Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

HUBUNGAN ANTARA OSTEOARTRITIS GENU DAN FLEKSIBILITAS PADA LANSIA Shanaz Yulia Maharani; Nuryani Sidarta
JURNAL PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS TRISAKTI Vol. 8 No. 2 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/pdk.v8i2.15983

Abstract

Osteoartritis (OA) dimasukkan World Health Organization (WHO) sebagai salah satu dari banyak permasalahan kesehatan masyarakat yang memiliki prevalensi yang cukup tinggi dalam skala global. Prevalensi kejadian osteoartritis di Indonesia mencapai sekitar 5% pada usia <40 tahun, 30% pada usia 40-60 tahun, dan 65% pada lansia >60 tahun. Osteoartritis genu memegang prevalensi terbesar pada osteoartritis. Diperkirakan pada tahun 2025, prevalensi osteoartritis genu akan meningkat sebanyak 40% dengan bertambahnya populasi lansia. Penurunan fleksibilitas  merupakan keluhan utama yang sering didapatkan pada penderita OA Genu dan sangat mempengaruhi kualitas hidup penderita.  Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan fleksibilitas pada Lansia dengan kejadian Osteoartritis. Penelitian potong lintang ini melibatkan 75 lansia berusia 60-90 tahun yang tinggal di Panti Werdha, Cengkareng.  Sampel dipilih dengan metode consecutive non-random sampling.  Diagnosis OA Genu di ambil dari data di rekam medis  dan pengukuran fleksibilitas dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan Chair Sit and Reach Test. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan SPSS versi 27 dengan uji kemaknaan chi-square p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan 56% lansia memiliki OA Genu dan 60% lansia memiliki kemampuan fleksibilitas yang dinilai kurang baik. Uji analisis menunjukkan adanya hubungan bermakna antara kejadian osteoartritis genu dengan penurunan fleksibilitas (p=0,001). Sesuai dengan hasil yang didapatkan, pengukuran fleksibilitas Lansia penderita OA Genu merupakan salah satu pemeriksaan rutin yang dinilai perlu untuk dilakukan guna meningkatkan kemampuan gerak serta mengurangi resiko jatuh pada Lansia.
LITERATUR REVIEW: PENCEGAHAN CEDERA DAN REHABILITASI PADA PELARI TRAIL Suciana Suciana; Haffafa Fayrooz Djiby; Nuryani Sidarta; Erica Kholinne
Jurnal Akta Trimedika Vol. 1 No. 2 (2024): April 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/aktatrimedika.v1i2.19709

Abstract

Trail running is sports activity that combines two activities, namely mountain climbing and running. Trail running activities are carried out on mountains that have tracks in the form of paths, in the form of ground stones, or a mixture of sand and small rocks. Trail running was first carried out in the United States of America and continues to develop in Indonesia for example Bandung, Probolinggo, Lombok dan Banyuwangi, Which have been associated in the form of ITRA (International Trail Running Association). The majority of trail running injuries occur in the lower legs, especially the knees and ankles. The main mechanisms underlying injury and injury development include inadequate neuromotor control-balance-coordination ,running through fatigue and abnormal kinematics on a variety of terrain. Pre-Rehabilitation programs such as strengthening the kinetic chain consisting of dynamic flexibility, neuromotor strength and balance, plyometrics exercises can encourage stable and also controlled movement on trails. Educating patients about symptoms of early musculoskeletal soreness and training adjustments also proved to help prevent injuries from developing into serious overuse injuries. Regarding to the increasing number of the injury in trail runners, this article was wrote to describe the role of injury prevention and safe training to reduce the risk of injury and also early rehabilitation program for the injured runners. Study by Vincent et all that review the injury prevention, safe training and rehabilitation to return to sport was the main source in the discussion. The review result showed that educating the runners to prevent injury and how to do the safe running shown a positive impact to reduce the numbers of injury. Early rehabilitation program also shown a good impact in promoting healing in injured runners.
EFEK DARI KINESIO TAPING UNTUK PERBAIKAN SENDI SETELAH CEDERA BAHU PADA PEMAIN BASKET Nabila Sri Bintang; Sarah Salsabila Burhan; Nuryani Sidarta
Jurnal Akta Trimedika Vol. 1 No. 4 (2024): Oktober 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/aktatrimedika.v1i4.20816

