Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

MANAJEMEN PENYELAMATAN IBU HAMIL PASCA BENCANA Ika Nuria Syafira Iswarani; Ismatu Aghni Fatwa Izzati; Rusnaindah Ifta Firdausi; Dodik Nursanto
Al-Iqra Medical Journal : Jurnal Berkala Ilmiah Kedokteran Vol 2, No 2 (2019): Emergency Medicine
Publisher : Journal Medical Universitas muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/aimj.v2i2.3953

Abstract

Republic Indonesia is a disaster prone area, usually the victims are women, children, and elderly. The victim which need spesial treatment is pregnant women. The purpose of this literature review is to provide knowledge to readers in helping the post-disaster pregnant women. The method that we use in is reviewing articles through Google Scholar, Pubmed, and Mendeley. Before the evacuation, triage actions need to be carried out as an effort to sort out the patient's priorities based on the urgency of the management and consideration of the resources available for the management. Pregnant women are included in the first priority group (red) which means that they need immediate and appropriate help. The most appropriate evacuation for pregnant women is a sloping position with knees folded. If there is a back injury, make an effort so that the inferior vena cava is not crushed by the uterus. Injuries that need to be watched out for are bleeding, shock, DIC, and eclampsia. Nutritional and psychological recovery of pregnant women is also very important to prevent things that are not desirable for both mother and fetus.
Peran Bakteri Wolbachia Terhadap Pengendalian Vektor Demam Berdarah Dengue (DBD) Aedes aegypti Rusnaindah Ifta Firdausi; Rochmadina Suci Bestari; Listiana Masyita Dewi; N Nurhayani
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 13th University Research Colloquium 2021: Kesehatan dan MIPA
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.867 KB)

Abstract

Demam berdarah dengue masih menjadi masalah di berbagai belahan dunia. Untuk itu diperlukan metode pengendalian vektor antara lain melalui penggunaan insektisida meskipun dapat menyebabkan resistensi. Tindakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan teknik serangga mandul (TSM), namun metode ini kurang efektif. Hal tersebut mendorong dikembangkannya metode alternatif baru seperti penggunaan bakteri Wolbachia. Bakteri Wolbachia mampu menghambat replikasi virus dengue, sehingga ketika nyamuk betina ber-Wolbachia menghisap darah manusia yang mengandung virus dengue. Nyamuk tersebut tidak dapat menularkan virus dengue ke manusia lain dan menyebabkan ketidakcocokan sitoplasma ketika nyamuk betina tidak ber-Wolbachia kawin dengan nyamuk jantan ber-Wolbachia. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui peran bakteri Wolbachia terhadap pengendalian vektor demam berdarah dengue Aedes aegypti. Desain penelitian menggunakan metode literature melalui penelusuran dengan menggunakan database google scholar, pubmed, dan sciene direct. Hasil penelitian bakteri Wolbachia mampu menginduksi ketidakcocokan sitoplasma dan menyebabkan kematian embrio. Strain w MelPop-CLA memperpendek umur dan memblok transmisi DENV2. Strain w Mel menyebakan penurunan viabilitas telur, menurunkan kemampuan menghisap darah, dan menurunkan titer virus di dalam saliva nyamuk sehingga dapat menurunkan prevalensi penyakit demam berdarah dengue. Simpulan bakteri Wolbachia memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai alternatif dalam upaya pengendalian vektor demam berdarah dengue (DBD) Aedes aegypti.
Transeksi Spinal Komplet Mada Sukma Dytho; Valda Yulia Annisa'; Rusnaindah Ifta Firdausi; Ahmad Muzayyin
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Kejadian trauma sumsum tulang belakang lengkap memiliki angka insidensi lebih tinggi pada laki-laki, dengan kejadian terbanyak pada usia 15-29 tahun dan diatas >50 tahun dengan angka kejadian diestimasikan 10,4-84 kasus per 1 juta penduduk pertahun. Trauma medula spinalis lengkap dapat memakan biaya 1,1 hingga 4,6 juta dolar per pasien selama masa hidupnya. Metode: Penulisan artikel dengan desain Literature Review sehingga memerlukan beberapa sumber database dan penggunaan kata kunci yang berkaitan yang nantinya akan ditelaah dan dirangkum. Hasil: medula spinalis merupakan struktur tubuler pada kolumna vertebralis yang merupakan kepanjangan dari batang otak dan berjalan hingga daerah lumbar. Transeksi spinal komplet merupakan hilangnya kemampuan mengirim impuls sensorik dan motorik secara lengkap dan permanen atau temporer melalui tingkatan sumsum tulang belakang yang terpengaruh karena kerusakan secara traumatis maupun non-traumatis. Pemeriksaan fisik neurologis sensorik maupun motorik berguna untuk menentukan tingkatan lesi. Tatalaksana pada kasus ini yang dimulai dari stabilisasi pasien hingga pemberian steroid berguna bagi pasien. Simpulan:transeksi spinal komplet memerlukan anamnesis dan pemeriksaan fisik maupun penunjang guna menentukan diagnosis serta tingkat keparahan, penanganan segera diperlukan untuk mencegah terjadinya komplikasi serta meningkatkan prognosis dari pasien.
Laporan Kasus: Laki-Laki 51 Tahun dengan Sirosis Hepatis Varises Esofagus Rusnaindah Ifta Firdausi; Zaid Ziyaadatulhuda Ashshiddiiq; Andreas Sentot Suropati
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2023: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gaster
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sirosis hepatis (SH) merupakan penyakit hati menahun yang difus ditandai dengan adanya pembentukan jaringan ikat disertai nodul. Biasanya diawali dengan adanya proses peradangan, nekrosis sel hati yang luas, pembentukan jaringan ikat dan usaha regenerasi dengan terbentuknya nodul yang mengganggu susunan lobulus hati. Kami melaporkan kasus Sirosis hepatis dan ruptur Varises Esofagus pada seorang laki-laki berusia 51 tahun. Pasien datang ke Instalasi Gawat Darurat dengan keluhan utama BAB hitam sejak 1 minggu SMRS disertai lemas, demam, nyeri ulu hati, makan minum sulit, mual, bengkak pada kaki, perut membesar, dan terasa penuh. Kulit dan mata kuning sejak 2 minggu SMRS. Pasien mengaku memiliki riwayat sirosis hepatis. Selanjutnya pasien diobservasi di Instalasi Gawat Darurat. Pada pemeriksaan darah menunjukan kadar Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) 157.21 U/L danSerum Glutamic Pyruvate Transaminase (SGPT) 34.4 U/L, sedangkan bilirubin total adalah 1.04 mg/dL. Pasien didignosis dengan sirosis hepatis. Setelah 5 hari perawatan di rumah sakit, pasien mengalami perbaikan dipersilahkan melanjutkan perawatan di rumah.