Flatfoot (pes planus) pada anak merupakan kondisi umum yang ditandai dengan rendah atau tidak terbentuknya arcus plantaris. Pada masa kanak-kanak awal, kondisi ini umumnya bersifat fisiologis akibat perkembangan arcus plantaris yang belum matur, dan biasanya mengalami perbaikan seiring bertambahnya usia. Namun, pada sebagian anak, flatfoot dapat bersifat persisten atau disertai gejala, yang memerlukan perhatian medis. Tujuan penulisan artikel ini untuk mengulas perkembangan anatomi arcus plantaris, mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya flatfoot, serta menjelaskan indikasi klinis untuk intervensi medis. Penulisan artikel ini menggunakan metode tinjauan pustaka naratif dengan menelusuri literatur ilmiah dari basis data PubMed, Scopus, dan Google Scholar dalam rentang publikasi 10 tahun terakhir. Kata kunci yang digunakan meliputi “flatfoot in children”, “arch development”, dan “pediatric pes planus”. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa perkembangan arcus plantaris dipengaruhi oleh faktor intrinsik (genetik, tonus otot, dan struktur tulang) dan faktor ekstrinsik (kebiasaan berjalan tanpa alas kaki, jenis alas kaki, berat badan, dan aktivitas fisik). Mayoritas kasus bersifat asimptomatik dan membaik secara spontan pada usia 6–10 tahun. Intervensi diperlukan pada kasus dengan nyeri, keterbatasan aktivitas, deformitas progresif, atau adanya kelainan struktural. Pemahaman mengenai mekanisme perkembangan arcus plantaris dan faktor risiko sangat penting bagi tenaga kesehatan dalam menentukan strategi penatalaksanaan yang tepat.