Rahma Anindita
RSUD dr. Sayidiman Magetan

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Kejang Demam Sederhana pada Anak Usia 3 Tahun Idoviari Putriyantiwi; Rahma Anindita
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kejang demam didefinisikan sebagai bangkitan yang terjadi pada anak yang berumur sekurang kurangnya 6 bulan hingga 5 thun yang diikuti kenaikan suhu tubuh diatas normal( suhu > 38 C dengan metode pengukuran apapun) yang tidak disebabkan oleh proses intrakranial. Kejang terjadi karena kenaikan suhu tubuh, bukan karena gangguan elektrolit atau metabolik lainnya, bila ada riwayat kejang tanpa demam sebelumnya maka tidak disebut sebagai kejang demam. Kami melaporkan kasus seorang anak laki-laki berusia 3 tahun datang ke Instalasi Gawat Darurat RSUD dr. Sayidiman Magetan dengan keluhan kejang didahului demam, saat kejang pasien tampak kelojotan dan kekakuan, mata melirik keatas, mengigit lidah, saat kejang pasien tidak sadar (tidak merespon saat dipanggil), setelah kejang pasien sadar dan bisa menjawab panggilan ibunya. Kejang 1x24 jam. Durasi kejang <15 menit. Pasien belum pernah mengalami kejang sebelumnya. Keluhan lain sebelum kejang adanya diare pada anak. Tanda vital pada pasien baik GCS E4V5M6, kesadaran compos mentis frekuensi nadi 120x/menit, nafas 28x/menit, suhu 38.5˚C, SpO2 98 % (room air). Pada ekstremitas superior/inferior didapatkan CRT <2 detik, akral hangat. Pemeriksaan Neurologis, untuk pemeriksaan reflek fisiologis dalam batas normal, tidak didapatkan reflek patologis. Pada pemeriksaan laboratorium elektrolit serum dan gula darah sewaktu dalam batas normal.
Demam Tifoid pada Anak Laki-Laki Usia 18 Bulan: Laporan Kasus Eurolia Naba Mutiarasari; Rahma Anindita
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demam tifoid merupakan penyakit endemis di Indonesia yang disebabkan oleh infeksi sistemik Salmonella typhi sisanya disebabkan oleh Salmonella paratyphi. Penyakit ini mudah berpindah dari satu orang ke orang lain yang kurang menjaga kebersihan diri dan lingkungannya yaitu penularan secara langsung jika bakteri ini terdapat pada feses, urine atau muntahan penderita dapat menularkan kepada orang lain dan secara tidak langsung melalui makanan atau minuman. Prevalensi angka kejadian demam tifoid di Indonesia menurut data Kementerian Kesehatan RI menyebutkan sekitar 350- 810 per 100.000 penduduk. Itu artinya tiap tahun ada sebesar 600.000-1.500.000 kasus demam tifoid. Kami melaporkan seorang anak laki-laki berusia 18 bulan datang ke Instalasi Gawat Darurat dengan keluhan Demam sejak 11 hari yang lalu. Berdasarkan keluhan, pemeriksaan fisik, dan penunjang, diagnosis awal pada pasien adalah Demam Tifoid Kasus ini menggambarkan kasus Demam Tifoid. Kasus ini menekankan pada pentingnya diagnosis dan pengobatan optimal pada kasus Demam Tifoid.
