Tuturan makian dalam komunikasi remaja sering dipandang hanya sebagai bentuk bahasa kasar yang melanggar norma kesantunan, padahal penggunaannya memiliki fungsi komunikatif yang beragam sesuai dengan konteks sosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk dan fungsi tuturan makian dalam film Jerman Isi & Ossi melalui kajian sosiopragmatik. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menerapkan teori klasifikasi makian Magnus Ljung dan teori fungsi bahasa Janet Holmes. Data berupa tuturan yang mengandung makian diperoleh melalui teknik simak dan catat terhadap dialog film, kemudian dianalisis melalui proses identifikasi, klasifikasi, dan interpretasi berdasarkan bentuk kebahasaan serta fungsi komunikatifnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan lima kategori tuturan makian, yaitu personal insults, scatological swearing, religious swearing, body-part swearing, dan sexual swearing. Berdasarkan fungsi bahasa, tuturan makian memiliki tiga fungsi utama, yaitu fungsi ekspresif, direktif, dan fatis. Fungsi ekspresif merupakan fungsi yang paling dominan karena sebagian besar makian digunakan untuk mengungkapkan emosi seperti kemarahan, kekecewaan, frustrasi, keterkejutan, dan antusiasme, sedangkan fungsi direktif dan fatis digunakan untuk memengaruhi lawan tutur serta membangun keakraban antartokoh. Dengan demikian, makna tuturan makian tidak dapat dipahami hanya berdasarkan bentuk leksikalnya, tetapi harus mempertimbangkan konteks sosial dan tujuan komunikasi penutur. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian sosiopragmatik, khususnya mengenai penggunaan tuturan makian dalam bahasa Jerman, serta menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya yang mengkaji fenomena serupa pada media maupun konteks komunikasi yang berbeda.