Indonesia faces literacy challenges, according to UNESCO. Non-formal education through Taman Bacaan Masyarakat (TBM) serves as an important alternative for improving literacy, particularly in communities without access to formal education. This study aims to evaluate the effectiveness of the TBM Kejora program at PKBM Marga Yasa, Salatiga, using the CIPP Evaluation Model. The research employs a qualitative approach using the CIPP evaluation model developed by Stufflebeam, comprising Context, Input, Process, and Product. Data were collected through in-depth interviews with principals and tutors, direct observation, and documentation. The evaluation results show that the TBM Kejora program is effective with a vision and mission aligned with community literacy needs (context), supported by complete facilities and quality human resources (input), varied and scheduled activity implementation (process), and produces increased reading interest, life skills, creativity, and learner independence, particularly among disabled and adult groups (product). The TBM Kejora program proves effective as a community empowerment platform through inclusive non-formal education, although it requires the development of digital technology-based services to enhance program accessibility and reach. Abstrak Indonesia menghadapi tantangan literasi menurut UNESCO. Pendidikan non-formal melalui Taman Bacaan Masyarakat (TBM) menjadi alternatif penting untuk meningkatkan literasi, terutama bagi masyarakat yang tidak dapat mengakses pendidikan formal. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas pelaksanaan program TBM Kejora di PKBM Marga Yasa, Salatiga, menggunakan Model Evaluasi CIPP. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan model evaluasi CIPP yang dikembangkan Stufflebeam yang terdiri dari Context, Input, Process, Product. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan kepala sekolah dan tutor, observasi langsung, serta dokumentasi. Hasil evaluasi menunjukkan program TBM Kejora efektif dengan visi-misi yang selaras dengan kebutuhan literasi masyarakat (context), dukungan sarana prasarana lengkap dan sumber daya manusia berkualitas (input), pelaksanaan kegiatan variatif dan terjadwal (process), serta menghasilkan peningkatan minat baca, keterampilan hidup, kreativitas, dan kemandirian peserta didik khususnya kelompok difabel dan dewasa (product). Program TBM Kejora terbukti efektif sebagai wahana pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan non-formal inklusif, meskipun memerlukan pengembangan layanan berbasis teknologi digital untuk meningkatkan aksesibilitas dan jangkauan program. Kata Kunci: evaluasi program; literasi masyarakat; model CIPP; pendidikan non-formal; Taman Bacaan Masyarakat