Dian Mursyidah
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERAN DAN PEMIKIRAN TUAN GURU MUHAMMAD SAMAN BIN H. ABDUL MUHI Mina Zahara; Ali Muzakir; Dian Mursyidah
Vol. 3 No. 2 (2025): Special Issue: Cultural Resilience and Digital Literacy for a Diverse Society 438-457
Publisher :

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji kehidupan dan peran Tuan Guru Muhammad Saman bin H. Abdul Muhi (1911–1987), seorang ulama kharismatik yang berasal dari kawasan Seberang Kota Jambi. Kajian biografi ini bertujuan untuk merekonstruksi perjalanan hidup, kontribusi keilmuan, dan peran sosial keagamaan beliau dalam masyarakat Jambi pada abad ke-20. Penelitian ini membahas tentang seorang tokoh agama yaitu Tuan Guru Muhammad Saman Bin H. Abdul Muhi di Kelurahan Ulu Gedong Kecamatan Danau Teluk Seberang Kota Jambi. Dengan bertujuan ingin meneliti lebih lanjut tentang biografi dari Tuan Guru Muhammad Saman Bin H. Abdul Muhi. Kemudian ingin mengetahui bagaimana peran dan pemikiran Tuan Guru Muhammad Saman Bin H. Abdul Muhi terhadap Madrasah Nurul Iman dan masyrakat sekitaran Pondok. Kemudian ingin mengetahui karya-karya Tuan Guru Muhammad Saman Bin H. Abdul Muhi seperti kitab-kitab yang di tulis oleh Tuan Guru Muhammad Saman Bin H. Metode yang digunakan adalah pendekatan historis-kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, wawancara, dan analisis dokumen, dengan menggunakan metode heuristik dengan melakukan langkah-langkah dalam mengumpulakan data yakni, observasi, wawancara, dokumentasi, verifikasi, interpretasi, historiogrfi. Setelah melakukan tahap tersebut maka didapat berbagai data dari Tuan Guru Muhammad Saman Bin H. Abdul Muhi seperti lahir pada tanggal 10 November 1911, pada usia 7 tahun Tuan Guru Muhammad Saman Bin H. Abdul Muhi menepuh pendidikan di Mekkah, Kitab yang di tulis oleh Tuan Guru Muhammad Saman Bin H. Abdul Muhi Sirojul Abidin yang masih di pakai oleh murid maupun masyarakat Kel. Danau Teluk sampai sekarang. penelitian menunjukkan bahwa Tuan Guru Muhammad Saman tidak hanya dikenal sebagai pengajar ilmu agama yang mendalam, tetapi juga sebagai pemimpin spiritual yang dihormati, tokoh penggerak pendidikan Islam tradisional, serta mediator sosial dalam menyelesaikan berbagai persoalan umat. Warisan keilmuan dan keteladanan moralnya masih dirasakan hingga kini oleh para murid dan komunitas pesantren yang pernah beliau bina. Kajian ini menegaskan pentingnya mendokumentasikan sejarah lokal dan figur ulama sebagai bagian integral dari narasi besar sejarah Islam di Indonesia.
TRANSFORMASI SIKAP MESIR TERHADAP HAK ASASI PEREMPUAN: SEBUAH PERBANDINGAN DENGAN NOVEL IMRA’AH NUQTHAH AL-SHIFR Rosalinda; Nurdin; Dian Mursyidah
Vol. 3 No. 2 (2025): Special Issue: Cultural Resilience and Digital Literacy for a Diverse Society 644-675
Publisher :

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Middle Eastern countries, including Egypt, are among those identified through various surveys as having high levels of discrimination against women's human rights. One of the main contributing factors is the dominant patriarchal system prevailing in Arab nations. However, over time, a transformation in societal attitudes has occurred. This article aims to examine the transformation of Egypt’s stance on human rights, particularly women’s rights, by using the realist novel Imra`ah ‘Inda Nuqṭah Al-Ṣifr, written in 1973 by Egyptian feminist Nawal El Saadawi, as a comparative lens. The novel is considered a realist portrayal of women’s conditions in Egypt at the time. This article is grounded in human rights theories from both Western and Islamic perspectives, as well as feminist theories from prominent feminist figures. Using a qualitative descriptive research method, the study finds that at the time Imra`ah ‘Inda Nuqṭah Al-Ṣifr was written, women in Egypt faced significant discrimination, including political inequality, educational subordination, and limited family rights. However, a shift occurred during Anwar Sadat’s presidency in 1981, when Egypt became one of the Muslim-majority countries that supported international human rights documents, particularly in efforts to eliminate gender-based discrimination. Egypt ratified the Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW), albeit with reservations on articles related to Islamic Sharia as the foundation of family law in Egypt. Under the current leadership of President Abdel Fattah el-Sisi, Egyptian women have gained broader access to education and other rights. Today, it is not uncommon to see Egyptian women driving, going out unaccompanied by their husbands, and spending evenings at cafés smoking shisha. Women have also gained greater political access, with some occupying key positions, such as the Governor of Alexandria. Nonetheless, certain roles, such as the position of ifta’ (Islamic legal opinion), remain largely male-dominated.