Seorang Anak Laki-Laki Usia 8 Tahun dengan Varicella Zoster Disertai Infeksi Sekunder Nabila Safhira Titan Kencana; Rahma Anindita
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Varicella atau chickenpox atau yang dikenal dengan cacar air adalah infeksi primer virus varicella-zoster (VZV) yang umumnya menyerang anak dan merupakan penyakit yang sangat menular. Varicella dapat menyerang semua golongan umur termasuk neonatus, 90% kasus berumur 10 tahun dan terbanyak umur 5-9 tahun. Usia adalah hal yang penting dalam hal faktor risiko terjadinya varicella, dengan anak kecil lebih rentan terhadapnya infeksi varicella. Varicella menular melalui kontak langsung dengan penderita melalui sekret saluran pernapasan dan cairan pada vesikel. Dalam kasus ini dilaporkan anak usia 8 tahun yang dibawa ke Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Daerah Sayidiman Magetan dengan keluhan bintik-bintik kemerahan berisi cairan di bagian wajah dan badan sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Berdasarkan keluhan, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang diagnosis awal pada pasien adalah Varicella Zoster disertai infeksi sekunder. Kasus ini menggambarkan Varicella Zoster. Kasus ini menekankan pada pentingnya diagnosis, pengobatan dan pencegahan yang optimal pada kasus Varicella Zoster. Meskipun kasus ini bersifat self limiting disease, tetapi penanganan yang cepat dan tepat dapat mengurangi berbagai macam komplikasi yang muncul yang disebabkan pada penyakit ini.
Seorang Anak Laki-Laki Usia 6 Bulan dengan Diare Cair Akut tanpa Dehidrasi: Laporan Kasus Siti Zulfatul Afifah; Rahma Anindita
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diare akut adalah buang air besar lebih dari 3 kali dalam 24 jam, dengan konsistensi cair, dan berlangsung kurang dari 1 minggu. 1,7 miliar kasus diare setiap tahunnya yang tercatat secara global. Sebanyak 525.000 kasus meninggal akibat diare yang terjadi pada anak kurang dari lima tahun pada kejadian tersebut. Diare merupakan penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme meliputi bakteri, virus, parasit, serta protozoa, dan penularannya secara fekal-oral. Faktor risiko terjadinya penyakit diare antara lain rendahnya pola hidup sehat masyarakat khususnya dalam penyediaan sarana sanitasi yang baik untuk menunjang kesehatan lingkungan (penggunaan sarana air bersih, jamban keluarga, pembuangan sampah, pembuangan air limbah). Kami melaporkan kasus anak laki-laki berusia 6 bulan datang ke Instalansi Gawat Darurat di RSUD dr. Sayidiman Magetan dengan keluhan demam naik turun kurang lebih 2 hari SMRS, disertai batuk grok-grok dan dan BAB cair sejak 1 hari SMRS sebanyak + 1x, BAB cair berwarna kuning kecoklatan. Berdasarkan keluhan, pemeriksaan fisik, dan penunjang, diagnosis awal pada pasien adalah diare cair akut tanpa dehidrasi. Kasus ini menggambarkan kasus diare cair akut. Kasus ini menekankan pada pentingnya diagnosis dan pengobatan optimal pada kasus diare cair akut.
Seorang Anak Usia 7 Tahun setelah Mengalami Drowning M. Ridho Tjan; Rahma Anindita
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Drowning merupakan suatu keadaan masuknya cairan yang cukup banyak ke dalam saluran napas atau paru-paru sehingga dapat terjadi gangguan pada pernapasan, dengan atau tanpa adanya komplikasi. Beberapa faktor risiko terjadinya tenggelam adalah jenis kelamin laki-laki, kurangnya pengawasan, dan epilepsi. Pada kasus ini, seorang anak laki-laki usia 7 tahun datang ke IGD dengan keluhan gelisah setelah tenggelam di kolam renang umum. Dia dirujuk dari puskesmas untuk dilakukan pemeriksaan rontgen dada. Saat di IGD terjadi penurunan kesadaran, pasien tampak gelisah dan meronta-ronta, napas cepat, mata pasien tertutup dan tidak bisa diajak komunikasi. Sebelum masuk rumah sakit pasien mengalami muntah berisi air jernih berkali-kali kemudian saat di IGD pasien kembali mengalami muntah berisi air bercampur makanan. Pada pemeriksaan penunjang yaitu Foto Thorax AP didapatkan edema paru akut dengan diagnosis banding pneumonia aspirasi. Pada kasus ini, setelah mendapat terapi oksigen selama 1 jam di IGD pasien kembali sadar dan dapat berkomunikasi. Selain itu diberikan terapi medikamentosa yaitu antibiotik dengan rute intravena.
