Marcellino Mettafortuna Sephberlian
RS Umum Pusat Surakarta

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Seorang Laki-Laki Berusia 38 Tahun dengan Glaukoma Akut Et Causa Hipertensi Emergensi: Laporan Kasus Fashiha Gusli; Febri Retnosari; Marcellino Mettafortuna Sephberlian
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi emergency adalah keadaan gawat medis ditandai dengan tekanan darah sistolik > 180 mmHg dan atau diastolik > 120 mmHg atau keduanya. Hipertensi emergency merupakan suatu keadaan dimana selain tekanan darah yang sangat tinggi terdapat kelainan atau kerusakan organ target yang bersifat progresif. Glaukoma adalah kumpulan kondisi yang terdiri dari neuropati optik progresif kronis, dengan karakteristik gangguan pada jaringan neuroretina dan caput nervus optikus yang mengakibatkan gangguan lapang pandang yang jika tidak diobati akan mengakibatkan kebutaan yang ireversibel. Pada penelitian ini menggunakan metode observasional. Hasil: seorang laki-laki 36 tahun dengan keluhan nyeri mata kiri membengkak tiba-tiba, serta memiliki riwayat hipertensi tidak terkontrol, tekanan darah 204/124 mmHg, tekanan intraokular >40 mmHg. Diagnosis pasien adalah glaukoma akut et causa hipertensi emergency. Tatalaksana yang dilakukan adalah tirah baring, diet gizi seimbang, serta medikamentosa berupa Inf RL 20 tpm, sp nicardipin, candesartan, nifedipin, timolol, prednisolon, atropine, dan glausetron. Kesimpulan: Hipertensi emergency merupakan suatu keadaan hipertensi darurat yang disertai kerusakan organ target, sehingga tekanan darah harus diturunkan segera agar dapat membatasi kerusakan organ yang terjadi.
Seorang Laki-Laki Berusia 53 Tahun dengan Gagal Ginjal Kronis Stadium V: Laporan Kasus Sherly Marchelina; Fadhilah Nurluthfi Sari; Marcellino Mettafortuna Sephberlian
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gagal ginjal kronis adalah gangguan progresif fungsi ginjal yang ditandai dengan adanya penurunan laju filtrasi glomerulus lebih dari tiga bulan. Kondisi ini menjadi masalah kesehatan global karena dampaknya terhadap kualitas hidup pasien dan angka mortalitas yang semakin meningkat dengan penyebab tersering adalah hipertensi. Prevalensi GGK berdasarkan The Global Burden of Disease Study pada tahun 2017, mencapai 9,1% (697,5 juta) dengan peringkat ke-12 dunia penyebab kematian (sekitar 1,2 juta) akibat GGK. Angka ini akan semakin meningkat terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Berdasarkan RISKESDAS tahun 2018, angka kejadian GGK di Indonesia sebesar 0,38% meningkat dari 0,2% dan 60% diantaranya menjalani hemodialisa. Pada penelitian ini menggunakan metode observasional. Hasil : Seorang laki-laki 53 tahun dengan keluhan bengkak pada kedua tungkai kaki dengan diagnosis gagal ginjal kronis stage V. Diagnosis GGK ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Tatalaksana yang diberikan kepada pasien adalah pembatasan konsumsi cairan, pemberian obat diuretik dan rencana hemodialisa. Kesimpulan: Gagal ginjal kronis merupakan masalah kesehatan serius yang mempengaruhi kualitas hidup pasien, sehingga diperlukan upaya pencegahan progresi perburukan fungsi ginjal pada GGK.
Seorang Wanita Berusia 70 Tahun dengan Sirosis Hepatitis Dekompensata et Causa Hepatitis B: Laporan Kasus Febri Retnosari; Fashiha Gusli; Marcellino Mettafortuna Sephberlian
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sirosis hepatis dekompensata merupakan tahap akhir dari kondisi patologis hati. Penyakit ini berkembang secara progresif, ditandai dengan perubahan struktur sel hati berupa fibrosis dan pembentukan nodul regeneratif. Prevalensi sirosis hepatis di dunia diperkirakan mencapai 0,3% dalam French Screening Programme, dengan penyebab utama di sebagian besar dunia ialah konsumsi alkohol dan infeksi virus hepatitis. Di Indonesia, diperkirakan sekitar 20 juta orang menderita hepatitis, dengan prevalensi tertinggi pada hepatitis B. Berdasarkan data dari BPJS Kesehatan, pada tahun 2022, terdapat 2.159 orang meninggal akibat sirosis dan kanker hati, yang merupakan komplikasi dari hepatitis kronis yang sering dialami oleh penderita hepatitis B pada stadium lanjut. Laporan ini menunjukkan pasien Wanita usia 70 tahun dengan kondisi lanjut dari sirosis hepatitis yaitu sirosis hepatitis dekompensata. Hasil dari pemeriksaan fisik abdomen didapati sklera ikterik (+/+), shifting dulness, dan edema tungkai (+/+). Berdasarkan dari pemeriksaan laboratorium, tampak adanya peningkatan fungsi hati, lalu dari pemeriksaan USG didaptkan kesan sirosis hepatis dan ascites. Penaganan diberikan untuk menekan progresifitas dari penyakit, menangani komplikasi dan mencegah kompikasi lainnya.
