Isna Rizqi Nurhikmah
Universitas Muhammadiyah Surakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengembangan Makanan Enteral Tinggi Branched-Chain Amino Acids berbasis Pangan Lokal Labu Kuning dan Ikan Lele untuk Pasien Sirosis Hati Dhea Sadilla Anggraheni; Fitriana Mustikaningrum; Isna Rizqi Nurhikmah; Siti Rahmatun Hasanah; Siti Zulaikhah; Melya Ummunnisa
Proceeding Seminar on Food and Dietetic 2025: Proceeding Seminar on Food and Dietetic
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Malnutrisi sering terjadi pada 20-50% pasien sirosis hati akibat gangguan fungsi hati, penurunan absorpsi nutrisi, dan meningkatnya kebutuhan energi. Pasien juga mengalami penurunan kadar BCAA, yang penting untuk sintesis protein dan fungsi otot, sehingga asupan BCAA melalui makanan enteral sangat diperlukan. Formula enteral kaya BCAA dapat memperbaiki status gizi, mendukung regenerasi hati, dan mencegah komplikasi seperti ensefalopati hepatik. Formula berbahan pangan lokal labu kuning dan ikan lele yang tinggi BCAA dapat menjadi alternatif enteral tinggi BCAA untuk pasien sirosis hati. Metode: Penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan dua perlakuan, kemudian dibandingkan dengan formula enteral komersial (FEK). Parameter yang diuji meliputi daya terima, viskositas, nilai gizi, osmolalitas, daya alir, dan harga. Data daya terima dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis (p<0,05) dan uji Mann-Whitney bila signifikan. Perbedaan viskositas dianalisis dengan uji T-Test (p<0,05), sedangkan osmolalitas, daya alir, dan harga dianalisis secara deskriptif. Hasil: Formula F1 memiliki kandungan energi, protein, karbohidrat, dan densitas lebih tinggi. Formula F2 menunjukkan viskositas berbeda signifikan (p=0,00), aspek gizi tidak berbeda signifikan (p=0,317) dan laju daya alir (0,25 cc/detik pada selang 12 dan 0,4 cc/detik pada selang 14). Osmolalitas F2 sebesar 485 mOsm/kg memenuhi standar formula enteral. Daya terima F1 dan F2 berbeda signifikan dibanding formula komersial (p=0,001). F2 lebih disukai karena proporsi labu kuning dan ikan lele 50% lebih sedikit dibanding F1, serta lebih ekonomis dengan biaya Rp31.219 per sajian. Simpulan: Formula enteral blenderized F2 direkomendasikan untuk pasien sirosis hati karena kandungan gizinya setara formula komersial, dengan viskositas dan osmolalitas sesuai standar formula enteral blenderized. Kombinasi nilai gizi, kualitas fisik, biaya, dan daya terima membuat F2 layak sebagai alternatif formula enteral.
