Milany Harirahmawati
RSUD Kabupaten Karanganyar

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Seorang Laki-Laki Usia 35 Tahun dengan Morbus Hansen dan Reaksi Eritema Nodosum Leprosum (ENL) Maulina Yulianti; Milany Harirahmawati; Narendra Putra Adi Pamungkas; Lorenza Eka Damayanti; Hengki Setyawan; Aisyawa Sabrina Aliyah Sanyoto
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang : Morbus Hansen atau Kusta adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium leprae. Kuman M. Leprae masuk ke dalam tubuh seseorang dapat timbul gejala klinis sesuai dengan kerentanan pasien. Reaksi kusta merupakan penyebab signifikan morbiditas pada populasi penderita kusta. Eritema Nodosum Leprosum (ENL) merupakan komplikasi imunologi yang menyerang sekitar 50% pasien kusta lepromatosa (LL) dan 10% kusta borderline lepromatous (BL). Studi Kasus : Seorang laki-laki usia 35 tahun mengeluhkan gatal pada area UKK. Pasien pertama kali datang ke Poliklinik Kulit RSUD Karanganyar terdiagnosis Morbus Hansen dengan keluhan pertama muncul papul eritema kecoklatan diseluruh wajah dan tubuh. Hasil pemeriksaan fisik semua normal kecuali status dermatologis pasien terdapat macula eritema kecoklatan multiple pada wajah dan tubuh serta nodul eritema multiple di punggung dengan lesi >5 pada seluruh permukaan wajah, leher, dada, punggung, tangan dan kaki. Hasil pemeriksaan saraf tidak terdapat anestesia dan pemeriksaan laboratorium Hansen BTA Kulit dinyatakan positif. Pasien terdiagnosa Morbus Hansen dengan reaksi Eritema Nodosum Leprosum (ENL). Kesimpulan : Diagnosa pasien yaitu Morbus Hansen tipe multibasilar (MB) dengan reaksi Eritema Nodosum Leprosum (ENL).
Karsinoma Sel Basal Dwi Atika; Milany Harirahmawati
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karsinoma Sel Basal (KSB) adalah kanker kulit tipe non melanoma yang berasal dari lapisan basal epidermis dan tidak mengalami keratinisasi. Karsinoma sel basal dikenal juga dengan basalioma atau sel basal epitelioma, penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan jaringan sekitar yang cukup besar sehingga mempengaruhi fungsi organ dan penampilan. Karsinoma sel basal sering ditemukan pada area yang terpapar sinar ultraviolet (UV), misalnya di daerah kepala, leher dan banyak ditemukan pada pasien berusia lanjut. Penyakit ini dapat menyerang secara lokal mengakibatkan kerusakan jaringan yang cukup besar sehingga mempengaruhi fungsi dan penampilan. Pertumbuhannya lambat dan jarang metastasis tetapi pada beberapa kasus dapat bersifat sangat agresif dengan infiltrasi cepat dan menghancurkan struktur yang lebih dalam. Insidensi KSB tercatat mencapai 2,75 juta kasus di seluruh dunia pada setiap tahunnya sehingga telah berkembang menjadi masalah kesehatan tersendiri. Di Indonesia, berdasarkan data Badan Registrasi Kanker, Ikatan Ahli Patologi Indonesia, dari 1.530 kasus kanker kulit, terdapat 39,93% kasus karsinoma sel basal sebagai kasus terbanyak.
Laki-Laki Usia 16 Tahun dengan Hidradenitis Suppurativa: Laporan Kasus Andrea Safira Salsabila; Milany Harirahmawati
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Prevalensi kejadian Hidradenitis Suppurativa (HS) diperkirakan 4,1%. Kejadian terbanyak pada masa pubertas sampai dewasa muda, dan masa klimakterik dengan onset rata-rata pada umur 23 tahun. Penyakit ini dilaporkan lebih sering pada perempuan, dengan perbandingan antara 2:1 hingga 5:1. Tujuan: Artikel ini menyajikan kasus Hidradenitis Suppurativa, yang bertujuan untuk menegakkan diagnosis, memberikan penatalaksanaan yang sesuai, dan mempertimbangkan potensi risiko terjadinya Hidradenitis Suppurativa. Metode:Artikel ini merupakan laporan kasus tentang seorang anak laki-laki berusia 16 tahun datang ke poliklinik RSUD Kabupaten Karanganyar dengan keluhan terdapat benjolan di ketiak kanan dan kiri. Hasil: Pemeriksaan dermatologis seluruh tubuh menunjukkan Papul multiple pada ketiak kanan kiri. Pendekatan pengobatan utama adalah tindakan operatif dengan metode eksisi untuk menghilangkan benjolan. Terapi sistemik juga dapat dipertimbangkan seperti penggunaan antibiotik, analgetik, dan salep kortikosteroid. Kesimpulan: Diagnosis Hidradenitis Suppurativa pada kasus ini ditegakkan berdasarkan anamnesis pasien dan pemeriksaan fisik . Edukasi faktor risiko dan pemilihan obat sesuai keluhan merupakan kunci keberhasilan terapi pada pasien iktiosis lamelar.