Seorang Pria Berusia 55 Tahun dengan Hepatitis B: Laporan Kasus Fadhilah Nurluthfi Sari; Sherly Marchelina; Marcellino Mettafortuna Sephberlian
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hepatitis merupakan peradangan sel-sel hati, yang disebabkan karena adanya infeksi, konsumsi obat-obatan, lemak berlebih, alkohol, ataupun penyakit autoimun. Hepatitis B dapat disebabkan karena adanya virus hepatitis B (HBV) dalam tubuh. Gejala hepatitis B dapat berupa simptomatik ataupun asimptomatik yang biasa terjadi pada hepatitis B kronik. Gejala klinis hepatitis B akut biasanya menimbulkan mual, muntah, malaise, dan ikterik yang muncul setelah 1-2 minggu. Prevalensi hepatitis B lebih tinggi dibandingkan dengan hepatitis lainnya dan diperkirakan terdapat 257 juta orang di dunia hidup dengan hepatitis B kronis, di Indonesia prevalensi hepatitis B adalah sebesar 21.8%. Diagnosis dari hepatitis B ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan fisik pada pasien ini didapatkan ikterik pada kedua mata dan badan pasien serta hepatomegali, pada pemeriksaan penunjang didapatkan HBsAg yang positif dan pada pemeriksaan USG didapatkan hasil hepatomegali cenderung hepatitis. Pasien tersebut diberikan tatalaksana berupa tirah baring, diet tinggi energi tinggi protein, dan pemberian obat-obatan simptomatik pada pasien. Kesimpulan pada laporan ini adalah menegaskan pentingnya deteksi dini dan manajemen komprehensif pada pasien hepatitis B akut untuk mencegah perkembangan penyakit. Tatalaksana yang tepat, meliputi terapi suportif dan pola hidup sehat, dapat meningkatkan prognosis dan mendukung pemulihan optimal pada pasien.
Seorang Laki-Laki Berusia 38 Tahun dengan Glaukoma Akut et Causa Hipertensi Emergensi: Laporan Kasus Fashiha Gusli; Febri Retnosari; Marcellino Mettafortuna Sephberlian
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi emergency adalah keadaan gawat medis ditandai dengan tekanan darah sistolik > 180 mmHg dan atau diastolik >120 mmHg atau keduanya. Hipertensi emergency merupakan suatu keadaan dimana selain tekanan darah yang sangat tinggi terdapat kelainan atau kerusakan organ target yang bersifat progresif. Glaukoma adalah kumpulan kondisi yang terdiri dari neuropati optik progresif kronis, dengan karakteristik gangguan pada jaringan neuroretina dan caput nervus optikus yang mengakibatkan gangguan lapang pandang yang jika tidak diobati akan mengakibatkan kebutaan yang ireversibel. Pada penelitian ini menggunakan metode observasional. Hasil: seorang laki-laki 36 tahun dengan keluhan nyeri mata kiri membengkak tiba-tiba, serta memiliki riwayat hipertensi tidak terkontrol, tekanan darah 204/124 mmHg, tekanan intraokular >40 mmHg. Diagnosis pasien adalah glaukoma akut et causa hipertensi emergency. Tatalaksana yang dilakukan adalah tirah baring, diet gizi seimbang, serta medikamentosa berupa Inf RL 20 tpm, sp nicardipin, candesartan, nifedipin, timolol, prednisolon, atropine, dan glausetron. Kesimpulan: Hipertensi emergency merupakan suatu keadaan hipertensi darurat yang disertai kerusakan organ target, sehingga tekanan darah harus diturunkan segera agar dapat membatasi kerusakan organ yang terjadi.