Syblia Khorihati
Universitas Muhammadiyah Surakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Laporan Kasus: Fraktur Tertutup Sepertiga Distal os Humerus Sinistra pada Anak Laki-Laki Usia 13 Tahun Syblia Khorihati; Tresna Angga Basunanda
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fraktur tertutup sepertiga distal os humerus sinistra adalah kondisi di mana terjadi diskontinuitas tulang di bagian distal humerus tanpa adanya luka terbuka. Kasus ini sering terjadi akibat trauma tumpul yang menimbulkan nyeri hebat, keterbatasan pergerakan, dan deformitas pada lengan atas. Laporan ini membahas seorang pasien anak laki-laki berusia 13 tahun yang mengalami fraktur tertutup pada sepertiga distal os humerus kiri. Pemeriksaan awal dilakukan sesuai protokol ATLS untuk menilai kondisi vital pasien dan memastikan tidak adanya komplikasi yang mengancam jiwa. Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan radiografi yang menunjukkan fraktur dengan pergeseran segmen distal tulang humerus ke arah lateral dan tipe spiral. Penatalaksanaan awal mencakup stabilisasi lengan menggunakan spalk untuk mengurangi nyeri dan imobilisasi. Penanganan definitif dilakukan dengan prosedur Open Reduction Internal Fixation (ORIF), menggunakan plate dan screw untuk memperbaiki posisi dan stabilitas tulang. Edukasi diberikan kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya pembatasan aktivitas, perawatan luka operasi, dan kemungkinan komplikasi seperti malunion, infeksi, atau cedera saraf radialis. Kasus ini menyoroti pentingnya pendekatan komprehensif dalam penanganan fraktur distal humerus, melibatkan diagnosis yang tepat, teknik pembedahan yang akurat, serta rehabilitasi pascaoperasi untuk memaksimalkan pemulihan fungsi ekstremitas atas. Fraktur ini memiliki prognosis yang baik jika ditangani dengan metode yang sesuai, meskipun risiko komplikasi tetap perlu diantisipasi.
Laporan Kasus: Karsinoma Ovarium pada Wanita Usia 59 Tahuan Syblia Khorihati; Farid Nurdiansyah
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karsinoma ovarium merupakan salah satu keganasan ginekologi dengan angka mortalitas tinggi akibat gejala awal yang tidak spesifik sehingga sering terdiagnosis pada stadium lanjut, terutama pada wanita postmenopause. Laporan kasus ini bertujuan untuk menggambarkan manifestasi klinis, proses diagnostik, serta tatalaksana karsinoma ovarium pada seorang wanita usia lanjut. Metode yang digunakan adalah laporan kasus deskriptif terhadap seorang wanita usia 59 tahun yang datang dengan keluhan mual dan muntah sejak dua hari sebelum masuk rumah sakit, disertai perut membesar kurang lebih dua bulan, rasa penuh, sesak, cepat kenyang, penurunan nafsu makan, dan badan lemas. Pasien telah menopause sejak 13 tahun sebelumnya. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya massa abdomen, sedangkan pemeriksaan ultrasonografi menemukan massa kistik dengan komponen solid berukuran ±12,9 × 14,9 × 16,5 cm di adnexa kiri. Pasien menjalani tindakan laparotomi dengan total abdominal hysterectomy dan bilateral salpingo-oophorectomy. Hasil pemeriksaan patologi anatomi menunjukkan clear cell carcinoma ovarium kiri dengan metastasis pada cairan asites. Laporan ini menunjukkan bahwa massa ovarium pada wanita postmenopause memiliki risiko tinggi keganasan sehingga memerlukan kewaspadaan klinis. Disimpulkan bahwa diagnosis dini melalui evaluasi klinis dan penunjang yang tepat serta tatalaksana operatif yang adekuat sangat berperan dalam memperbaiki prognosis. Pendekatan multidisiplin dan tindak lanjut berkelanjutan penting untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.