p-Index From 2021 - 2026
0.562
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Akta Trimedika
Ronald Irwanto Natadidjaja
Fakultas Kedokteran, Universitas Trisakti, Jakarta, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KORELASI ANTARA KADAR HEMOGLOBIN A1C DENGAN ESTIMATED GLOMERULAR FILTRATION RATE PADA DEWASA Bisma Narendra Tama; Ronald Irwanto Natadidjaja
Jurnal Akta Trimedika Vol. 3 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/aktatrimedika.v3i3.26426

Abstract

Glycated hemoglobin has been considered an indicator of long-term glycemic control that may be associated with renal function; however, previous studies investigating its relationship with estimated glomerular filtration rate in adult populations have reported inconsistent findings. This study aimed to analyze the correlation between glycated hemoglobin levels and estimated glomerular filtration rate in adults. An observational analytic study with a cross-sectional design was conducted at Soehadi Prijonegoro Regional General Hospital from October to November 2025. A total of 56 adult subjects aged over 18 years who met the inclusion and exclusion criteria were analyzed using secondary data obtained from medical records. Glycated hemoglobin levels and serum creatinine were collected to calculate estimated glomerular filtration rate using the 2021 Chronic Kidney Disease Epidemiology Collaboration equation without a race component. Correlation analysis was performed using the Spearman test with a significance level of less than 0.05. The study subjects consisted of 29 males and 27 females with a median age of 53 years. The median glycated hemoglobin level was higher in females than in males, while the median estimated glomerular filtration rate was slightly higher in males than in females. Spearman correlation analysis showed a very weak negative correlation that was not statistically significant between glycated hemoglobin and estimated glomerular filtration rate. This study concludes that there is no significant association between glycated hemoglobin levels and renal function in adults with relatively normal kidney function.
HEMATOKRIT DAN LEUKOSIT TIDAK BERKORELASI PADA FASE KRITIKAL DEMAM BERDARAH Agatha Evelyna Candra Widianti; Ronald Irwanto Natadidjaja
Jurnal Akta Trimedika Vol. 3 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/aktatrimedika.v3i3.26430

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) dapat menyebabkan terjadinya kebocoran plasma pada awal fase kritikal yang termanifestasi dengan peningkatan kadar hematokrit dan penurunan jumlah leukosit. Tidak ditemukan hubungan yang konsisten antara kedua parameter hematologis ini, sehingga perlu dilakukan penelitian pendahuluan untuk melihat apakah terdapat korelasi antara hematokrit dengan leukosit pada DBD. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan melihat korelasi antara kadar hematokrit dan jumlah leukosit pada pasien DBD di awal fase kritikal. Penelitian observasional analitik dengan desain potong lintang dan dilakukan di RSUD Budhi Asih Jakarta Timur pada November 2025. Sampel diambil secara consecutive non-random sampling dari rekam medis pasien DBD yang dirawat inap dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman untuk menguji hubungan antara kedua variabel. Dari 102 subjek, median hematokrit 40% (rentang 30–56%) dan median leukosit 3.000/mm³ (rentang 1.300–14.000/mm³). Uji korelasi Spearman menunjukkan koefisien korelasi r = 0,19 dengan nilai p = 0,056, yang mengindikasikan tidak terdapat korelasi antara hematokrit dan jumlah leukosit pada awal fase kritikal DBD. Studi lanjutan perlu dilakukan dengan pemantauan hematokrit dan leukosit secara serial dengan ukuran sampel lebih besar untuk mengonfirmasi hubungan sebab-akibat dan pola perubahan keduanya. Selain itu pengendalian faktor perancu juga perlu dilakukan untuk meningkatkan kekuatan korelasi.
KORELASI ANTARA KADAR ASAM URAT DENGAN KREATININ PADA USIA PRODUKTIF Shafa Aulia Ramdhany; Ronald Irwanto Natadidjaja
Jurnal Akta Trimedika Vol. 3 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/aktatrimedika.v3i3.26433

Abstract

Usia produktif merupakan kelompok usia yang memiliki peran penting dalam aktivitas ekonomi dan sosial, namun rentan terhadap gangguan metabolik akibat pola hidup tidak sehat. Peningkatan kadar asam urat diketahui dapat memengaruhi fungsi ginjal melalui berbagai mekanisme, sedangkan kreatinin digunakan sebagai indikator fungsi filtrasi ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara kadar asam urat dan kadar kreatinin pada usia produktif. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan potong lintang. Data diperoleh dari rekam medis pasien rawat jalan yang menjalani pemeriksaan kadar asam urat dan kreatinin di RSUD Budhi Asih Jakarta pada periode Juli 2023 hingga Maret 2025. Jumlah sampel sebanyak 55 subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Uji normalitas menunjukkan data tidak berdistribusi normal sehingga analisis korelasi dilakukan menggunakan uji Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar subjek berada pada kelompok usia 50–64 tahun dan memiliki kadar asam urat serta kreatinin dalam rentang normal, meskipun proporsi kadar tinggi masih cukup signifikan. Analisis korelasi Spearman menunjukkan koefisien korelasi (r = 0,113) dengan nilai signifikansi (p = 0,411), yang menandakan hubungan positif sangat lemah dan tidak bermakna secara statistik antara kadar asam urat dan kreatinin. Hasil ini menunjukkan bahwa pada kelompok usia produktif, peningkatan kadar asam urat tidak selalu disertai dengan peningkatan kadar kreatinin. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat korelasi yang bermakna antara kadar asam urat dan kreatinin pada usia produktif dalam penelitian ini.