Tri Okviana Rahmawati
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TINJAUAN FILOSOFIS TRADISI SELAMATAN ORANG MENINGGAL DI JAWA DALAM PERSPEKTIF ISLAM Annnisa Wakhidatus Sholihah; Erlin Atifah Azzahrah; Nanda Aulia Putri; Tri Okviana Rahmawati
Vol. 2 No. 1 (2024): Proceeding of International Conference on Cultures & Language 2024 360-373
Publisher :

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/38cc3910

Abstract

Selamatan orang meninggal merupakan salah satu bagian dari budaya Jawa yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat khususnya masyarakat di Jawa. Selamatan orang meninggal merupakan salah satu budaya Jawa yang di dalamnya terdapat unsur-unsur kepercayaan leluhur yang masih melekat kuat dalam masyarakat. Inti dari tradisi selamatan ini adalah kenduri yang dilakukan dengan mengumpulkan masyarakat yang ada dalam satu dusun untuk mendoakan orang yang meninggal dunia agar diterima di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan filosofis tradisi selamatan kematian pada masyarakat Jawa dalam prespektif Islam. Demikian, dengan adanya penelitian ini dapat menunjukkan bagaimana pandangan agama Islam dan cara menilai terhadap keberadaan tradisi selametan kematian di Jawa. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni kualitatif deskripsi dengan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi, serta menggunakan metode trigulasi untuk membandingkan informasi yang didapat dengan cara melihat hasil wawancara hasil observasi dan dokumentasi metode ini digunakan untuk memperoleh kebenaran informasi. Tradisi selamatan yang dilakukan oleh masyarakat meliputi selametan setelah penguburan jenazah atau geblag, tiga hari atau nelung dina, tujuh hari atau mitung dina, empat puluh hari atau matang puluh dina, seratus hari atau nyatus, satu tahun atau mendhak sepisan biasa disebut dengan meling, dua tahun atau mendhak pindo, seribu hari atau nyewu. Pada intinya tradisi selametan orang meninggal di Jawa memiliki tujuh tahapan dan setiap tahapan tersebut memiliki maksud dan tujuan yang sama yaitu untuk memberikan doa kepada orang yang sudah meninggal.
The Diversity of Character Names in the Begalan Tradition in Purbalingga Regency Tri Okviana Rahmawati; Elen Inderasari
Vol. 3 No. 1 (2025): Proceeding of International Conference on Cultures & Languages 2025 521-547
Publisher :

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Purbalingga Regency has a variety of traditions, one of which is still preserved is the Begalan tradition in Banyumasan wedding customs. The Begalan tradition has diverse names of characters and has not been scientifically documented. Therefore, this study aims to determine the diversity of names of characters in the Begalan tradition as well as their contextual and cultural meanings. This study uses a qualitative ethnographic model method with a contextual semantic approach. The data sources in this study are the actors of the Begalan community. Data collection was carried out through interviews, observation, and documentation. Data validity techniques use triangulation of data sources and methods. Data were analyzed using ethnographic analysis methods. The results of this study found 2 types of characters, namely protagonists and antagonists. 4 names of protagonists and 5 names of antagonists were found. The names of the protagonists are Ki Surantani, Jaka Rosa, Ana, and Duta Sura. The names of the antagonists are Joko Lelono, Jaka Sundang, Alif, Suro Dendo, and Suradenta. In the naming of these figures, there are 3 aspects that underlie why they were sent, namely based on orders, duties, and symbols. Contextual and cultural meanings were also found in each character's name. The contextual meanings found were in the form of involvement in the situation/role of the character, the actions of the involvement, and other relevant characteristics of the situation, namely objects in the Begalan tradition. Contextual meanings are dominated by involvement in the situation/role of the character. Meanwhile, the cultural meanings contained in the names of the Begalan traditional figures are quite diverse, namely associated with stories of ancient figures, the character of the Banyumasan wong, the courage of Javanese women, the nature of responsibility of ancient Javanese people, and the religious meanings contained in brenong kepang. Cultural meanings are dominated by stories of ancient figures.