Pengembangan Makanan Enteral Rendah Indeks Glikemik Berbasis Pangan Lokal ENSIDABUCANG (Enteral Subtitusi Daging Ayam, Labu Kuning, dan Kacang Merah) Siti Rahmatun Hasanah; Dyah Intan Puspitasari; Isna Rizqi Nurhikmah; Dhea Sadilla Anggraheni; Siti Zulaikhah; Melya Ummunnisa
Proceeding Seminar on Food and Dietetic 2025: Proceeding Seminar on Food and Dietetic
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Salah satu intervensi gizi bagi pasien yang tidak dapat mencukupi asupan melalui oral adalah pemberian dalam bentuk formula enteral. Formula enteral berbahan pangan lokal, seperti labu kuning, kacang merah, dan daging ayam merupakan alternatif yang bernilai gizi tinggi, terjangkau, mudah didapat, serta mendukung pengendalian glukosa darah. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengembangan dan evaluasi terhadap mutu serta daya terima formula enteral untuk mendukung terapi nutrisi pasien diabetes mellitus secara optimal. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan penyusunan komposisi bahan dan pembuatan formula yang kemudian diuji viskositas, osmolalitas, daya alir, endapan, dan zat gizi, serta biaya yang diperlukan, dan dibandingkan dengan formula enteral komersial (FEK). Hasil: Kandungan zat gizi formula ENSIDABUCANG per sajian yaitu formula 1 (energi 266,12 kkal; protein 13,24 g; lemak 2,92 g; karbohidrat 37,04 g), formula 2 (energi 266,26 kkal; protein 13,22 g; lemak 8,25 g; karbohidrat 36,74 g), formula 3 (energi 267,5 kkal; protein 13,22 g; lemak 8,96 g; karbohidrat 36,86 g) dan FEK (energi 250 kkal; protein 10 g; lemak 7 g; karbohidrat 39 g). Uji daya alir F1 0,06 cc/detik; F2 0,03 cc/detik; F3 0,093 cc/detik; FEK 1,2 cc/detik selang ukuran 12Fr; F1 0,09 cc/detik; F2 0,07 cc/detik, F3 0,154 cc/detik; FEK 2,4 cc/detik selang ukuran 14Fr. Uji viskositas F1 665,7 cP; F2 640,2 cp; F3 492,9 Cp. Osmolalitas F1 544 mOsm/Kg; F2 483 mOsm/kg; F3 498 mOsm/kg; FEK 314 mOsm/kg. Berdasarkan uji daya terima dari F1, F2, F3, dan FEK dari segi warna, rasa, tekstur, dan keseluruhan paling tinggi diperoleh oleh F3, sedangkan dari segi aroma paling tinggi diperoleh F2. Dari segi biaya dalam satu porsi formula enteral ENSIDABUCANG lebih hemat 70% dibanding FEK. Kesimpulan: Formula ENSIDABUCANG memiliki kandungan zat gizi yang sama dengan FEK dengan harga yang lebih hemat 70% dibanding dengan FEK, tetapi dengan osmolalitas yang lebih besar.
Laporan Kasus: Proses Asuhan Gizi Terstandar pada Anak dengan Malignant Neoplasm of Testis Stadium IV Obs Penurunan Kesadaran dd Metastasis Otak, Anemia terkait Keganasan, Obstruksi Saluran Cerna, Trombositopenia, dan Hiponatremia Isna Rizqi Nurhikmah; Dwi Sarbini; Agus Prastowo
Proceeding Seminar on Food and Dietetic 2025: Proceeding Seminar on Food and Dietetic
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kanker testis pada anak merupakan kasus langka, dengan insiden 0,5-2 kasus per 100.000 anak per tahun. Penyakit ini disebabkan oleh testis tidak turun, disgenesis gonad, dan kelaurga yang menderita kanker memiliki risiko terkena kanker 10x lipat. Stadium IV menandakan penyebaran luas ke organ jauh, termasuk otak, yang dapat menyebabkan komplikasi berat seperti obstruksi saluran cerna, anemia, trombositopenia, dan hiponatremia. Pemberian asuhan gizi diharapkan mampu meningkatkan status gizi, mempercepat proses penyembuhan, serta menunjang keberhasilan terapi dan kualitas hidup pasien baik selama maupun setelah menjalani perawatan ongkologi. Penelitian ini dilakukan di RS M Purwokerto pada April 2025 dengan desain deskriptif kualitatif dengan nomor Ethical Clearance : 1.189 / VI / HREC / 2025. Asuhan gizi dilakukan selama empat hari, mencakup pemantauan asupan, parameter biokimia, serta kondisi fisik dan klinis pasien. Pasien menerima diet Tinggi Energi Tinggi Protein (TETP), dengan evaluasi sisa makanan menggunakan metode visual Comstock. Selama pemantuan terjadi peningkatan bertahap asupan energi, protein, lemak, dan karbohidrat, serta vitamin dan mineral utama, meskipun belum memenuhi kebutuhan gizi harian. Asuhan gizi terstruktur berkontribusi secara positif terhadap pemulihan klinis pasien, menekankan pentingnya intervensi gizi individual dalam mendukung penyembuhan dan keberhasilan terapi.