Agus Prastowo
Universitas Muhammadiyah Surakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Proses Asuhan Gizi Terstandar pada Pasien Pre-Post Laparatomi Adhesiolisis dan Reseksi Anastomosis Ileum End to End dengan Riwayat Appendisitis Akut Nur Khofipah; Dwi Sarbini; Agus Prastowo; Farida Nur Isnaeni
Proceeding Seminar on Food and Dietetic 2026: Proceeding Seminar on Food and Dietetic
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Appendisitis perforasi disertai peritonitis generalisata merupakan kondisi kegawatdaruratan pada sistem pencernaan yang dapat menimbulkan peradangan berat intraabdomen, perlengketan usus, serta gangguan fungsi saluran cerna sehingga membutuhkan tindakan operasi berupa laparotomi adhesiolisis reseksi dan anastomosis ileum end to end. Pasien pasca bedah digestif memiliki risiko mengalami gangguan asupan makan, peningkatan kebutuhan energi dan protein, infeksi, ileus, serta malnutrisi akibat proses inflamasi dan stres metabolik pascaoperasi. Dukungan terapi gizi yang adekuat diperlukan untuk membantu mempercepat penyembuhan luka, mempertahankan status gizi, dan mendukung pemulihan fungsi gastrointestinal. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pelaksanaan asuhan gizi pada pasien pasca tindakan laparotomi dengan riwayat appendisitis perforasi peritonitis generalisata. Metode: laporan kasus (case report) dengan pendekatan deskriptif observasional pada satu pasien anak menjalani perawatan di rumah sakit. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik dan klinis, data laboratorium, serta pemantauan asupan makan, kemudian dianalisis berdasarkan langkah proses asuhan gizi terstandar. Hasil: Diagnosis gizi yang ditegakkan meliputi NI-2.1, NC-1.4, NI-5.1. Intervensi gizi diberikan melalui terapi diet TETP dengan tekstur bertahap dari cair jerning hingga tekstur biasa. Monitoring dan evaluasi yang dilakukan meliputi asupan zat gizi, kondisi klinis, fungsi gastrointestinal, dan kemampuan pasien mentoleransi makanan. Setelah dilakukan intervensi gizi, kondisi pasien menunjukkan perbaikan yang ditandai dengan persentase pemenuhan kebutuhan energi dari 47% menjadi 52%, protein dari 53% mejadi 58%, dan karbohidrar dari 54% menjadi 64%, sedangkan asupan lemak menurun dari 58% menjadi 44%. Secara klinis pasien menujukkan perbaikan berupa berkuranngnya nyeri pasca operasi, membaiknya fungsi gastrointestinal, serta pasien mampu mentoleransi peningkatan tekstur makanan dari cair hingga makanan biasa. Kesimpulan: Pada kasus ini, kondisi pasien menunjukkan perbaikan secara bertahap setelah diberikan intervensi. Intervensi gizi yang diberikan telah tercapai dengan baik, meskipun target asupan pasien belum sepenuhnya terpenuhi.