Jason Tan
Program Studi Profesi Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Trisakti, Jakarta, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

BRONKOPNEUMONIA SEBAGAI KOMPLIKASI MORBILI PADA ANAK IMUNISASI TIDAK LENGKAP: LAPORAN KASUS Mega Permata; Rehvynanda Erisca; Rezky Ariska Amnor; Muhammad Fajri Raihan; Ratu Nabila Azzahra; Isabella Nathan; Jason Tan; Dyaz Mutiara Dwilana; Athalia Neva Belinda; Annisa Putri Adrianto; Aisyah Alya Putri; Ade Amelia; Tubagus Ferdi Fadilah
Jurnal Akta Trimedika Vol. 3 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/aktatrimedika.v3i2.24851

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Morbili merupakan penyakit virus menular yang dapat menyebabkan komplikasi serius, terutama pada anak dengan status imunisasi tidak lengkap. Komplikasi seperti bronkopneumonia berkontribusi signifikan terhadap mortalitas terkait morbili. Laporan kasus ini bertujuan menggambarkan manifestasi klinis, diagnosis, dan tatalaksana bronkopneumonia sebagai komplikasi morbili. Deskripsi Kasus: Seorang anak laki-laki berusia 14 bulan dengan riwayat imunisasi tidak lengkap datang dengan demam tinggi persisten selama 5 hari, disertai batuk, pilek, konjungtivitis, dan ruam khas morbili yang muncul secara progresif. Pemeriksaan fisik menunjukkan distres pernapasan sedang dengan takipnea (48 kali/menit), retraksi dinding dada, dan ronkhi halus bilateral. Hasil laboratorium menunjukkan leukopenia (4.500/μL), sementara radiografi toraks mengkonfirmasi bronkopneumonia. Pasien diterapi dengan oksigenasi, antibiotik intravena, suplementasi vitamin A dosis tinggi, dan perawatan suportif. Kondisi klinis membaik secara signifikan setelah 6 hari perawatan. Diskusi: Kasus ini menunjukkan presentasi klasik morbili yang terkomplikasi bronkopneumonia pada anak dengan status imunisasi tidak lengkap. Patofisiologinya melibatkan kerusakan langsung epitel respiratorius oleh virus morbili, imunosupresi yang memfasilitasi infeksi sekunder, dan respon inflamasi berlebihan. Faktor risiko komplikasi meliputi imunisasi tidak lengkap, usia di bawah 5 tahun, dan paparan asap rokok pasif. Tatalaksana meliputi terapi suportif, antibiotik untuk infeksi bakteri sekunder, dan suplementasi vitamin A dosis tinggi. Kesimpulan: Bronkopneumonia pada morbili berpotensi fatal namun dapat ditatalaksana dengan baik melalui pendekatan komprehensif meliputi antibiotik, vitamin A, dan terapi suportif. Kasus ini menekankan pentingnya imunisasi lengkap sebagai strategi pencegahan primer dalam mengurangi risiko komplikasi serius morbili.