Abstract

Kinesio Taping merupakan salah satu pilihan modalitas non-operative yang dapat dipakai setelah pasien mengalami penangan kasus cedera pada saat berolahraga. Kinesio Taping adalah pita perekat yang terbuat dari bahan yang fleksibel dan peranannya dapat disesuaikan dengan tarikan yang diberikan oleh klinis. Pada olahraga permainan, salah satunya adalah basket, banyak atlet yang dapat mengalami cedera pada bahu, baik karena kontak langsung atau tidak langsung, terjatuh, atau gerakan overhead yang melebihi ruang lingkup geraknya.  Patofisiologi cedera bahu pada atlet basket melibatkan faktor posisi tubuh, gerakan lengan, kekuatan, kondisi fisik, dan faktor individual.  Kinesio Tapingmemiliki beberapa mekanisme seperti mengurangi rasa sakit karena memiliki Gate Control Theory yang dapat menghambat nociceptor, lalu memfiksasi sendi dengan tarikan tertentu yang diberikan membuat keelastisitasan pita tersebut menjadi lebih kaku sehingga dapat menopang sendi setelah dilakukan fiksasi atau tindakan reduksi terlebih dahulu, kemudian dapat memperlancar aliran limfa karena membentuk ruang antara kulit dan otot sehingga membuat aliran limfa yang diantaranya semakin lancar, dan yang terakhir dapat mengurangi pembengkakan. Pemilihan pita ini sebagai terapi tambahan patut dipertimbangkan karena kita sebagai klinisi dapat mengatur arah dan tujuan penggunaan pita tersebut sehingga lebih efektif dan efisien
OPTIMALISASI PEMULIHAN PASCA MARATHON UNTUK REGENERASI OTOT DAN PERFORMA ATLET Muchammad Edrick Kevin Rhamadian; Muhammad Wildan Effendi; Nuryani Sidarta
Jurnal Akta Trimedika Vol. 2 No. 3 (2025): Juli 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/aktatrimedika.v2i3.22547

Abstract

Lari maraton adalah olahraga populer yang memberikan beban yang tinggi pada tubuh, meningkatkan risiko kerusakan otot, nyeri dan kelelahan apabila tidak dilakukan metode pemulihan dengan baik dan benar. Pemulihan pasca-maraton menjadi kunci dalam regenerasi otot, pencegahan cedera, dan  performa atlet. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi strategi pemulihan yang paling efektif bagi atlet pasca-maraton meliputi pendekatan fisik, metabolik, dan psikis. Hasil menunjukkan bahwa kombinasi nutrisi, hidrasi, dan tidur adalah metode paling efektif untuk pemulihan. Nutrisi, terutama protein dan karbohidrat, mendukung perbaikan jaringan otot, meningkatkan energi, dan mempercepat regenerasi metabolik. Hidrasi berperan penting dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh, mengatur suhu, dan mendukung fungsi neuromuskular. Sementara itu, tidur yang cukup dan berkualitas membantu pemulihan fisik dan mental, mengurangi stres, dan meningkatkan performa keseluruhan. Dibandingkan dengan metode lain seperti krioterapi atau teknik pijat, ketiga strategi pemulihan gaya hidup tersebut  lebih mudah dan bermanfaat serta dapat dipastikan bahwa pemulihan tersebut optimal tanpa risiko efek samping. Dengan penerapan nutrisi, hidrasi, dan tidur yang terintegrasi maka atlet dapat kembali berlatih lebih cepat, mengurangi risiko cedera, dan mempertahankan kesehatan jangka panjang. Penelitian ini memberikan panduan ilmiah bagi atlet dan pelatih untuk memaksimalkan regenerasi otot dan meningkatkan performa melalui pendekatan berbasis bukti. 
HUBUNGAN KARAKTERISTIK GAYA BERSEPEDA DENGAN PENDERITA SKOLIOSIS Nuryani Sidarta; Kezia Ghalyva Syalillam; Mutia Azhara
Jurnal Akta Trimedika Vol. 2 No. 4 (2025): Oktober 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/

