Eneng Malihatunnajiah
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DARI BALOK KAYU KE LAUT LEPAS: TEKNIK DAN RITUAL PEMBUATAN KAPAL NELAYAN BUGIS DAN CIREBON DI KARANGANTU BANTEN Eneng Malihatunnajiah
Vol. 3 No. 1 (2025): Proceeding of International Conference on Cultures & Languages 2025 184-202
Publisher :

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang teknik pembuatan kapal nelayan etnis Cirebon dan Bugis di Karangantu Banten yang dibumbui dengan berbagai ritual selama proses pembuatannya sebagai bagian dari kearifan lokal budaya maritim di Banten. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif melalui observasi langsung, wawancara secara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik pembuatan kapal kedua etnis memiliki karakteristik yang berbeda nan unik, diantaranya perbedaan bentuk, konstruksi, dan ornamen yang merefleksikan identitas budaya masing-masing. Kapal Cirebon umumnya berbentuk oval dengan dua pemecah ombak, dihiasi motif batik Mega Mendung, dan harus melalui proses pembuatan yang lama. Sementara itu, kapal Bugis berbentuk segitiga dengan satu pemecah ombak, minim ornamen, dan mengutamakan kapasitas muat serta ketahanan. Proses pembuatan kapal pada kedua etnis mencakup beberapa tahapan, disertai dengan ritual tradisional yang sarat makna simbolik dan religius, utamanya dalam proses pembuatan kapal Cirebon. Ritual-ritual ini berfungsi sebagai wujud doa keselamatan, penolak bala, peneguhan identitas budaya, dan penguat solidaritas sosial antar anggota komunitas nelayan. Penelitian ini menegaskan bahwa teknik pembuatan kapal dan ritual maritim di Karangantu tidak hanya bernilai fungsional dalam aspek ekonomi, tetapi juga memiliki peran penting dalam pelestarian pengetahuan tradisional dan kearifan lokal maritim Banten
MENAVIGASI DUNIA MAYA: KEARIFAN DEWA RUCI DI ERA KELIMPAHAN INFORMASI Farida Novita Rahmah; Eneng Malihatunnajiah
Vol. 3 No. 2 (2025): Special Issue: Cultural Resilience and Digital Literacy for a Diverse Society 872-885
Publisher :

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kisah Dewa Ruci dalam tradisi wayang Jawa menggambarkan perjalanan spiritual Bima dalam pencarian hikmah tertinggi dan penemuan jati diri. Dalam mistisisme Islam, khususnya tasawuf, perjalanan ini sejalan dengan konsep suluk dalam usaha meraih ma’rifatullah (pengenalan terhadap kebenaran ilahiah). Dewa Ruci dapat dimaknai sebagai perwujudan hikmah dan pencerahan, yang sepadan dengan konsep insan kamil dalam Islam. Di era digital, pencarian makna mengalami transformasi, dengan dunia maya berperan sebagai “samudra baru” yang menyediakan akses tanpa batas terhadap pengetahuan, namun sekaligus menghadirkan tantangan epistemologis seperti banjir informasi, fenomena pascakebenaran (post-truth), dan bias algoritma. Artikel ini menafsirkan kembali narasi Dewa Ruci dalam konteks digital dengan pendekatan hermeneutik dan semiotik, serta menghubungkannya dengan perspektif Islam dalam pencarian ilmu dan kebijaksanaan. Studi ini menemukan bahwa sebagaimana Bima membutuhkan bimbingan Dewa Ruci untuk mencapai pencerahan, individu di era digital juga membutuhkan literasi digital dan pemahaman mendalam tentang Islam untuk menavigasi arus informasi yang melimpah. Dengan demikian, mitologi Nusantara dan nilai-nilai Islam dapat menjadi lensa reflektif bagi masyarakat dalam menghadapi tantangan globalisasi dan digitalisasi.