Kebijakan Work From Home (WFH) yang ditetapkan pemerintah Indonesia mulai April 2026 sebagai respons terhadap gejolak ekonomi global mendorong penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di lingkungan perguruan tinggi, termasuk di Universitas Nusa Cendana. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan persepsi mahasiswa Kelas 4-D Prodi PGSD terhadap pelaksanaan PJJ, mengidentifikasi kendala yang dihadapi, dan menganalisis strategi pembelajaran dosen dalam mendorong keaktifan mahasiswa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan dokumentasi terhadap 15 mahasiswa yang dipilih dengan teknik purposive sampling, kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman (1994) yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi mahasiswa bersifat beragam: mayoritas (10 dari 15) menilai PJJ kurang efektif, terutama untuk aspek praktik keguruan, meskipun 9 mahasiswa mengakui nilai positif berupa fleksibilitas waktu dan tempat. Kendala paling dominan adalah ketidakstabilan jaringan internet (14 dari 15), diikuti kondisi lingkungan belajar di rumah yang kurang kondusif (9 dari 15), dan berkurangnya kualitas interaksi akademik (5 dari 15). Strategi dosen berupa ceramah daring, presentasi kelompok, dan tanya jawab dinilai belum cukup mendorong keaktifan seluruh mahasiswa secara merata. Seluruh informan menyatakan preferensi terhadap pembelajaran tatap muka dan menyarankan penerapan model blended learning sebagai pendekatan yang lebih optimal.