S Sudarmanto
RSUD dr. Harjono Ponorogo

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Temuan Klinis pada Bayi dengan Meningoensefalitis Angiesta Pinakesty; Rada Citra Saputra; S Sudarmanto
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2023: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gaster
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Temuan klinis berperan penting dalam menegakkan diagnosis meningoensefalitis mengingat morbiditas dan mortalitasnya yang masih tinggi. Insiden terjadinya mencapai 3-5 per 100.000 orang setiap tahunnya dan hamper setengahnya meninggal meski telah mendapatkan penanganan maksimal. Manifestasi klinis yang ditemukan pada kasus meningoensefalitis dapat bervariasi. Tidak ada satu gejala pun yang khas ditemukan pada kasus meningoensefalitis. Beberapa kasus meningoensefalitis memiliki gejala meningitis yang berhubungan dengan usia, seperti pada bayi gejala yang timbul dapat berupa demam, iritabel, letargi, malas minum, dan high-pitched-cry. Sedangkan, gejala klasik ensefalitis yang dapat ditemukan, antara lain demam mendadak tinggi sampai hiperpireksia, penurunan kesadaran dengan cepat, nyeri kepala, ensefalopati, dan kejang. kejang dapat bersifat umum atau fokal, dapat pula berbentuk status konvulsivus. Dapat ditemukan sejak awal atau kemudian dalam perjalanan penyakitnya. Hasil pemeriksaan fisik dapat ditemukan iritabilitas atau penurunan kesadaran, UUB menonjol, tanda rangsang meningeal, tanda peningkatan TIK, serta tanda infeksi. Kasus ini menggambarkan temuan klinis meningoensefalitis pada bayi perempuan usia 1 bulan dengan keluhan utama kejang yang didahului demam serta riwayat ibu demam tinggi saat kehamilan diakui. Pada pemeriksaan fisik didapatkan ubun-ubun cembung, sklera ikterik, dan kaku leher. Pada pemeriksaan penunjang serologi IgG CMV positif.
Anak Perempuan Usia 4 Tahun dengan Typhoid Fever Ananda Livanka Putra Niardhy; S Sudarmanto
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demam tifoid merupakan penyakit infeksi sistem pencernaan akut yang disebabkan oleh bakteri Salmonella paratyphi atau Salmonella typhi. Demam tifoid sering ditemukan di negara-negara berkembang karena sanitasi yang kurang baik. Pada tahun 2000 demam tifoid tampaknya kurang umum atau kurang diketahui di Afrika dibandingkan dengan Asia, namun penelitian baru mengkonfirmasi bahwa kejadian demam tifoid tinggi di beberapa bagian Afrika. Perkiraan dari 5 tahun terakhir menunjukkan bahwa 11,0–17,8 juta penyakit demam tifoid terjadi setiap tahun di seluruh dunia. Gejala demam tifoid yang sering ditemukan adalah demam, nyeri perut, malaise dan konstipasi. Pemeriksaan kultur bakteri merupakan gold standard dalam penegakkan diagnosis demam tifoid, akan tetapi pemeriksaan ini jarang dilakukan. Terapi lini pertama demam tifoid adalah kloramfenikol. Namun seiring dengan meningkatnya bakteri yang resisten terhadap kloramfenikol, maka pilihan terapi utama dari demam tifoid adalah antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga dan fluorokuinolon. Laporan kasus ini membahas tentang seorang anak perempuan berusia 4 tahun dengan demam tifoid. Dan diberikan terapi berupa infus D5 ½ Nacl 15 tpm, injeksi ceftriaxone 2x400mg, injeksi santagesik 3x1/3 amp, PO bioticel syr 3x1 cth.