Kemampuan berpikir kritis sangat krusial bagi peserta didik Sekolah Dasar, agar mereka mampu menganalisis informasi secara rasional, bukan sekadar menghafal fakta. Namun, hasil observasi saat kegiatan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) di kelas IVA SD GMIT No. 7 Oebufu menunjukkan kemampuan berpikir kritis peserta didik pada materi perkembangbiakan tumbuhan Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) tergolong sangat rendah. Hal ini tecermin dari data ketuntasan kelas, di mana dari 25 peserta didik, hanya 8 orang (32%) yang mencapai KKTP, sedangkan 17 orang (68%) belum tuntas akibat metode pembelajaran konvensional yang berpusat pada guru (teacher-centered). Penelitian ini bertujuan meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik pada materi tersebut melalui model CTL. Jenis penelitian yang digunakan adalah PTK yang dilaksanakan dalam dua siklus. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi (aktivitas guru dan aktivitas peserta didik) serta tes kemampuan berpikir kritis. Teknik analisis data dilakukan dengan menganalisis hasil observasi aktivitas serta hasil tes secara kuantitatif untuk mengukur nilai ketuntasan individual, rata-rata kelas, dan persentase ketuntasan klasikal. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik yang konsisten. Persentase ketuntasan klasikal peserta didik yang berhasil mencapai KKTP mengalami kenaikan yang signifikan, yaitu dari 64% pada siklus I meningkat menjadi 88% pada siklus II. Selain meningkatkan keterampilan berpikir kritis, implementasi model CTL juga terbukti membantu guru menciptakan suasana kelas yang interaktif, kondusif, dan menyenangkan sehingga mampu meningkatkan antusiasme serta keaktifan belajar peserta didik. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan model CTL sangat efektif dan direkomendasikan sebagai salah satu alternatif strategi pembelajaran IPAS inovatif di Sekolah Dasar.