Tandy Chintya Tanaji
Fakultas Kedokteran, Universitas Trisakti, Jakarta, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

STUDI KASUS: OSTEOCHONDROMA SCAPULA DAN TIBIA FIBULA PADA REMAJA USIA 14 TAHUN Tandy Chintya Tanaji; Firdha Leonita; Partogi Napitupulu; Astien Astien; Revalita Wahab; Mulia Rahmansyah; Gupita Nareswari
Jurnal Akta Trimedika Vol. 2 No. 1 (2025): Januari 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/aktatrimedika.v2i1.21717

Abstract

Multiple Hereditary Exostoses (MHE) is an autosomal dominant inherited genetic condition characterized by multiple exostoses (or osteochondromas). Genetic analysis had identified a certain type of mutated Exostosin genes, can potentially cause exostoses. A 14 years old boy referred to our hospital with a chronic hard palpable lump on his left back and right lower limb in the past 10 years, and was gradually increased in size. Laboratory test which consists of complete blood count, urinalysis, and renal function test were normal. A radiographic examination of the related skeleton demonstrated multiple osteochondromas of scapula and tibia fibula. As a consequence of mutations in the Exostosin 1 and Exostosin 2 genes, chondrocytes exhibiting shortened Heparan Sulfate chains are present in this region. In the later stages, these cells develop exostoses. Multiple Hereditary Exostoses may involve different bone locations and could be diagnosed using various medical imaging modalities, however plain radiography x-ray was already sufficient enough to conclude the abnormality. Sessile lesions were much more common than pedunculated in Multiple Hereditary Exostoses, however Sessile lesions bear a higher risk of malignant transformation into chondrosarcoma. Upon early detection, the prognosis for patients who have chondrosarcoma was favorable. Multiple Hereditary Exostoses is a rare bone disorder marked by the development of non-cancerous tumors near the growth plates of bones. This condition can greatly affect an individual's quality of life, resulting in restricted mobility, skeletal abnormalities, ongoing pain, inhibited growth, and the risk of the exostoses becoming malignant.
SITUS INVERSUS TOTALIS DENGAN ATRESIA INTESTINAL, MALROTASI, DAN VOLVULUS: LAPORAN KASUS Dina Perdanasari; Yulchair Ramli; Tandy Chintya Tanaji; Nur Hajriya Brahmi; Stefani Nindya; Samuel Hotma Rotua
Jurnal Akta Trimedika Vol. 2 No. 4 (2025): Oktober 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/

Abstract

Situs inversus totalis adalah kelainan kongenital langka, yang ditandai dengan transposisi cermin dari organ toraks dan abdomen. Pada laporan ini, terdapat temuan unik yaitu situs inversus totalis disertai atresia jejunum multipel dan malrotasi volvulus intestinal dalam satu pasien. Kombinasi ini sangat jarang ditemui dan publikasi mengenai kasus ini sedikit dijumpai. Seorang bayi laki-laki yang lahir melalui operasi caesar elektif akibat pecah ketuban yang prematur, menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan berupa distensi abdomen bagian atas dan temuan cairan bilious pada aspirasi orogastrik. Pencitraan diagnostik mengungkapkan temuan khas yang konsisten dengan situs inversus totalis dan anomali terkait. Tindakan laparotomi eksplorasi didapatkan temuan malrotasi dengan volvulus usus yang memerlukan intervensi bedah segera, yang menghasilkan kondisi pasca operasi dan grafik tumbuh kembang yang baik dan normal. Diskusi mencakup etiologi, faktor genetik, anomali terkait, dan pertimbangan intervensi bedah, dengan penekanan pada pentingnya mendiagnosis kelainan secara dini, melalui pendekatan multidisiplin, dan intervensi bedah darurat untuk mencapai hasil yang baik dalam kasus kompleks seperti ini.
PEMBERIAN NATRIUM BIKARBONAT SEBELUM HEMODIALISIS PADA PENDERITA GAGAL GINJAL KRONIK DENGAN PH LETAL M. Mahmudy Putra; Nur Hajriya Brahmi; Tandy Chintya Tanaji
Jurnal Akta Trimedika Vol. 3 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/aktatrimedika.v3i3.26676

Abstract

Kondisi pH letal merupakan keadaan gangguan asam basa yang mengancam jiwa. Pasien dengan gagal ginjal kronik terjadi penurunan eksresi H+, HCO3-, NH3 di tubulus proksimal, dan retensi asam organik. Rendahnya kadar bikarbonat tidak dapat menyeimbangkan dalam sistem keseimbangan asam basa (buffer system) yang berakibat pada penurunan pH darah. Selanjutnya terjadi hiperkalemia akibat perpindahkan kalium dari intrasel ke ekstrasel. Gangguan respirasi berupa nafas kusmaul, merupakan bentuk kompensasi dari asidosis metabolik. Laki-laki 59 tahun dengan keluhan sesak disertai dengan WOB, ronki, dan penurunan kesadaran. Pasien terdiagnosis asidosis metabolik, gagal nafas akibat edema paru akut, gagal ginjal kronik, hiperkalemia. Dilakukan intubasi dan ventilator mekanik, lalu diberikan terapi natrium bicarbonate, insulin, calcium glukonas, calcium polystyrene sulfonate, dan natrium zirconium siklosilikat. Setelah dua kali koreksi pasien sadar penuh dan dilanjutkan dengan hemodialisis inisiasi sebanyak tiga kali. Pasien dapat ekstubasi dan pindah ranap biasa. Terapi farmakologis yang tepat dan cepat dapat mencegah kematian sebelum terapi intervensi dilakukan.