasi, seperti nyeri pada kepala, nyeri otot betis, nyeri otot paha, demam hingga terjadinya perdarahan subkonjungtiva pada kedua mata penderita, hepatomegali serta ikterik. Pemeriksaan penunjang leptospirosis dapat dilakukan dengan Microscopic Agglutination test, Poly Chain Reaction, dan Rapid Diagnostic Test. Terapi yang dapat diberikan berupa terapi antibiotik dan terapi suportif. Apabila leptospirosis tidak ditangani dengan segera, akan menimbulkan komplikasi yaitu syok, perdarahan masif, dan Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) yang merupakan penyebab utama kematian pada leptospirosis. Prognosis pada leptospirosis umumnya baik dan dapat sembuh secara total. Namun beberapa pemulihan pasien dapat berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran aspek klinis mengenai penyakit leptospirosis pada manusia. Pencegahan leptospirosis perlu dilakukan secara dini agar tidak menimbulkan komplikasi hingga kematian.
Laporan Kasus: Laki-Laki 51 Tahun dengan Sirosis Hepatis Varises Esofagus Rusnaindah Ifta Firdausi; Zaid Ziyaadatulhuda Ashshiddiiq; Andreas Sentot Suropati
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2023: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gaster
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sirosis hepatis (SH) merupakan penyakit hati menahun yang difus ditandai dengan adanya pembentukan jaringan ikat disertai nodul. Biasanya diawali dengan adanya proses peradangan, nekrosis sel hati yang luas, pembentukan jaringan ikat dan usaha regenerasi dengan terbentuknya nodul yang mengganggu susunan lobulus hati. Kami melaporkan kasus Sirosis hepatis dan ruptur Varises Esofagus pada seorang laki-laki berusia 51 tahun. Pasien datang ke Instalasi Gawat Darurat dengan keluhan utama BAB hitam sejak 1 minggu SMRS disertai lemas, demam, nyeri ulu hati, makan minum sulit, mual, bengkak pada kaki, perut membesar, dan terasa penuh. Kulit dan mata kuning sejak 2 minggu SMRS. Pasien mengaku memiliki riwayat sirosis hepatis. Selanjutnya pasien diobservasi di Instalasi Gawat Darurat. Pada pemeriksaan darah menunjukan kadar Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) 157.21 U/L danSerum Glutamic Pyruvate Transaminase (SGPT) 34.4 U/L, sedangkan bilirubin total adalah 1.04 mg/dL. Pasien didignosis dengan sirosis hepatis. Setelah 5 hari perawatan di rumah sakit, pasien mengalami perbaikan dipersilahkan melanjutkan perawatan di rumah.