Kejang Demam Kompleks pada Anak Usia 2 Tahun: Laporan Kasus Rahmat Dani Yamsun; Rahma Anindita
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kejang demam didefinisikan sebagai bangkitan yang terjadi pada anak yang berumur sekurang kurangnya 6 bulan hingga 5 tahun yang diikuti kenaikan suhu tubuh diatas normal( suhu > 38 C dengan metode pengukuran apapun) yang tidak disebabkan oleh proses intracranial. Kasus kejang demam di Indonesia ditemukan sekitar 2-4% anak berusia 6 bulan sampai 5 tahun. Apabila sudah berusia >6 tahun tetapi jika demam tinggi mendadak mengalami kejang disebut febrile seizure plus. Anak laki-laki dengan kejang demam lebih banyak (66%) dibandingkan dengan anak perempuan (34%). Kejang demam kompleks merupakan kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit , kejang fokal atau parsial satu sisi atau kejang umum didahului kejang parsial.berulang atau lebih dari 1 kali dalam waktu 24 jam. Salah satu dari ketiga kriteria tersebut ada dapat disebut kejang demam kompleks. Kami melaporkan kasus anak berusia 2 tahun dibawa ke Instalasi Gawat Darurat RSUD dr. Sayidiman Magetan dengan keluhan kejang 2 kali dalam 24 jam, durasi kejang 1-2 menit. Berdasarkan keluhan, pemeriksaan fisik, dan penunjang, diagnosis awal pada pasien adalah kejang demam kompleks. Kasus ini menggambarkan kasus kejang demam kompleks. Kasus ini menekankan pada pentingnya diagnosis dan pengobatan optimal pada kasus kejang demam kompleks.
Seorang Anak Laki-Laki dengan Tonsilofaringitis Kronis Eksaserbasi Akut Karmila Indar Parawansa; Rahma Anindita
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tonsilofaringitis merupakan peradangan pada tonsil palatina dan faring yang termasuk dalam infeksi saluran napas atas dan sering terjadi pada anak. Penyakit ini dapat disebabkan oleh infeksi virus maupun bakteri, dengan Group A β-hemolytic Streptococcus (GABHS) sebagai penyebab bakteri tersering. Episode infeksi akut yang berulang atau tidak tertangani dengan adekuat dapat berkembang menjadi tonsilofaringitis kronis dan mengalami eksaserbasi akut. Laporan kasus ini menggambarkan seorang anak laki-laki usia 8 tahun 6 bulan dengan keluhan utama nyeri tenggorokan sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit, disertai nyeri telan, demam tinggi terus-menerus, lemas, mual, muntah, nyeri perut, serta penurunan nafsu makan. Pasien memiliki riwayat nyeri telan berulang dan rasa mengganjal di tenggorokan selama ±3 bulan. Pada pemeriksaan fisik ditemukan tonsil palatina membesar T3/T3, hiperemis, disertai detritus dan pelebaran kripte, faring hiperemis, serta pembesaran kelenjar submandibular bilateral yang nyeri tekan. Skor modifikasi McIsaac didapatkan nilai 4. Pemeriksaan penunjang menunjukkan leukositosis dengan dominasi neutrofil, peningkatan C-reactive protein (CRP), serta peningkatan titer Anti-Streptolysin O (ASTO), yang mendukung adanya infeksi streptokokus. Berdasarkan temuan tersebut ditegakkan diagnosis tonsilofaringitis kronis eksaserbasi akut ec infeksi bakteri probable Group A Streptococcus. Pasien diterapi dengan cairan intravena, antipiretik, kortikosteroid, antibiotik, serta obat kumur antiseptik, dengan hasil perbaikan klinis yang signifikan.