Abstract

Skoliosis adalah kelainan tulang belakang yang penyebab paling sering didapatkan akibat kebiasaan kita sehari-hari dalam melakukan kegiatan seperti contohnya posisi duduk dan juga beban yang kita bawa tas kita. Skoliosis dapat mempengaruhi aktivitas fisik, termasuk olahraga, tergantung pada tingkat keparahan kondisi skoliosis. Kurva abnormal pada tulang belakang dapat menyebabkan ketidaknyamanan, nyeri, dan masalah postur, yang dapat menghambat kemampuan beberapa penderita skoliosis mungkin mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas fisik tertentu dan berolahraga. Zaman sekarang bersepeda menjadi salah satu olahraga yang sedang trend dipilih masyarakat Indonesia untuk dilakukan. Selain ergonomis, bersepeda juga mudah untuk digunakan. Dengan pendekatan yang tepat, olahraga tetap bisa menjadi bagian penting dari manajemen skoliosis salah satunya bersepeda. Tujuan penelitian adalah menghubungkan olahraga bersepeda untuk menilai dampak dari gaya bersepeda pada perubahan fisik dan fungsi tubuh penderita skoliosis serta mengidentifikasi gaya bersepeda yang paling efektif dalam memberikan manfaat terapeutik. Strategi pencarian mencakup 3 kombinasi kata kunci berikut: karakteristik, bersepeda, dan skoliosis. Pencarian ini melalui metode kajian pustaka dengan cara mengumpulkan artikel ilmiah yang ditemukan sejumlah 10.600 jurnal yang sesuai dengan kata kunci tersebut, kemudian sebanyak 35 jurnal digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik gaya bersepeda dengan penderita skoliosis mencerminkan bagaimana berbagai teknik bersepeda dapat mempengaruhi kondisi skoliosis. Gaya bersepeda yang melibatkan posisi duduk yang benar dan teknik pengaturan postur dapat membantu mengurangi gejala skoliosis.
MANFAAT BERMAIN GOLF TERHADAP KESEHATAN FISIK DAN MENTAL LANSIA: TINJAUAN PUSTAKA Syahgita Zaki Ghiffari; Fajri Fadhillah Hidayat; Nuryani Sidarta; Xarisa Azalia; Erica Kholinne
Jurnal Akta Trimedika Vol. 2 No. 4 (2025): Oktober 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/

Abstract

Seiring dengan meningkatnya harapan hidup, perhatian terhadap kualitas hidup lansia menjadi semakin penting, terutama dalam hal kesehatan fisik dan mental. Aktivitas fisik teratur diketahui dapat memperlambat proses degeneratif dan meningkatkan kesejahteraan psikologis. Golf adalah bentuk olahraga rekreasi yang melibatkan berjalan, koordinasi motorik, konsentrasi, dan interaksi sosial, sehingga cocok untuk lansia. Penelitian menunjukkan bahwa bermain golf secara teratur dapat meningkatkan kebugaran kardiovaskular, kekuatan otot, keseimbangan, dan fleksibilitas. Secara psikologis, aktivitas ini juga terkait dengan peningkatan mood, pengurangan gejala depresi ringan, peningkatan harga diri, dan perluasan jaringan sosial. Tinjauan literatur ini didasarkan pada studi yang diterbitkan antara tahun 2010–2024 dari basis data seperti PubMed, ScienceDirect, dan sumber-sumber peer-reviewed lainnya. Tujuannya adalah untuk merangkum temuan ilmiah tentang manfaat golf bagi kesehatan fisik dan mental lansia serta mendorong golf sebagai pendekatan promotif dan preventif dalam geriatri.
FLATFOOT PADA ANAK: HUBUNGANNYA DENGAN PERKEMBANGAN ARKUS PLANTARIS DAN INDIKASI INTERVENSI Dian Mediana; Nuryani Sidarta; Nabila Maudy Salma; Lenny Setiawati
Jurnal Akta Trimedika Vol. 2 No. 4 (2025): Oktober 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/

Abstract

Flatfoot (pes planus) pada anak merupakan kondisi umum yang ditandai dengan rendah atau tidak terbentuknya arcus plantaris. Pada masa kanak-kanak awal, kondisi ini umumnya bersifat fisiologis akibat perkembangan arcus plantaris yang belum matur, dan biasanya mengalami perbaikan seiring bertambahnya usia. Namun, pada sebagian anak, flatfoot dapat bersifat persisten atau disertai gejala, yang memerlukan perhatian medis. Tujuan penulisan artikel ini untuk mengulas perkembangan anatomi arcus plantaris, mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya flatfoot, serta menjelaskan indikasi klinis untuk intervensi medis. Penulisan artikel ini menggunakan metode tinjauan pustaka naratif dengan menelusuri literatur ilmiah dari basis data PubMed, Scopus, dan Google Scholar dalam rentang publikasi 10 tahun terakhir. Kata kunci yang digunakan meliputi “flatfoot in children”, “arch development”, dan “pediatric pes planus”. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa perkembangan arcus plantaris dipengaruhi oleh faktor intrinsik (genetik, tonus otot, dan struktur tulang) dan faktor ekstrinsik (kebiasaan berjalan tanpa alas kaki, jenis alas kaki, berat badan, dan aktivitas fisik). Mayoritas kasus bersifat asimptomatik dan membaik secara spontan pada usia 6–10 tahun. Intervensi diperlukan pada kasus dengan nyeri, keterbatasan aktivitas, deformitas progresif, atau adanya kelainan struktural. Pemahaman mengenai mekanisme perkembangan arcus plantaris dan faktor risiko sangat penting bagi tenaga kesehatan dalam menentukan strategi penatalaksanaan yang tepat.
EXERTIONAL HEAT STROKE DALAM AKTIVITAS OLAHRAGA: EVALUASI FAKTOR PENYEBAB, PENATALAKSANAAN, DAN UPAYA PENCEGAHAN: SUATU TINJAUAN PUSTAKA Yudha Hariyadi; Neiyfa Naura; Andi Kurniawan; Nuryani Sidarta; Erica Kholinne
Jurnal Akta Trimedika Vol. 3 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/aktatrimedika.v3i2.26014

Abstract

Heat illness has become an increasing public health concern in the context of global climate change, which has led to a progressive rise in environmental temperatures. One of the most severe forms of heat illness is exertional heat stroke (EHS). EHS is a medical emergency characterized by a core body temperature exceeding 40°C accompanied by central nervous system dysfunction, including altered mental status. This condition commonly occurs in individuals performing high-intensity physical activity, particularly in environments with elevated temperature and humidity. This paper aims to discuss the etiological factors, preventive strategies, and management of EHS. Environmental factors, especially temperature and humidity, play a crucial role in both the development and prevention of EHS. The management of EHS emphasizes rapid and continuous body cooling as the primary intervention, along with airway stabilization, limitation of endogenous heat production, optimization of circulation, and close monitoring and treatment of complications. Rapid reduction of core body temperature remains the most critical determinant in reducing morbidity and mortality. This paper is expected to enhance understanding of early recognition, management, and prevention of exertional heat stroke.